Bukan Investasi, Ini Hal Pertama Yang Sebaiknya Anak Muda Lakukan
AKURAT.CO Investasi kerap menjadi pilihan anak muda untuk mengembangkan aset dan mengejar tujuan keuangan. Namun, sebelum menentukan instrumen investasi, ada sejumlah fondasi keuangan yang perlu dibangun terlebih dahulu.
Personal Banking Segment Head OCBC, Lauda Muliana mengatakan, pengelolaan keuangan sebaiknya dimulai dengan menentukan tujuan keuangan atau financial goals. Langkah tersebut penting agar keputusan mengelola uang tidak semata-mata mengikuti tren yang sedang berkembang.
“Sehat secara finansial bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak uang, tetapi tentang memiliki pondasi dan perencanaan yang membuat kita mampu menghadapi ketidakpastian, sekaligus memiliki ruang untuk bertumbuh,” ujar Lauda dalam acara OCBC Financial Fitness Index 2026 dalam Nyala Festival di Jakarta, Jumat malam (18/9/2026).
Baca Juga: Kesehatan Finansial Anak Muda Turun, Terlihat dari 4 Aspek Ini
Menurut Lauda, setiap orang memiliki tujuan keuangan yang berbeda, baik dari sisi kebutuhan maupun jangka waktunya. Karena itu, strategi mengelola pendapatan perlu disesuaikan dengan kondisi dan prioritas masing-masing.
Tujuan keuangan dapat dimulai dari kebutuhan jangka pendek, seperti biaya perjalanan atau kebutuhan keluarga, hingga kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan anak dan persiapan masa depan. Setelah tujuan ditentukan, masyarakat dapat mulai membagi pendapatan ke dalam sejumlah pos anggaran.
Lauda menilai nominal yang dialokasikan tidak harus besar karena hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menyisihkan pendapatan secara konsisten. “Yang penting bagaimana caranya kita bisa mengalokasikan income kita ke pocket tertentu, budget tertentu. Walaupun jumlahnya sedikit, tidak apa-apa,” katanya.
Pembagian anggaran tersebut juga dapat membantu seseorang menentukan instrumen keuangan yang sesuai. Pilihan instrumen, menurut Lauda, perlu mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai, jangka waktu, serta kemampuan finansial masing-masing.
Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi diharapkan tidak hanya didasarkan pada tren atau fear of missing out (FOMO). Masyarakat terlebih dahulu memahami untuk apa dana tersebut dialokasikan dan kapan dana itu dibutuhkan.
Lauda juga menekankan bahwa investasi tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan atau kekayaan dalam jumlah tertentu. Namun, investasi merupakan bagian dari proses membangun kesehatan finansial setelah kebutuhan dasar dan fondasi keuangan diperhatikan.
“Financial fit is a journey. Sesuatu yang harus dibangun. Awalnya kita harus punya awareness, lalu bangun fondasinya dulu, akhirnya kita bisa memberikan lebih banyak ruang untuk investasi dan bertumbuh,” tutur Lauda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








