Akurat Logo

Dampak Abu Vulkanik untuk Anak-Anak dan Ibu Hamil, Ini Cara Mencegahnya

Nurma Nafisa Faradilla | 7 September 2026, 14:00 WIB
Dampak Abu Vulkanik untuk Anak-Anak dan Ibu Hamil, Ini Cara Mencegahnya
Ilustrasi anak-anak dan ibu hamil terdampak abu vulkanik. - OpenAi

AKURAT.CO Erupsi Gunung Anak Krakatau yang disertai sebaran abu vulkanik perlu menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil yang termasuk kelompok rentan. Abu vulkanik mengandung partikel debu halus dan material silika yang dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, hingga kulit.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik dengan menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar rumah, serta menjaga agar debu tidak masuk ke dalam ruangan. Langkah perlindungan menjadi penting selama sebaran abu masih terjadi di sejumlah wilayah.

Dampak Abu Vulkanik untuk Anak-Anak dan Ibu Hamil

Baca Juga: Sebelum Keluar Rumah, Cek Kualitas Udara Lewat HP dengan AirVisual

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel halus yang terbawa udara dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, sementara paparan langsung juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Anak-anak dan ibu hamil termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara terganggu akibat sebaran abu vulkanik. Dalam imbauannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor juga memasukkan bayi, lansia, serta masyarakat dengan penyakit jantung dan paru-paru kronis sebagai kelompok rentan.

1. Mengganggu saluran pernapasan

Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan batuk, sesak napas dan iritasi tenggorokan. Pada orang yang memiliki gangguan pernapasan, paparan abu juga berpotensi memperburuk kondisi yang sudah ada.

Pada anak-anak, orang tua perlu memperhatikan munculnya keluhan seperti batuk atau kesulitan bernapas setelah berada di area yang terpapar abu. Aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi ketika sebaran abu masih berlangsung.

2. Menyebabkan iritasi mata

Partikel abu vulkanik yang masuk ke mata dapat membuat mata merah, perih, berair, atau terasa seperti kemasukan benda asing.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat tidak mengucek mata ketika mengalami iritasi. Mata dapat dibilas menggunakan air bersih yang mengalir untuk membantu menghilangkan partikel abu.

Penggunaan kacamata pelindung juga dapat membantu mengurangi paparan langsung. Masyarakat yang menggunakan lensa kontak disarankan menghindarinya selama kondisi berdebu untuk mengurangi risiko iritasi.

3. Menimbulkan iritasi kulit

Abu vulkanik yang mengenai kulit dapat menyebabkan rasa gatal dan kemerahan, terutama pada bagian tubuh yang terpapar langsung.

Anak-anak yang bermain di luar rumah ketika abu vulkanik masih menyebar sebaiknya dibatasi. Setelah berada di luar, tubuh dan pakaian yang terkena abu juga perlu dibersihkan agar paparan tidak berlanjut.

4. Perlu perhatian bagi ibu hamil

Ibu hamil termasuk kelompok yang disebut perlu mendapat perhatian khusus saat terjadi sebaran abu vulkanik. Karena itu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi selama kondisi udara masih dipengaruhi abu.

Jika ibu hamil mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar abu, terutama gangguan pernapasan atau gejala yang semakin berat, sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis.

Cara Melindungi Anak-Anak dan Ibu Hamil dari Abu Vulkanik

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Gunakan masker saat keluar rumah

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyarankan penggunaan masker, terutama masker N95 atau setidaknya masker medis dua lapis ketika beraktivitas di luar ruangan.

Untuk anak-anak, orang tua perlu memastikan masker digunakan dengan benar dan sesuai ukuran agar dapat memberikan perlindungan yang lebih baik.

Baca Juga: Wilayah Terdampak Abu Vulkanik Hari Ini 7 September 2026 Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau, Cek Daftarnya

Kurangi aktivitas di luar rumah

Jika tidak ada keperluan mendesak, anak-anak dan ibu hamil sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah selama sebaran abu masih terjadi.

Aktivitas seperti bermain di luar, berolahraga, atau bepergian yang tidak mendesak dapat ditunda hingga kondisi udara lebih aman.

Tutup pintu, jendela dan ventilasi

Abu vulkanik juga dapat masuk ke dalam rumah melalui celah, jendela, maupun ventilasi. Karena itu, pintu, jendela, dan ventilasi rumah sebaiknya ditutup selama abu masih menyebar.

Langkah ini membantu mengurangi jumlah debu vulkanik yang masuk dan terhirup oleh penghuni rumah.

Lindungi mata

Gunakan kacamata pelindung ketika harus berada di luar rumah. Hindari mengucek mata apabila terasa perih atau mengganjal.

Jika mata terkena abu, bilas dengan air bersih yang mengalir.

Pastikan air dan makanan tetap bersih

Endapan abu juga perlu diperhatikan pada sumber air dan tempat penampungan air. Tempat penampungan sebaiknya ditutup untuk mencegah masuknya abu.

Buah dan sayuran juga harus dicuci hingga bersih sebelum dikonsumsi.

Gunakan perlindungan saat berkendara

Bagi masyarakat yang harus mengendarai sepeda motor, gunakan helm dengan kaca pelindung atau kacamata serta masker. Perlindungan tersebut dapat membantu mengurangi paparan abu pada mata dan saluran pernapasan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Muncul Keluhan?

Masyarakat dengan asma, penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK, maupun gangguan jantung diimbau menyiapkan obat-obatan yang biasa digunakan.

Jika gejala kesehatan semakin memburuk setelah terpapar abu vulkanik, segera cari pertolongan medis. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak setelah berada di lingkungan yang terkena abu.

Untuk ibu hamil, keluhan yang muncul setelah paparan abu sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika disertai gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan yang memburuk.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Perlu Diwaspadai

Berdasarkan informasi dari Instagram resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga.

Sebaran abu vulkanik dapat mengganggu kualitas udara dan menimbulkan masalah kesehatan apabila terhirup atau mengenai mata dan kulit. Karena itu, perlindungan terhadap kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru perlu menjadi perhatian selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.

Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Terasa, Ini Daftar Bandara yang Ditutup Sementara Hari Ini

FAQ

Apa masker yang disarankan saat ada abu vulkanik?

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyarankan masker N95 atau setidaknya masker medis dua lapis ketika beraktivitas di luar ruangan.

Bagaimana jika mata terkena abu vulkanik?

Jangan mengucek mata. Bilas mata menggunakan air bersih yang mengalir dan gunakan kacamata pelindung ketika harus berada di luar.

Bolehkah anak bermain di luar saat ada abu vulkanik?

Sebaiknya aktivitas anak di luar rumah dikurangi selama sebaran abu masih berlangsung, terutama jika kondisi udara masih berdebu.

Bagaimana cara mencegah abu vulkanik masuk ke rumah?

Tutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah selama sebaran abu berlangsung. Pastikan tempat penampungan air juga tertutup agar tidak tercampur endapan abu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.