Akurat Logo

Infrastruktur Energi dan Data Center Makin Besar, Industri Butuh Sistem Kelistrikan Lebih Adaptif

Winna Wandayani | 3 September 2026, 14:32 WIB
Infrastruktur Energi dan Data Center Makin Besar, Industri Butuh Sistem Kelistrikan Lebih Adaptif
Infrastruktur Energi dan Data Center Makin Besar, Industri Butuh Sistem Kelistrikan Lebih Adaptif. (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Kebutuhan energi dan infrastruktur digital di Indonesia terus meningkat seiring ekspansi industri. Kondisi ini membuat pengembangan pembangkit, penyimpanan energi, hingga sistem kelistrikan yang lebih fleksibel menjadi semakin penting.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW. Sebanyak 42,6 GW berasal dari energi terbarukan dan 10,3 GW dialokasikan untuk penyimpanan energi.

Kebutuhan energi juga ikut meningkat dari perkembangan pusat data. Kapasitas data center di Indonesia tercatat sekitar 370 MW pada 2025, menunjukkan semakin besarnya kebutuhan listrik untuk menopang pertumbuhan infrastruktur digital.

Perkembangan tersebut menjadi konteks penyelenggaraan Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series - Energy Week 2026 pada 2-5 September di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini mempertemukan sektor kelistrikan, baterai, penyimpanan energi dan infrastruktur data center.

Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, Maxmilaan Bruinier, mengatakan kebutuhan kolaborasi lintas sektor terus meningkat. Hal ini seiring perubahan kebutuhan energi dan teknologi di industri.

"Capaian di Surabaya menunjukkan kuatnya kebutuhan industri terhadap platform yang dapat mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor," ujarnya, saat acara Opening Ceremony di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, penyatuan sektor kelistrikan, penyimpanan energi dan infrastruktur digital dapat memperluas pertukaran pengetahuan. Upaya ini juga membuka peluang penerapan solusi untuk meningkatkan efisiensi industri.

IEE Series - Energy Week 2026 mencakup Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia dan Data Center Asia-Indonesia. Ketiganya membahas teknologi kelistrikan, baterai dan penyimpanan energi, serta infrastruktur digital.

Kebutuhan sistem kelistrikan yang lebih adaptif turut dibahas dalam Symposium Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI). Forum ini menyoroti pengembangan smart grid, integrasi energi terbarukan dan teknologi untuk mengoptimalkan pengelolaan listrik.

"Kebutuhan industri terhadap listrik ke depan tidak hanya akan semakin besar, tetapi juga semakin beragam dan dinamis. Karena itu, pengembangan sistem kelistrikan perlu bergerak menuju sistem yang lebih cerdas," kata Arsyadany G. Akmalaputri selaku Ketua Umum PJCI.

Ia menilai pengembangan infrastruktur energi perlu berjalan bersama penyimpanan energi dan infrastruktur digital. Kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, serta penyedia teknologi diperlukan untuk membangun sistem yang lebih efisien dan tangguh.

RMA Indonesia juga memanfaatkan Energy Week untuk menjangkau sektor yang membutuhkan pembangkit listrik. Sektor tersebut mencakup bangunan, hotel, resor, hingga data center.

Development and Technical Support Manager RMA Indonesia, Rio Harison Saragih, mengatakan Energy Week membantu perusahaan bertemu pengunjung yang lebih sesuai dengan sektor energi. Menurutnya, hal ini memudahkan RMA Indonesia dalam memetakan potensi pasar.

IEE Series - Energy Week 2026 merupakan bagian dari Indonesia Energy & Engineering Series 2026. Rangkaian ini mencakup Electric & Power Indonesia ke-24 dan IndoEBTKE ConEx ke-12.

IEE Series - Energy Week 2026 berlangsung hingga 5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini menghadirkan pameran, seminar dan diskusi seputar energi serta teknologi industri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.