Dituding Retas Departemen Keuangan AS, China: Informasi Palsu
Demi Ermansyah | 2 Januari 2025, 05:15 WIB

AKURAT.CO China kembali jadi sorotan dunia maya. Kali ini, negara Tirai Bambu itu dituduh mendukung serangan siber yang menargetkan Departemen Keuangan Amerika Serikat. Namun, pemerintah China langsung pasang badan.
Dimana Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak memiliki dasar kuat dan cuma trik politik belaka.
“China selalu tegas menolak segala bentuk serangan siber. Apalagi kalau ada informasi palsu yang sengaja dilempar buat tujuan politik,” ucap Mao melalui lansiran Reuters, dikutip Kamis (2/1/2025).
Usut punya usut, dikabarkan serangan tersebut melibatkan pencurian kunci keamanan yang bikin peretas bisa mengintip dokumen-dokumen non-rahasia di sistem Departemen Keuangan AS. Kasus ini pertama kali diendus perusahaan keamanan siber BeyondTrust, tepatnya 8 Desember 2024 lalu.
Dalam rangka mencegah kerusakan lebih jauh, Departemen Keuangan AS langsung ambil tindakan. Perangkat yang kena masalah langsung dimatikan, dan sampai sekarang, mereka belum menemukan bukti para peretas masih ada di sistem. Tapi, meski begitu, pejabat AS tetep menegaskan bahwa China adalah dalang utamanya walau belum ada bukti yang jelas dipublikasikan.
Tak sampai disitu, kasus ini juga disambung dengan tuduhan baru ke grup peretas asal China bernama Salt Typhoon. Grup ini dituding udah nge-hack jaringan telekomunikasi besar di AS seperti AT&T, Verizon, dan Lumen.
Lebih parahnya lagi, mereka diduga mencuri data penting dari pejabat tinggi AS, termasuk Presiden terpilih Donald Trump dan Wakil Presiden J.D. Vance.
Ketegangan semakin panas akibat Salt Typhoon yang tidak cuma berhenti di situ. Data percakapan telepon dan pesan teks yang dicuri memperkeruh hubungan kedua negara, yang emang udah sering ribut soal keamanan siber.
Ketegangan semakin panas akibat Salt Typhoon yang tidak cuma berhenti di situ. Data percakapan telepon dan pesan teks yang dicuri memperkeruh hubungan kedua negara, yang emang udah sering ribut soal keamanan siber.
Beijing dengan santai menyebut tudingan ini bagian dari strategi AS untuk membangun narasi negatif tentang China, tentu tanpa bukti yang konkret.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








