Akurat Logo

Menjaga Kesucian Rumah Allah: 5 Hal yang Sering Dianggap Sepele tapi Mengurangi Keberkahan Masjid

Lufaefi | 17 Oktober 2026, 10:30 WIB
Menjaga Kesucian Rumah Allah: 5 Hal yang Sering Dianggap Sepele tapi Mengurangi Keberkahan Masjid
Masjid Rumah Allah - Istimewa

AKURAT.CO Masjid bukan sekadar bangunan tempat umat Islam melaksanakan salat. Ia adalah rumah Allah yang memiliki kedudukan mulia dalam kehidupan seorang Muslim. Di tempat inilah orang bersujud, membaca Al-Qur’an, berzikir, menuntut ilmu, hingga membangun silaturahmi.

Namun, kesucian dan kehormatan masjid tidak hanya dijaga dengan membersihkan lantai atau memperindah bangunannya. Ada sejumlah perilaku yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya dapat mengganggu kekhusyukan dan mengurangi keberkahan suasana masjid.

Islam memberikan perhatian besar terhadap adab ketika berada di rumah Allah. Allah SWT berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa masjid memiliki kedudukan yang tidak biasa. Karena itu, seorang Muslim semestinya menjaga ucapan, perilaku, dan suasana di dalamnya.

Pertama, berbicara terlalu keras.

Percakapan di masjid pada dasarnya tidak selalu dilarang. Akan tetapi, suara yang terlalu keras hingga mengganggu orang yang sedang salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau mengikuti kajian merupakan tindakan yang perlu dihindari.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat agar tidak saling mengeraskan bacaan Al-Qur’an sehingga mengganggu yang lain. Pesannya sederhana: ibadah seseorang jangan sampai mengganggu ibadah orang lain.

Kedua, menjadikan masjid sebagai tempat bercanda berlebihan.

Tertawa dan bercanda mungkin merupakan bagian dari interaksi manusia. Namun, ketika suasana masjid berubah seperti tempat nongkrong dan obrolan tidak lagi memperhatikan kehormatan tempat ibadah, di situlah persoalannya.

Masjid seharusnya menghadirkan ketenangan. Bercanda boleh saja dalam batas kepatutan, tetapi jangan sampai menghilangkan suasana sakral yang semestinya terjaga.

Ketiga, membuang sampah sembarangan.

Mungkin terlihat sederhana: tisu ditinggalkan di sudut, botol minuman diletakkan begitu saja, atau sisa makanan tidak segera dibersihkan. Padahal, kebersihan merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Menjaga kebersihan masjid bukan hanya pekerjaan marbut. Setiap jamaah memiliki tanggung jawab moral untuk meninggalkan masjid dalam keadaan lebih bersih daripada ketika ia datang.

Keempat, membawa bau yang mengganggu jamaah.

Islam mengajarkan agar seseorang memperhatikan kenyamanan orang lain ketika datang ke masjid. Rasulullah SAW melarang orang yang baru mengonsumsi bawang mentah untuk mendekati masjid karena aromanya dapat mengganggu jamaah.

Pesannya relevan hingga sekarang. Bau rokok, makanan menyengat, atau tubuh yang tidak terawat juga perlu diperhatikan. Beribadah bukan hanya soal hubungan dengan Allah, tetapi juga tidak menyakiti kenyamanan sesama manusia.

Kelima, menggunakan masjid untuk kepentingan yang tidak pantas.

Masjid memang dapat menjadi pusat pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan. Tetapi aktivitas tersebut tetap harus menjaga kehormatan masjid. Pertengkaran, penghinaan, transaksi yang bermasalah, atau aktivitas yang mengotori kesucian tempat ibadah tentu tidak selayaknya dilakukan.

Pada akhirnya, menjaga masjid bukan hanya persoalan mengepel lantai dan merapikan sajadah. Ia merupakan latihan membangun adab.

Ketika seseorang mampu menjaga lisannya di masjid, menjaga kebersihannya, menghormati jamaah lain, dan menahan diri dari perilaku yang mengganggu, sebenarnya ia sedang belajar menghormati rumah Allah.

Sebab masjid yang bersih bukan hanya terlihat dari lantainya. Masjid yang benar-benar terjaga juga tercermin dari akhlak orang-orang yang berada di dalamnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi