PBB Peringatkan Ledakan Perdagangan Manusia untuk Judi dan Penipuan Online, Korban dari 80 Negara Terjebak Sindikat Scam Asia

AKURAT.CO Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa jaringan kriminal internasional kini semakin masif memperdagangkan manusia untuk dipekerjakan secara paksa di pusat-pusat penipuan online (online scam centers). Korbannya mencapai ratusan ribu orang dari lebih dari 80 negara.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan tren perdagangan manusia untuk industri penipuan digital terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak korban merupakan lulusan perguruan tinggi yang fasih berbahasa Inggris dan direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu di media sosial.
"Kasus seperti ini terus bermunculan dalam jumlah yang jauh lebih besar. Kami melihat korban dari lebih dari 80 negara diperdagangkan untuk bekerja di pusat-pusat penipuan online," kata Pope kepada wartawan di Jenewa, Selasa.
Menurut Pope, para pelaku sengaja memburu orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dan latar belakang pendidikan tinggi agar lebih mudah menjalankan operasi penipuan yang menyasar korban dari berbagai negara.
"Mereka merekrut orang-orang yang umumnya fasih berbahasa Inggris, memiliki gelar sarjana atau tingkat pendidikan yang tinggi. Fenomena ini terutama terjadi di kawasan Asia," ujarnya.
Dijebak Lowongan Kerja Palsu
IOM menjelaskan para korban umumnya tergiur tawaran pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri yang beredar melalui media sosial maupun platform pencari kerja. Namun, setelah tiba di negara tujuan, mereka justru disekap oleh sindikat kriminal.
Dokumen identitas para korban disita, kebebasan mereka dibatasi, dan dipaksa menjalankan aksi penipuan online melalui ancaman kekerasan, intimidasi, hingga jeratan utang atau debt bondage. Kondisi tersebut membuat korban sulit melarikan diri meski ingin keluar dari jaringan tersebut.
Kerugian Capai USD114 Miliar
IOM mengutip estimasi Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) yang menyebut kerugian akibat penipuan online di Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru mencapai USD114 miliar sepanjang tahun lalu.
Lembaga tersebut juga memperkirakan kompleks-kompleks penipuan online yang beroperasi di berbagai negara Asia menampung ratusan ribu pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia.
Ribuan Korban Sudah Diselamatkan
Sepanjang periode 2022 hingga 2025, IOM telah membantu lebih dari 3.500 korban yang dipaksa terlibat dalam aktivitas kriminal tersebut.
Korban berasal dari hampir 40 negara, dengan jumlah terbanyak berasal dari Indonesia, India, Sri Lanka, Ethiopia, Kenya, dan Bangladesh.
IOM mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tawaran pekerjaan luar negeri yang menjanjikan gaji tinggi tanpa proses rekrutmen yang jelas. Organisasi itu menilai sindikat perdagangan manusia kini semakin memanfaatkan media sosial untuk menjaring korban baru di berbagai belahan dunia.
Sumber: PBS
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK




