Akurat Logo

Kemenkes Kembali Kirim Tenaga Kesehatan ke NTT, Perkuat Pemulihan Psikososial

Ayu Rachmaningtyas | 8 September 2026, 10:10 WIB
Kemenkes Kembali Kirim Tenaga Kesehatan ke NTT, Perkuat Pemulihan Psikososial
Kemenkes kirim lagi tenaga kesehatan ke NTT. - Foto: Kemenkes

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan kembali mengirimkan 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2, yang diberangkatkan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).

Hal ini dimaksudkan untuk mendukung pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, mengatakan, penugasan TCK Batch 2 kali ini diarahkan untuk memperkuat layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat di wilayah terdampak.

Para tenaga kesehatan tersebut ditempatkan di empat kabupaten, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

"Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial. Bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores," jelas Sumarjaya, melalui keterangannya, Selasa (8/9/2026).

Baca Juga: Kemenkes Siapkan Rumah Sakit Lapangan di Ruteng, Dilengkapi Ruang Operasi dan 100 Tempat Tidur

Menurutnya, pengiriman TCK Batch 2 merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes pada tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah diberangkatkan untuk membantu pelayanan kesehatan masyarakat terdampak gempa.

Pada penugasan tahap kedua, tenaga kesehatan akan memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit lapangan.

Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang turut mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terdampak, yaitu di Ruteng dan Ngada.

Selain penanganan medis, TCK juga memberikan dukungan psikososial, khususnya kepada anak-anak dan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.

Sumarjaya mengatakan, dampak bencana tidak hanya menimbulkan persoalan kesehatan fisik, seperti patah tulang dan luka, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat akibat kehilangan harta benda maupun pengalaman menghadapi bencana.

Baca Juga: Kejar Target Usia Hidup 76 Tahun, Kemenkes Mulai Fokus Obati Tiga Penyakit Ini Lewat CKG

"Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial. Bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak," ujarnya.

Kemenkes turut memperkuat surveilans kesehatan di wilayah terdampak untuk memantau dan mengidentifikasi potensi penyakit menular.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) dan wabah pascabencana.

"Tim kita surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah," jelas Sumarjaya.

Kemenkes terus memastikan dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT tetap berjalan. Baik melalui penguatan tenaga kesehatan maupun dukungan terhadap pemulihan kesehatan fisik dan psikologis masyarakat.

Baca Juga: Tekan Krisis Kesehatan Mental Anak, Kemenkes Luncurkan Buku Pertolongan Luka Psikologis

Sementara itu, Dokter Umum TCK, Shaldy Syifa Azzahri, mengatakan, persiapan sebelum menjalankan tugas dilakukan dengan membawa peralatan dan bahan kesehatan yang dibutuhkan untuk membantu pemulihan masyarakat.

Selain kesiapan perbekalan, tenaga kesehatan juga perlu memastikan kondisi fisik dan mental sebelum bertugas.

"Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain," jelasnya.

Shaldy menilai pelayanan pascagempa tidak hanya berfokus pada pemulihan kondisi fisik. Setelah beberapa pekan berlalu sejak bencana, dukungan terhadap kondisi psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

"Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kita harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kita membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka," ujarnya.

Baca Juga: 26 Juta Warga Indonesia Hidup dengan Diabetes, Kemenkes Perkuat Skrining Retina

Senada, Dokter Umum TCK asal Padang, Rayhendra Hanif, mengaku mempersiapkan kondisi mental dan perbekalan pribadi. Termasuk obat-obatan yang dibutuhkan selama menjalankan penugasan.

Ia juga terdorong untuk bergabung sebagai TCK karena memiliki pengalaman menghadapi bencana gempa.

Rayhendra pernah mengalami gempa di Padang pada 2009 ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut membuatnya tergerak untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat yang mengalami kondisi serupa.

"Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi, hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa," katanya.

Dalam pelaksanaannya, penugasan TCK mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan penggantian personel.

Baca Juga: Kemenkes Tarik Investasi Raksasa Pabrik Plasma dan Vaksin, Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Penempatan tenaga kesehatan juga menyesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain mendukung layanan psikososial, TCK juga membantu perawatan pasien pascaoperasi.

Sebelumnya, Kemenkes telah mengerahkan dokter spesialis, termasuk spesialis ortopedi dan bedah, untuk menangani pasien yang membutuhkan tindakan operasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.