Demi Rp770 Miliar per Tahun, Nauru Rela Terima Imigran dari Australia

AKURAT.CO Pemerintah Australia resmi menandatangani kesepakatan dengan negara kecil di Pasifik, Nauru, untuk menampung ratusan imigran yang tidak memiliki hak hukum tinggal di Negeri Kanguru.
Menurut pernyataan resmi pada Jumat (30/8), Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, menandatangani nota kesepahaman (MoU) saat kunjungan ke Nauru. Kesepakatan ini mencakup lebih dari 220 imigran di Australia, termasuk beberapa yang terlibat kasus kejahatan berat.
Isi Kesepakatan Australia–Nauru
Dalam MoU itu, Nauru setuju memberikan tempat tinggal jangka panjang dan perlakuan yang layak bagi imigran. Sebagai imbalannya, Australia akan menyediakan dana besar untuk menopang program ini sekaligus memperkuat ekonomi Nauru.
Pemerintah tidak mengungkap angka pastinya, namun laporan Sydney Morning Herald menyebut Australia akan membayar sekitar AUS$408 juta (US$267 juta) di awal, serta tambahan sekitar AUS$70 juta per tahun setelahnya.
Burke menegaskan kebijakan imigrasi Australia harus tegas:
“Siapa pun yang tidak memiliki visa sah harus meninggalkan negara ini. Itu adalah prinsip dasar dari sistem visa yang berfungsi.”
Latar Belakang Kebijakan
Kesepakatan ini muncul setelah putusan Mahkamah Tinggi Australia pada 2023 yang menyatakan penahanan tanpa batas waktu terhadap imigran ilegal adalah melanggar hukum, terutama jika deportasi tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, lebih dari 220 orang yang sebelumnya ditahan akhirnya dibebaskan.
Kini, jumlah imigran dalam kondisi serupa sudah bertambah menjadi lebih dari 350 orang. Australia pun mencari solusi, salah satunya lewat pemindahan ke Nauru.
Bulan Februari lalu, pemerintah Australia bahkan sudah membayar Nauru untuk menerima tiga imigran terpidana kasus kekerasan. Namun, prosesnya tertunda karena gugatan hukum.
Tentang Nauru
Nauru adalah negara kecil dengan populasi sekitar 12.500 jiwa dan luas wilayah hanya 20 km², menjadikannya salah satu negara terkecil di dunia.
Meski pernah kaya raya berkat cadangan fosfat murni yang diekspor sebagai pupuk, sumber daya itu kini habis. Akibatnya, sekitar 80 persen wilayah Nauru rusak dan tak layak huni. Negara ini juga menghadapi tantangan besar berupa pengangguran tinggi, masalah kesehatan, serta ancaman perubahan iklim.
Tahun lalu, Australia dan Nauru sudah menandatangani kerja sama di bidang keamanan maritim, pertahanan, dan kepolisian. Kesepakatan terbaru soal imigran ini semakin menegaskan ketergantungan ekonomi Nauru pada dukungan dari Australia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






