Jadi Negara Muslim Terbesar, Kenapa Korupsi di Indonesia Sulit Dihilangkan?

AKURAT.CO Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Lebih dari 200 juta warganya memeluk agama Islam, yang dalam ajarannya sangat keras melarang segala bentuk kecurangan, termasuk korupsi.
Namun realitas yang kita saksikan justru berlawanan: Indonesia berulang kali masuk dalam daftar negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Pertanyaan besar pun muncul: mengapa di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, korupsi begitu sulit dihilangkan?
Islam secara tegas menempatkan amanah dan keadilan sebagai fondasi kehidupan. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ﴾
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisā’: 58)
Namun, praktik sehari-hari menunjukkan jurang antara ajaran dan kenyataan. Di balik masjid yang ramai, lembaga pendidikan Islam yang menjamur, dan simbol keislaman yang begitu kental, masih saja terjadi praktik suap, nepotisme, dan penyalahgunaan jabatan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa banyak umat Islam di Indonesia yang masih memandang agama sebatas ritual, belum menjadikannya sebagai pedoman etika sosial dan politik.
Rasulullah Saw. dengan tegas melaknat pelaku suap, yang merupakan salah satu pintu korupsi. Beliau bersabda:
«لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي فِي الْحُكْمِ»
“Laknat Allah atas orang yang memberi suap dan yang menerima suap dalam urusan hukum.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Baca Juga: Kenapa Korupsi di Indonesia Sulit Diberantas? Ini Jawaban Islam
Namun di negeri ini, suap justru dianggap sesuatu yang lumrah. Mulai dari urusan administrasi kecil hingga proyek miliaran rupiah, suap seringkali menjadi jalan pintas. Budaya permisif inilah yang membuat korupsi semakin sulit diberantas meskipun mayoritas penduduknya Muslim.
Ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan fenomena ini. Pertama, lemahnya internalisasi nilai agama. Islam menekankan bahwa setiap Muslim akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, sebagaimana firman Allah:
﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ﴾
“Tahanlah mereka (di padang mahsyar), sesungguhnya mereka akan ditanya.” (QS. Ash-Shaffāt: 24)
Namun, kesadaran eskatologis ini seringkali tidak hadir dalam perilaku keseharian. Banyak yang beribadah dengan khusyuk, tetapi di balik meja kerja tetap menyelewengkan amanah.
Kedua, adanya krisis keteladanan. Dalam Islam, pemimpin memegang peran sentral sebagai penentu arah moral umat. Rasulullah Saw. bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika sebagian pemimpin justru terseret kasus korupsi, maka sulit bagi rakyat untuk menaruh hormat dan menjadikan mereka teladan. Akibatnya, perilaku koruptif menjalar ke level bawah dan menjadi budaya yang diwariskan.
Ketiga, lemahnya penegakan hukum. Dalam sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab dikenal tegas menindak penyalahgunaan jabatan, bahkan terhadap pejabat dekatnya sendiri. Beliau tidak segan memecat seorang gubernur yang gaya hidupnya berlebihan.
Ketegasan semacam ini jarang kita jumpai dalam praktik hukum di Indonesia, di mana kasus korupsi sering berakhir dengan hukuman ringan, bahkan kadang pelakunya masih bisa menikmati fasilitas mewah di penjara.
Indonesia, dengan jumlah Muslim terbesar, seharusnya menjadi teladan dalam integritas, keadilan, dan kejujuran. Namun fakta yang terjadi menunjukkan sebaliknya. Ini menandakan bahwa keberislaman suatu bangsa tidak diukur dari kuantitas, melainkan dari kualitas pengamalan ajaran.
Islam menawarkan solusi yang sangat mendasar untuk persoalan korupsi: memperkuat kesadaran iman, membangun budaya amanah, menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, serta menghadirkan teladan dari para pemimpin. Tanpa itu semua, jumlah umat yang besar tidak akan otomatis melahirkan masyarakat yang bersih dari korupsi.
Baca Juga: KPK Ungkap Korupsi Kuota Haji Mengalir hingga Pucuk: Kalau di Kementerian ya Ujungnya Menteri
Maka, jawaban Islam terhadap problem korupsi di Indonesia sangat jelas. Selama agama hanya diposisikan sebatas identitas, bukan panduan moral yang hidup, korupsi akan tetap menjadi penyakit kronis bangsa ini.
Jalan keluar satu-satunya adalah menghidupkan kembali semangat iman yang autentik, di mana setiap individu sadar bahwa amanah bukan hanya urusan dunia, tetapi juga pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





