Akurat Logo

Gunung Meletus dan Abu Vulkanik, Apakah Tanda Allah Murka? Ini Kata Al-Qur'an

Lufaefi | 7 September 2026, 07:22 WIB
Gunung Meletus dan Abu Vulkanik, Apakah Tanda Allah Murka? Ini Kata Al-Qur'an
Gunung meletus dahsyat - Dok: istimewa

AKURAT.CO Ketika gunung api meletus, langit berubah kelabu. Abu vulkanik terbawa angin, jarak pandang berkurang, penerbangan terganggu, dan masyarakat di sejumlah wilayah harus membatasi aktivitas di luar rumah. Di tengah situasi seperti itu, muncul pertanyaan yang kerap hadir dalam benak umat Islam: apakah bencana alam seperti erupsi gunung merupakan tanda bahwa Allah sedang murka?

Al-Qur’an memang banyak berbicara tentang bencana, musibah, azab, dan berbagai peristiwa alam. Namun, Al-Qur’an juga mengajarkan agar manusia tidak terburu-buru menetapkan makna sebuah musibah. Tidak setiap bencana dapat langsung disebut sebagai azab atau tanda kemurkaan Allah.

Salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan persoalan ini terdapat dalam QS Asy-Syura ayat 30:

وَمَآ أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Dia memaafkan banyak (kesalahanmu).”

Ayat ini memberikan pesan penting bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari konsekuensi perbuatan. Dalam tafsirnya, para ulama menjelaskan bahwa musibah dapat menjadi akibat dari perbuatan manusia, sekaligus menjadi bentuk peringatan dan sarana agar manusia kembali kepada Allah.

Baca Juga: Serangan Abu Vulkanik Anak Krakatau, KDM Minta Sekolah di Bogor-Sukabumi Terapkan PJJ Mulai Besok

Namun, ayat tersebut tidak berarti setiap orang yang terkena bencana pasti sedang dihukum karena dosanya. Sebab, dalam kenyataan, bencana dapat menimpa siapa saja, termasuk orang saleh, anak-anak, orang yang tidak berdosa, bahkan mereka yang sedang berbuat baik.

Karena itu, memahami bencana hanya sebagai hukuman merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana.

Al-Qur’an bahkan menyebut bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk kesulitan. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Kata “nablū” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia memang berada dalam ruang ujian. Musibah tidak selalu berfungsi sebagai hukuman. Ia dapat menjadi ujian kesabaran, pengingat keterbatasan manusia, bahkan jalan untuk meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Al-Qur’an juga memberikan perspektif lain melalui QS Al-Anbiya ayat 35:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Menariknya, ayat ini tidak hanya menyebut keburukan sebagai ujian. Kebaikan pun disebut sebagai ujian. Artinya, ukuran ujian bukan semata-mata apakah sesuatu menyenangkan atau menyakitkan, tetapi bagaimana manusia meresponsnya.

Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa gunung meletus merupakan tanda kemurkaan Allah?

Al-Qur’an memang menggambarkan fenomena alam yang sangat dahsyat dalam sejumlah ayat, terutama ketika berbicara tentang hari kiamat. Misalnya QS Al-Qari’ah menggambarkan manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan. QS At-Takwir juga menggambarkan ketika gunung-gunung dihancurkan.

Akan tetapi, gambaran tersebut berkaitan dengan peristiwa eskatologis, bukan dalil bahwa setiap gunung yang meletus pada kehidupan sekarang merupakan tanda Allah sedang murka.

Di sinilah pentingnya membedakan antara “bencana sebagai fenomena alam”, “musibah sebagai ujian”, dan “azab sebagai hukuman”. Ketiganya tidak selalu identik.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi