Inflasi Global Masih Liar, Ruang Pemangkasan Suku Bunga Bank Sentral Menyempit

AKURAT.CO Inflasi global tampaknya enggan turun hingga 2028. Para ekonom memproyeksikan angka ini bakal tetap lebih tinggi dari target bank sentral, membuat rencana penurunan suku bunga jadi semakin rumit.
Menurut survei dari Institut Ifo Jerman dan Institut Kebijakan Ekonomi Swiss, yang melibatkan 1.400 ekonom dari 125 negara, rata-rata inflasi global pada 2025 diprediksi mencapai 3,9%. Meski perlahan menurun, angkanya hanya menyusut tipis menjadi 3,5% pada 2027.
"Selama inflasi masih di atas target bank sentral, ruang untuk pemangkasan suku bunga yang signifikan hampir mustahil," ujar peneliti dari Institut Ifo, Niklas Potrafke melalui lansiran Economic Times, dikutip Kamis (16/1/2025).
Baca Juga: Inflasi Global Perbesar Peluang Indonesia Masuk Resesi Ekonomi
Survei tersebut juga mencatat perbedaan signifikan di berbagai wilayah. Amerika Utara, misalnya, diprediksi mencatat rata-rata inflasi sebesar 2,6% pada 2025. Angka ini bahkan akan naik menjadi 2,9% pada 2028.
Di Eropa, inflasi bervariasi tergantung wilayah. Di Eropa Barat, inflasi diperkirakan berada di angka 2% pada 2028, sementara Eropa Selatan akan mencapai 2,7% dan Eropa Utara 2,5%. Secara spesifik, inflasi di Jerman tahun ini diperkirakan 2,4%, Austria 2,5%, dan Swiss hanya 1,2%.
Namun, tekanan inflasi jauh lebih besar terjadi di kawasan Amerika Selatan dan sebagian Afrika. Ekonom memperkirakan inflasi di wilayah tersebut bisa melampaui 20%, mencerminkan tantangan ekonomi yang berat.
Lonjakan inflasi yang sulit dijinakkan ini memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter global akan tetap ketat. Artinya, bank sentral mungkin harus menunda rencana penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Kondisi di Amerika Serikat semakin memperkuat kekhawatiran ini. Menurut survei Bloomberg, inflasi pada Desember 2024 diproyeksikan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Inflasi inti, yang tidak menghitung harga makanan dan energi, diprediksi naik 0,3%, sedangkan inflasi keseluruhan diperkirakan menyentuh 0,4%.
Ekonom Bloomberg, Anna Wong dan Chris G. Collins, menyoroti bahwa data CPI yang tinggi dapat memicu kekhawatiran baru tentang mandeknya upaya menekan inflasi.
"Sekarang ini, pasar lebih fokus pada apakah imbal hasil treasury 10 tahun bisa melewati angka 5%," tulis mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







