Usai Insiden Australia, Iran Panggil Kembali Timnas Putri untuk Syuting Dokumenter

AKURAT.CO Lima bulan setelah sejumlah pesepak bola putri Iran mengajukan suaka di Australia, Federasi Sepak Bola Iran kembali memanggil skuad nasional ke pemusatan latihan. Namun, agenda utamanya bukan latihan, melainkan pembuatan film dokumenter mengenai perjalanan tim di Piala Asia Putri AFC.
Keputusan tersebut memicu kontroversi karena beberapa pemain yang ingin direkam adalah mereka yang sempat kembali ke Iran setelah mendapat tekanan terhadap keluarga mereka.
Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Iran bidang sepak bola putri, Farideh Shojaei, mengonfirmasi bahwa dokumenter itu akan diproduksi selama pemusatan latihan. Menurutnya, proyek tersebut bertujuan melengkapi arsip turnamen sekaligus mendokumentasikan sejarah sepak bola putri Iran.
Namun media Iran Football 360 melaporkan proyek itu sebenarnya berasal dari lembaga di luar federasi sepak bola. Sebagian besar pemain yang pulang dari Australia disebut enggan menceritakan kembali pengalaman mereka di depan kamera resmi.
Pemusatan latihan dinilai janggal
Pemusatan latihan ini bahkan membuat kompetisi Liga Utama Putri Iran mundur selama satu pekan. Penjelasan federasi mengenai alasan penyelenggaraannya juga dinilai tidak konsisten.
Saat para pelatih klub memprotes jadwal tersebut, Shojaei disebut menyatakan bahwa para pemain tidak akan menjalani beban latihan karena fokus kegiatan hanyalah pengambilan gambar dokumenter.
Namun belakangan ia menyebut pemusatan latihan digelar atas permintaan pelatih tim nasional, Marzieh Jafari, sebagai bagian dari persiapan skuad.
Pernyataan itu dipertanyakan karena Jafari saat ini tidak memiliki kontrak aktif dengan federasi. Ia masih menjabat sebagai pelatih klub Khatoon Bam, tim yang menjadi tulang punggung skuad nasional dan baru menyelesaikan babak kualifikasi Liga Champions Asia Putri.
Narasi resmi pemerintah Iran
Dokumenter tersebut diproduksi beberapa bulan setelah pemerintah Iran menyampaikan versinya sendiri mengenai insiden di Australia.
Pada hari-hari terakhir turnamen, Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj menuduh kepolisian Australia memisahkan delegasi putra dan putri serta menekan para pemain agar tetap tinggal dan mengajukan suaka.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, bahkan menuduh pemerintah Australia telah “menyandera anggota tim nasional” dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi.
Di sisi lain, seorang petinggi klub mengungkap bahwa penggalangan dana dilakukan di lingkungan sepak bola Iran untuk membujuk para pemain agar kembali ke tanah air.
Direktur Utama Chadormalou Ardakan, Alireza Babaei, mengatakan Sekretaris Jenderal Federasi, Hedayat Mombeini, meminta klubnya menyumbang 30 miliar rial atau sekitar USD15.000 bagi tim nasional putri, meski Chadormalou tidak memiliki tim sepak bola putri.
Menurut Babaei, Mombeini juga menyebut kontribusi 50 miliar rial dari klub Gol Gohar serta meminta dukungan Sepahan Isfahan, klub yang saat itu tengah menghadapi dampak krisis industri baja akibat perang.
Sumber: Iranintl
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK




