Hari Bumi dan Pesan Menjaga Lingkungan dalam Islam

AKURAT.CO Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.
Di tengah ancaman krisis iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, dan punahnya keanekaragaman hayati, Hari Bumi menjadi pengingat global bahwa bumi bukanlah warisan nenek moyang semata, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
Namun, jauh sebelum dunia menetapkan satu hari khusus untuk bumi, Islam telah menanamkan nilai-nilai ekologis yang kuat dalam ajaran-ajarannya.
Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. memuat pesan-pesan transenden tentang pentingnya menjaga bumi, yang dalam Islam bukan sekadar tempat tinggal manusia, tetapi juga makhluk Tuhan yang memiliki nilai spiritual dan tanggung jawab moral di dalamnya.
Islam memandang bumi sebagai ciptaan Allah yang sempurna dan penuh keseimbangan. Allah berfirman dalam surah Al-A‘rāf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Baca Juga: Hari Bumi Diperingati 22 April 2025, Ini Pentingnya Menjaga Bumi dalam Al-Qur'an
Ayat ini merupakan peringatan keras agar manusia tidak merusak tatanan alam yang telah diciptakan dengan sangat rapi oleh Allah.
Kerusakan yang dimaksud mencakup segala bentuk eksploitasi berlebihan, pencemaran, dan perusakan lingkungan. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban etis, tapi juga perintah ilahi.
Lebih jauh, dalam surah Al-Baqarah ayat 205, Allah menggambarkan perilaku manusia yang merusak lingkungan sebagai bagian dari kemunafikan:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk membuat kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan hewan ternak; dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
Dalam ayat ini, yang dirusak bukan hanya tanah atau udara, melainkan juga keberlangsungan hidup — al-harth wa an-nasl — dua elemen kunci dalam ekosistem: pertanian dan generasi kehidupan.
Artinya, perilaku yang mencemari sungai, menebang hutan sembarangan, atau membunuh satwa liar secara tidak proporsional bisa dikategorikan sebagai fasād, yakni kerusakan yang dibenci Allah.
Nabi Muhammad saw. juga memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari yang sangat ramah lingkungan. Dalam banyak riwayat, Rasul sangat hemat dalam menggunakan air, bahkan saat berwudhu.
Salah satu hadis menyebutkan:
"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menggunakan air, meskipun kalian berada di sungai yang mengalir."
(HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya mengajarkan spiritualitas dalam ibadah, tapi juga etika ekologis yang melekat dalam setiap tindakan. Hemat air, tidak boros sumber daya, dan tidak merusak alam adalah bagian dari akhlak Islami.
Selain itu, konsep khalīfah atau wakil Allah di bumi juga menegaskan posisi manusia sebagai penjaga, bukan penguasa absolut atas alam. Dalam surah Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi."
Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk memelihara bumi, bukan mengeksploitasinya sesuka hati. Ini adalah konsep kepemimpinan yang bertanggung jawab secara spiritual dan ekologis. Manusia bukan pemilik bumi, melainkan penjaga titipan dari Allah.
Baca Juga: Spesial Hari Bumi 2025: Ini 3 Lagu Inspiratif tentang Alam dan Lingkungan
Hari Bumi dalam perspektif Islam sejatinya bukan hanya peringatan tahunan, melainkan panggilan keimanan yang harus hidup setiap hari.
Setiap kali kita menanam pohon, mengurangi sampah plastik, atau menggunakan energi secara bijak, kita sedang menjalankan nilai-nilai tauhid — menyadari bahwa segala sesuatu di alam ini adalah ciptaan Allah, dan kita bertanggung jawab atasnya.
Dengan semangat itu, mari jadikan Hari Bumi bukan hanya ajang kampanye, tapi juga momentum muhasabah: sudah sejauh mana kita menjadi khalifah yang merawat bumi ini, bukan justru merusaknya?
Sebab dalam Islam, menjaga lingkungan adalah bentuk ibadah, dan setiap ibadah adalah jalan menuju ridha-Nya. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







