Pekerjaan Bernilai Rendah Ancam Kelas Menengah, Bank Dunia Soroti Solusi

AKURAT.CO Di tengah stabilitas makroekonomi yang terjaga, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam penciptaan pekerjaan berkualitas.
Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Habib Rab, menyebutkan bahwa dominasi pekerjaan bernilai tambah rendah menjadi penghambat utama pertumbuhan kelas menengah.
“Pada 2024, sebanyak 69 perse pekerja berada di sektor dengan nilai tambah kurang dari Rp8 juta per bulan per pekerja. Sementara sektor bernilai tinggi seperti manufaktur dan jasa hanya menyerap 10 persen tenaga kerja,” ujar Habib dalam pertemuan yahh diadakan di Jakarta, Senin (23/6/2025).
Baca Juga: Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Pemerintah Siapkan 3 Strategi Ini
Data juga menunjukkan penurunan signifikan pekerja kelas menengah dari 14% pada 2019 menjadi hanya 8% pada 2024.
“Ini mengindikasikan stagnasi dan bahkan kemunduran daya beli kelompok kelas menengah, yang justru penting untuk mendorong konsumsi dan pertumbuhan,” tambahnya.
Menurut Habib, untuk membalikkan tren ini, Indonesia membutuhkan dua pendekatan utama: peningkatan kapabilitas pekerja dan penciptaan kesempatan kerja berkualitas.
“Kapabilitas memerlukan investasi pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Namun itu semua butuh ruang fiskal yang cukup,” jelasnya.
Namun, tantangan terbesar justru ada pada kesempatan kerja. Ia menekankan pentingnya reformasi struktural dan kebijakan pro-bisnis untuk mendorong sektor produktif.
Baca Juga: Di SPIEF 2025, Prabowo Pamer Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hampir Sentuh 7 Persen
Beberapa langkah yang disarankan antara lain yaitu, deregulasi dan pembukaan pasar, reformasi BUMN, penghapusan hambatan non-tarif, aksesi ke OECD sebagai pendorong reformasi.
“Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia mengalami lonjakan investasi dan pertumbuhan saat melakukan reformasi besar-besaran di akhir 1980-an dan awal 1990-an. Saat itu, manufaktur tumbuh pesat dan menyerap banyak tenaga kerja,” kata Habib.
Laporan Bank Dunia juga menekankan bahwa memperdalam sektor keuangan dan meningkatkan penerimaan negara melalui reformasi perpajakan akan membuka ruang fiskal untuk mendanai program-program prioritas, termasuk sektor perumahan dan pendidikan.
“Di tengah ketidakpastian global, justru inilah momentum bagi Indonesia untuk melangkah lebih jauh. Reformasi kebijakan dan pro-bisnis bukan hanya kebutuhan, melainkan peluang untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








