Akurat Logo

Solopreneur Academy Bank Saqu Berevolusi Jadi Solopreneur Society, Ini Manfaatnya bagi Founder Bisnis

Idham Nur Indrajaya | 4 September 2026, 14:31 WIB
Solopreneur Academy Bank Saqu Berevolusi Jadi Solopreneur Society, Ini Manfaatnya bagi Founder Bisnis
Solopreneur Society Bank Saqu mengubah edukasi menjadi ekosistem bisnis dengan networking, matchmaking, peluang, dan akses finansial. - dok. Akurat/Idham Nur Indrajaya

AKURAT.CO Menjalankan bisnis seorang diri bukan berarti seorang founder harus benar-benar berjalan sendirian. Ketika usaha mulai berkembang, persoalan yang dihadapi biasanya ikut berubah, dari mencari pelanggan dan menjaga arus kas menjadi membangun tim, menemukan partner, memperluas pasar, hingga mendapatkan akses pembiayaan.

Kebutuhan tersebut mendorong Bank Saqu mengubah pendekatan dalam program solopreneur-nya. Setelah dua tahun menjalankan Solopreneur Academy, Bank Saqu kini menghadirkan Solopreneur Society: The Founders Club, sebuah ekosistem yang tidak lagi hanya menawarkan pengetahuan, tetapi juga networking, peluang bisnis, dan akses solusi finansial.

Ringkasan

Solopreneur Society merupakan evolusi Solopreneur Academy Bank Saqu yang memperluas fokus dari edukasi menjadi ekosistem pertumbuhan bisnis melalui industry insights, networking, business matchmaking, serta akses terhadap solusi finansial.

Program tersebut dirancang untuk mempertemukan founder dengan pelaku industri, calon partner, brand owner, supplier, hingga pihak lain yang dapat membuka peluang bisnis.

Dalam pelaksanaannya, Solopreneur Society: The Founders Club 2026 membawa tiga pengalaman utama, yakni industry insights, networking, dan business matchmaking.

Perubahan ini menjadi penting karena kebutuhan pelaku usaha pada tahap awal tidak selalu sama dengan kebutuhan ketika bisnis mulai berkembang.

Mengapa Solopreneur Academy Berubah Menjadi Solopreneur Society?

Relationship Banking Director Bank Saqu Hendrik Komandangi mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil pembelajaran Bank Saqu selama menjalankan program dalam dua tahun sebelumnya.

“Selain pengetahuan dan pondasi bisnis yang kuat, mereka membutuhkan akses terhadap jaringan, peluang pasar, dan dukungan finansial yang sesuai dengan tahapan bisnisnya,” kata Hendrik dalam konferensi pers Kick Off Bank Saqu Solopreneur Society 2026 di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Pada 2024, Solopreneur Academy berfokus pada sektor F&B, fashion, dan beauty care. Program tersebut tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi juga menghadirkan proyek bersama dengan sejumlah pemenang.

Setahun kemudian, fokusnya bergeser ke industri kreatif, content creator, art, dan craft. Salah satu bentuk kolaborasi yang diangkat adalah proyek Good Gesture yang memanfaatkan teknologi AI dalam pembuatan video dengan bahasa isyarat.

Memasuki 2026, Bank Saqu melihat bahwa kebutuhan solopreneur telah berkembang lebih jauh. Founder tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar, tetapi juga membutuhkan tempat untuk menemukan koneksi yang relevan dan membuka peluang bisnis baru.

Dari sinilah Solopreneur Society lahir.

Bank Saqu menyebut program tersebut telah menjangkau lebih dari 1.000 potensi founder sejak 2024. Namun, fokus pada 2026 tidak semata-mata memperbesar jumlah peserta.

Hendrik menjelaskan Bank Saqu tetap melakukan outreach kepada lebih dari 1.000 potensi founder, tetapi kualitas dan relevansi hubungan menjadi perhatian penting dalam pengembangan program.

Baca Juga: Pengusaha Kalimantan Barat Hajon Mahdy Hibahkan Teknologi AI untuk Prediksi Karhutla, Dilengkapi Indeks Identifikasi dan Pemetaan

Baca Juga: Unit Link Asuransi Jiwa Bangkit, Premi Bisnis Baru Melonjak 34,5 Persen

Apa yang Berubah dari Academy Menjadi Society?

Perbedaan paling mendasar terletak pada tujuan program.

Solopreneur Academy lebih banyak berfungsi sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan pengetahuan. Sementara Solopreneur Society membawa konsep tersebut ke tahap berikutnya dengan membangun ekosistem yang menghubungkan berbagai kebutuhan bisnis.

Secara sederhana, pergeserannya dapat dilihat sebagai berikut:

Solopreneur Academy

Solopreneur Society

Fokus pada edukasi

Edukasi dan ekosistem

Knowledge

Knowledge dan networking

Exposure

Peluang bisnis

Learning

Business matchmaking

Peserta belajar

Founder saling terhubung

Program

Growth ecosystem

Perubahan tersebut menunjukkan satu hal penting: scale up bisnis tidak hanya membutuhkan pengetahuan baru, tetapi juga akses terhadap orang dan peluang yang tepat.

Seorang founder bisa saja memahami strategi pemasaran dengan baik. Namun, ketika ingin meningkatkan kapasitas produksi, membuka cabang, mencari distributor, atau mengembangkan teknologi, pengetahuan saja belum tentu cukup.

Di titik tersebut, kualitas jaringan menjadi semakin penting.

Apa Saja Manfaat Solopreneur Society bagi Pelaku Usaha?

Ada setidaknya lima manfaat yang dapat diperoleh pelaku usaha dari pendekatan baru Bank Saqu.

1. Mendapatkan Industry Insights

Solopreneur Society 2026 menyoroti empat sektor, yakni coffeepreneur, F&B, MICE, dan bisnis berbasis AI.

Melalui industry insights, peserta dapat berdiskusi dengan praktisi dan pelaku industri untuk memahami persoalan yang lebih spesifik di lapangan.

Nilainya bukan hanya mendapatkan teori. Founder dapat memperoleh perspektif dari orang yang sudah menghadapi persoalan serupa dalam operasional bisnis.

2. Memperluas Networking

Networking menjadi bagian penting karena perjalanan bisnis sering kali membutuhkan pihak lain.

Founder dapat bertemu dengan pelaku usaha lain, supplier, brand owner, maupun calon partner strategis. Hubungan tersebut berpotensi membuka akses yang sebelumnya sulit ditemukan melalui pencarian biasa di internet.

COO IDN William Utomo menilai keberagaman peserta justru menjadi salah satu kekuatan ekosistem.

Menurutnya, belajar hanya dari orang-orang yang berada dalam industri yang sama dapat membuat perspektif founder menjadi terbatas. Pertemuan dengan pelaku dari industri berbeda dapat memberikan referensi dan cara pandang baru.

3. Business Matchmaking yang Lebih Terarah

Salah satu pembeda Solopreneur Society adalah business matchmaking.

Konsep ini berbeda dengan networking biasa. Dalam networking, seseorang bisa bertemu puluhan orang dan bertukar kontak, tetapi belum tentu ada kebutuhan bisnis yang benar-benar bertemu.

Business matchmaking berusaha menjawab persoalan tersebut dengan melakukan pencocokan berdasarkan kebutuhan dan relevansi.

Misalnya, seorang founder F&B membutuhkan partner produksi atau supplier tertentu. Di sisi lain, terdapat pelaku usaha yang memiliki kapasitas produksi sesuai kebutuhan tersebut.

Pertemuan keduanya menjadi lebih bernilai karena terdapat kemungkinan kebutuhan bisnis yang saling melengkapi.

Hendrik menjelaskan bahwa proses matchmaking dilakukan secara terkurasi oleh penyelenggara. Artinya, peserta tidak sekadar dikumpulkan dalam satu ruangan, tetapi diupayakan bertemu dengan pihak yang memiliki relevansi terhadap kebutuhan bisnisnya.

Konsep tersebut dirangkum Bank Saqu melalui prinsip “Match, Make, Grow”: menemukan koneksi yang tepat, menciptakan peluang bisnis, kemudian tumbuh bersama.

Apakah Solopreneur Hanya Membutuhkan Modal?

Di sinilah salah satu persoalan paling menarik dari ekosistem solopreneur muncul.

Modal memang penting. Namun, modal tidak otomatis membuat sebuah bisnis siap berkembang.

CEO Otten Coffee Jhoni Kusno menjelaskan bahwa ketika bisnis berada pada tahap awal, founder biasanya harus mengerjakan hampir semua hal. Seiring bisnis tumbuh, persoalannya berubah menjadi lebih kompleks.

Founder harus mulai memikirkan orang, sistem, alignment, serta kemampuan organisasi untuk menangani pertumbuhan.

Menurut Jhoni, kebutuhan bisnis juga mencakup pengetahuan, manusia, jaringan, dan partnership. Pengetahuan membantu founder mengambil keputusan, manusia menjalankan visi, jaringan membuka peluang, sedangkan partnership dapat mempercepat berbagai proyek yang akan lebih sulit jika dikerjakan sendirian.

Perspektif tersebut penting karena menunjukkan paradoks dalam proses scale up.

Bisnis bisa memiliki tambahan modal, tetapi tetap gagal berkembang apabila fondasi operasionalnya belum siap.

Tambahan dana untuk membeli mesin, misalnya, tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila bisnis belum mempunyai SDM yang mampu mengoperasikan kapasitas baru, sistem distribusi yang memadai, atau permintaan pasar yang cukup.

Dengan kata lain, modal seharusnya menjadi bagian dari ekosistem pertumbuhan, bukan satu-satunya jawaban.

Seberapa Besar Akses Pembiayaan bagi Solopreneur?

Bank Saqu juga memasukkan dukungan finansial sebagai bagian dari ekosistem tersebut.

Untuk kebutuhan awal, Bank Saqu memiliki Saku Kredit dengan akses hingga Rp30 juta. Menurut Hendrik, kebutuhan pembiayaan dapat meningkat seiring dengan perkembangan bisnis.

“Nanti tentunya sesudah dia semakin bertumbuh, 30 juta itu bisa bertumbuh sampai 300 juta dan 500 juta,” ujar Hendrik.

Untuk kebutuhan di atas Rp30 juta, Bank Saqu dapat mengarahkan nasabah kepada sales atau relationship manager untuk membahas kebutuhan pembiayaan yang lebih besar, termasuk modal kerja atau investasi.

Poin pentingnya, angka Rp300 juta atau Rp500 juta tersebut tidak berarti setiap peserta otomatis memperoleh pembiayaan sebesar itu. Besaran pembiayaan tetap berkaitan dengan perkembangan bisnis, kebutuhan, dan kelayakan nasabah.

Mengapa F&B, Coffeepreneur, MICE, dan AI Dipertemukan?

Pemilihan sektor pada Solopreneur Society 2026 juga memperlihatkan pendekatan Bank Saqu yang tidak membatasi ekosistem berdasarkan satu industri.

Coffeepreneur dapat bertemu dengan pelaku teknologi. Founder F&B dapat menemukan solusi dari sektor AI. Pelaku MICE dapat memperoleh perspektif baru mengenai digitalisasi.

Kolaborasi lintas sektor seperti itu berpotensi menciptakan ide yang tidak muncul jika founder hanya berinteraksi dengan orang-orang dari bidang yang sama.

Bagi William Utomo, keberadaan komunitas membuat founder mempunyai ruang untuk mendiskusikan persoalan yang sulit diselesaikan hanya dengan mencari informasi di YouTube atau internet.

Komunitas memberi sesuatu yang berbeda: pengalaman langsung dari orang yang pernah menghadapi persoalan serupa.

Bagaimana Peran IDN dan Otten Coffee?

Kolaborasi dengan IDN memperkuat sisi jaringan dan pengetahuan dalam ekosistem tersebut.

William Utomo menjelaskan bahwa IDN memiliki berbagai platform dan jaringan yang dapat memberikan informasi, tips, inspirasi, serta akses kepada kalangan profesional dan pelaku bisnis. Bank Saqu kemudian melengkapi sisi tersebut melalui solusi finansial.

Sementara itu, Otten Coffee membawa pengalaman sebagai pemain dalam ekosistem kopi.

Jhoni menjelaskan bahwa Otten Coffee membangun ekosistem yang menghubungkan commerce, teknologi, edukasi, dan komunitas kopi.

“Di Otten Coffee, kami membangun ekosistem yang mendukung coffeepreneurs melalui produk, pengetahuan, dan komunitas,” ujar Jhoni.

Ia melihat terdapat kesamaan visi antara Otten Coffee dan Bank Saqu dalam memberikan dukungan yang relevan kepada pelaku usaha.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem bisnis tidak harus dibangun oleh satu institusi. Setiap pihak dapat membawa aset berbeda untuk menyelesaikan kebutuhan founder yang juga semakin beragam.

Ilustrasi: Ketika Founder Tidak Lagi Bisa Mengerjakan Semuanya Sendiri

Bayangkan seorang pemilik kedai kopi yang awalnya mengurus hampir seluruh operasional bisnis sendiri.

Ia membeli bahan baku, mengatur pemasaran, melayani pelanggan, mengelola keuangan, berhubungan dengan supplier, hingga membuat konten media sosial.

Ketika omzet meningkat, ia ingin menambah kapasitas.

Masalahnya ternyata bukan hanya uang untuk membeli mesin kopi baru.

Ia membutuhkan karyawan tambahan, supplier yang lebih stabil, sistem pencatatan keuangan, strategi pemasaran, teknologi, serta akses pelanggan baru.

Ilustrasi tersebut menunjukkan mengapa kebutuhan founder berubah ketika bisnis tumbuh.

Pada tahap awal, founder mungkin membutuhkan pengetahuan. Ketika bisnis berkembang, kebutuhan tersebut melebar menjadi jaringan, SDM, sistem, partner, pasar, dan modal.

Di sinilah konsep Solopreneur Society menjadi lebih relevan daripada sekadar kelas bisnis.

Dari Side Hustle Menuju Bisnis yang Lebih Serius

Ekosistem seperti ini juga relevan dengan meningkatnya minat terhadap side hustle.

William Utomo menilai side hustle dapat menjadi sesuatu yang lebih besar apabila dikembangkan secara serius. Bahkan, IDN sendiri memiliki sejarah yang bermula dari aktivitas yang dijalankan sebagai side hustle oleh para pendirinya.

Namun, side hustle tidak otomatis menjadi bisnis besar.

Founder tetap harus menemukan pasar, menjaga arus kas, membangun sistem, dan mengetahui kapan harus mulai mendelegasikan pekerjaan.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa menjadi solopreneur bukan berarti selamanya mengerjakan seluruh pekerjaan seorang diri.

Justru ketika bisnis berkembang, kemampuan founder untuk membangun orang dan ekosistem menjadi semakin penting.

Solopreneur Society dan Makna “Selalu Bersama” Bank Saqu

Perubahan dari Academy menjadi Society juga dapat dilihat dari positioning Bank Saqu melalui konsep “Selalu Bersama”.

Dalam konteks program solopreneur, pendampingan tersebut bergerak dari edukasi menuju koneksi dan peluang bisnis.

Alurnya dapat digambarkan sebagai:

Belajar → Networking → Business Matchmaking → Peluang → Pembiayaan → Scale Up

Artinya, hubungan Bank Saqu dengan founder tidak hanya dibangun ketika pelaku usaha membutuhkan kredit.

Bank Saqu mencoba hadir sejak tahap mendapatkan pengetahuan, memperluas jaringan, menemukan peluang, hingga memperoleh dukungan finansial ketika bisnis mulai berkembang.

Solopreneur Tidak Harus Tumbuh Sendirian

Perubahan Solopreneur Academy menjadi Solopreneur Society pada akhirnya memperlihatkan perubahan cara melihat kebutuhan founder.

Dulu, persoalannya mungkin terlihat sederhana: bagaimana mendapatkan pengetahuan untuk menjalankan bisnis.

Ketika bisnis mulai bergerak, pertanyaannya berubah menjadi jauh lebih kompleks: siapa partner yang tepat, bagaimana mendapatkan pasar baru, siapa yang bisa membantu operasional, bagaimana membangun tim, serta dari mana mendapatkan pembiayaan untuk memperbesar kapasitas.

Karena itu, nilai sebuah komunitas bisnis tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang berada di dalamnya. Nilainya juga ditentukan oleh seberapa relevan koneksi yang tercipta dan apakah koneksi tersebut dapat menghasilkan sesuatu setelah acara selesai.

Solopreneur Society mencoba bergerak ke arah tersebut.

Pada akhirnya, istilah “solopreneur” tidak harus berarti founder membangun semuanya sendirian. Bisnisnya boleh dibangun oleh satu founder, tetapi pertumbuhannya tetap membutuhkan orang, pengetahuan, jaringan, sistem, partner, dan ekosistem.

Pantau terus perkembangan ekosistem solopreneur dan strategi pelaku usaha dalam membangun bisnis yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Muslim LifeFest 2026 Hadirkan 205 Pelaku Usaha dan 65 Lembaga Pendidikan

Baca Juga: Gelar Sensus Ekonomi 2026, BPS Fokus Data Pelaku Usaha hingga Rumah Tangga

FAQ

Apa itu Solopreneur Society Bank Saqu?

Solopreneur Society adalah pengembangan dari Solopreneur Academy Bank Saqu yang tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga membangun ekosistem pertumbuhan bisnis. Program ini menghubungkan founder melalui industry insights, networking, business matchmaking, peluang bisnis, serta akses terhadap solusi finansial yang disesuaikan dengan perkembangan bisnis.

Mengapa Solopreneur Academy berubah menjadi Solopreneur Society?

Bank Saqu melihat kebutuhan solopreneur berkembang setelah dua tahun menjalankan Solopreneur Academy. Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan fondasi bisnis, tetapi juga jaringan, peluang pasar, partner, serta dukungan finansial. Karena itu, program 2026 dikembangkan menjadi Solopreneur Society: The Founders Club.

Apa manfaat mengikuti Solopreneur Society?

Manfaat Solopreneur Society mencakup akses terhadap industry insights, networking dengan founder dan pelaku industri lain, business matchmaking yang dikurasi, peluang kolaborasi, serta akses terhadap solusi finansial Bank Saqu. Pendekatan tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha tidak hanya belajar, tetapi juga menemukan koneksi dan peluang yang relevan dengan kebutuhan bisnisnya.

Apa itu business matchmaking dalam Solopreneur Society?

Business matchmaking merupakan proses mempertemukan peserta berdasarkan kebutuhan dan kecocokan bisnis. Berbeda dari networking biasa yang umumnya hanya berupa perkenalan dan pertukaran kontak, matchmaking berusaha menghubungkan founder dengan pihak yang memiliki potensi menjadi partner, supplier, pembuka akses pasar, atau kolaborator strategis.

Apakah Solopreneur Society menyediakan akses pembiayaan?

Solopreneur Society terhubung dengan solusi finansial Bank Saqu. Salah satunya Saku Kredit dengan akses awal hingga Rp30 juta. Hendrik Komandangi juga menyebut kebutuhan pembiayaan dapat berkembang hingga Rp300 juta atau Rp500 juta seiring pertumbuhan bisnis. Besaran pembiayaan tetap bergantung pada kebutuhan dan kelayakan masing-masing nasabah.

Siapa saja sektor yang menjadi fokus Solopreneur Society 2026?

Solopreneur Society 2026 berfokus pada empat sektor utama, yaitu coffeepreneur, F&B, MICE, dan bisnis berbasis AI. Keberagaman sektor tersebut memungkinkan founder bertemu dengan pelaku dari industri berbeda sehingga dapat memperoleh perspektif baru dan membuka peluang kolaborasi lintas bidang.

Apakah solopreneur harus mengerjakan semua pekerjaan sendiri?

Tidak. Pada tahap awal, founder memang sering mengerjakan banyak fungsi sekaligus. Namun, ketika bisnis mulai berkembang, founder perlu membangun tim, sistem, jaringan, dan partnership. Perspektif Jhoni Kusno menunjukkan bahwa kemampuan melakukan scale up justru membutuhkan pergeseran peran founder dari sekadar mengerjakan operasional menuju membangun manusia dan ekosistem.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.