Imbal Hasil Obligasi Jepang Melesat, US Treasury Kehilangan Status Aset Aman Global?

AKURAT.CO Pasar surat utang global tengah mengalami pergeseran besar. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) melonjak, memicu kekhawatiran bahwa posisi US Treasury sebagai aset aman (safe haven) mulai tergeser.
Dikutip dari bloomberg, Yield JGB tenor 30 tahun tercatat naik hingga 3,131%, level tertinggi sejak penerbitan pertama obligasi ini pada 1999. Lonjakan ini terjadi di tengah pelemahan permintaan pasar atas surat utang Jepang, dengan hasil lelang JGB 20 tahun pada Selasa lalu mencatat nilai penawaran masuk terlemah dalam lebih dari satu dekade.
Namun, analis menilai yield yang lebih tinggi ini justru menjadikan JGB mulai menarik kembali, terutama di tengah ketidakpastian pasar AS akibat potensi kebijakan pemotongan pajak ala Trump.
Baca Juga: Jepang Targetkan Kenaikan Upah Riil 1% Pada 2029 Mendatang
“Dengan imbal hasil JGB yang meningkat, investor lokal dan global mulai mempertimbangkan kembali alokasi ke obligasi Jepang. Ini bisa menjadi tekanan tambahan bagi pasar Treasury AS,” ujar Head of FX Research Deutsche Bank, George Saravelos.
Yen Jepang menguat bersamaan dengan kenaikan yield US Treasury. Fenomena ini, menurut para analis, menunjukkan bahwa investor global mengurangi eksposur mereka terhadap aset berbasis dolar AS, dan mulai mengalihkan dananya ke aset berbasis yen.
Bank sentral Jepang (BoJ) sendiri tengah berada dalam dilema. Di satu sisi, kebijakan pengurangan pembelian obligasi mendorong yield naik. Namun, BoJ juga dihadapkan pada risiko pelemahan ekonomi domestik jika biaya pinjaman terus meningkat.
Senada dengan George, Analis Strategis Morgan Stanley, Matius Hornbach, memperingatkan bahwa meski JGB terlihat menarik, ada risiko jebakan nilai (value trap) karena kelebihan pasokan dan rendahnya permintaan struktural di pasar domestik.
Baca Juga: Pantik Semangat Wirausaha PMI, Program Mandiri Sahabatku Sapa 250 Pekerja Migran di Jepang
“JGB bisa terlihat murah saat ini, tapi investor harus waspada terhadap tekanan jangka panjang akibat ketidakseimbangan permintaan dan penawaran,” katanya.
Kenaikan yield JGB dan pelemahan minat terhadap US Treasury menambah kompleksitas situasi pasar obligasi global saat ini. Para investor kini menghadapi tantangan besar dalam membaca arah kebijakan fiskal dan moneter dari dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







