Rusia Diduga Bantu Iran Perkuat Sistem Pertahanan dari Serangan Udara Israel

Sebuah perusahaan senjata milik Rusia mengundang delegasi Iran ke tur belanja VIP pada bulan Maret lalu. Pada pertemuan delegasi disuguhi makan siang dan pertunjukan budaya. Selain itu, di hari terakhir diadakan kunjungan pabrik pembuatan produk yang telah lama didambakan oleh Teheran, yakni sistem pertahanan udara canggih Rusia untuk menembak jatuh pesawat musuh.
Pabrik tersebut bernama NPP Start di kota Yekaterinburg berada di bawah sanksi AS karena mendukung perang Rusia melawan Ukraina. Produk tersebut antara lain adalah peluncur bergerak dan komponen lain untuk beterai antipesawat yang termasuk S-400 Rusia. Menurut para analisis militer senjata terseut mampu mendeteksi dan menghancurkan jet tempur yang diterbangkan oleh Israel dan Amerika Serikat.
Melansir washingtonpost.com, melalui dokumen Rusia yang bocor, bagian dari email curian Iran yang diposting online pada bulan Februari oleh kelompok peretas, menggambarkan tur tersebut sebagai pemeran "potensi ilmiah dan teknis serta kemampuan produksi" yang dapat ditawarkan Rusia kepada Iran.
Namun, belum diketahui apakah kunjungan tersebut bertujuan langsung pada pembelian.
Selain itu, Rusia menjanjikan jet temput canggih dan teknologi pertahanan udara kepada sekutunya yang mutakhir. Menurut para pejabat intelijen dan pakar senjata AS, Eropa dan Timur Tengah, aset tersebut dapat membantu Teheran dalam memperkuat pertahanan terhadap serangan udara Israel atau Amerika Serikat kedepannya.
Baca Juga: Ekonom Ingatkan 5 Dampak Ekonomi Konflik Iran-Israel
Teknologi Rusia dapat mengubah Iran menjadi lawan yang jauh lebih kuat. Para pejabat dan pakar mengatakan terdapat peningkatan kemampuan yang dilakukan Iran dalam menembak jatuh pesawat dan rudal.
Apabila dilihat dari sisi pertahanan, Iran telah lama mencari baterai rudal antipesawat terbaik milik Rusia untuk melindungi fasilitas nuklir dan militernya dari kemungkinan serangan AS atau Israel. Pada tahun 2007, Teheran membuat kesepakatan untuk membeli sistem antipesawat S-300 Rusia, namun Moskow menunda pasokan senjata tersebut di tengah tekanan dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Larangan yang diberlakukan sendiri berakhir pada tahun 2016, dan S-300 Iran mulai beroperasi pada tahun 2019.
Sejak saat itu Iran berupaya untuk membeli sistem S-400 yang lebih canggih dari Rusia. Namun, publik belum mengetahui apakah Moskow telah bergerak dalam menyediakan S-400. Beberapa varian S-400 dilengkapi dengan radar yang mampu mengalahkan teknologi canggih yang digunakan pesawat tempur modern.
Serangan udara Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus pada tanggal 1 April menewaskan dua jenderal Iran dan mengarah langsung pada keputusan Iran untuk meluncurkan drone dan rudal terhadap Israel pada Sabtu akhir pekan lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








