Kanada Resmi Ajukan Bergabung dengan Aliansi Militer JEF, Perkuat Kemitraan Pertahanan dengan Inggris

AKURAT.CO Kanada resmi mengajukan permohonan untuk bergabung dengan Joint Expeditionary Force (JEF), aliansi militer yang dipimpin Inggris, sebagai langkah mempererat kerja sama pertahanan dengan Inggris dan negara-negara Eropa Utara. Keputusan tersebut diumumkan setelah pertemuan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dengan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham di Inggris.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu (16/9/2026), Kantor Perdana Menteri Kanada menyebut Carney telah mengajukan aplikasi resmi untuk menjadi anggota JEF dan menyambut dukungan Inggris terhadap partisipasi Kanada dalam inisiatif pertahanan tersebut.
Pertemuan kedua pemimpin turut menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan pertahanan yang telah terjalin lama antara Ottawa dan London, di tengah meningkatnya perhatian terhadap stabilitas keamanan kawasan Eropa dan Atlantik Utara.
Kanada Bidik Keanggotaan di Aliansi Respons Cepat
Joint Expeditionary Force merupakan koalisi pertahanan multinasional yang dirancang untuk memberikan respons cepat terhadap berbagai krisis keamanan. Saat ini aliansi tersebut beranggotakan Inggris bersama Denmark, Estonia, Finlandia, Islandia, Latvia, Lithuania, Belanda, Norwegia, dan Swedia.
Apabila permohonan Kanada disetujui, negara itu akan memperluas perannya dalam kerja sama keamanan dengan sepuluh negara anggota JEF sekaligus memperkuat koordinasi militer dengan mitra-mitra Eropa.
Kerja Sama Pesawat Tempur dan Teknologi AI
Selain membahas JEF, Carney dan Burnham juga mengeksplorasi peluang kolaborasi industri pertahanan melalui Global Combat Air Programme (GCAP). Kanada diketahui telah bergabung sebagai negara pengamat dalam proyek pengembangan pesawat tempur generasi berikutnya tersebut sejak Juli 2026.
Pemerintah Inggris menyatakan Burnham menyambut bergabungnya Kanada sebagai negara pengamat pertama dalam GCAP, yang dinilai membuka peluang kemitraan teknologi pertahanan yang lebih erat di masa mendatang.
Di luar isu militer, kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI). Downing Street menyebut keduanya sepakat bahwa pemerintah dan sektor teknologi perlu bekerja sama untuk mengatasi tantangan bersama, termasuk meningkatkan keamanan daring dan melindungi masyarakat dari risiko yang muncul di ruang digital.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








