Pasar Tenaga Kerja AS Melemah, The Fed Diminta Waspada Dampak Tarif

AKURAT.CO Pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar dan pengambil kebijakan.
Laporan tenaga kerja sektor swasta yang dirilis pada Rabu (4/6/2025) mencatat penurunan perekrutan ke tingkat terendah dalam dua tahun terakhir.
Sinyal ini memperkuat kekhawatiran bahwa kekuatan ekonomi AS mulai tergerus, di tengah bayang-bayang kebijakan tarif yang belum menemui kepastian.
Gubernur Federal Reserve Bank Minneapolis, Neel Kashkari, dalam wawancara bersama CNN, menyebut bahwa sejumlah perusahaan kini bahkan mempertimbangkan opsi pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Semakin lama ketidakpastian tarif ini berlangsung, dampak negatifnya akan semakin besar," ujarnya. Ia menegaskan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membuat keputusan agresif terkait suku bunga.
Baca Juga: The Fed: Stabilitas Harga dan Lapangan Kerja AS Masih Terjaga
The Federal Reserve, yang belum mengubah suku bunganya sepanjang 2025, diperkirakan akan tetap mempertahankannya pada pertemuan kebijakan moneter mendatang tanggal 17–18 Juni. Strategi "wait and see" dipilih sebagai pendekatan hati-hati di tengah gejolak global dan tekanan domestik.
Penurunan investasi bisnis, yang menurut Kashkari juga dipicu oleh kebijakan perdagangan yang tidak konsisten, menambah tekanan terhadap pasar tenaga kerja. Situasi ini memicu reaksi dari kalangan analis ekonomi global yang meminta The Fed tidak bersikap gegabah.
“Ketika data ketenagakerjaan mulai melemah, respons kebijakan moneter harus lebih akomodatif,” kata Kepala Ekonom dari Moody’s Analytics, Mark Zandi.
Dirinya menilai kebijakan tarif telah menimbulkan efek psikologis negatif terhadap pelaku usaha.
“Para pelaku bisnis menunda ekspansi dan perekrutan karena ketidakpastian. Ini menciptakan efek riak yang bisa merembet ke sektor konsumsi,” tambahnya.
Senada dengan itu, Diane Swonk, Kepala Ekonom KPMG AS, mengatakan bahwa The Fed berada di persimpangan sulit.
“Mereka harus menyeimbangkan antara menjaga inflasi tetap terkendali dan tidak mendorong ekonomi ke arah kontraksi yang tidak perlu,” ujarnya.
Baca Juga: The Fed Waspadai Kenaikan Inflasi, Pilih Strategi Wait and See Untuk Pemangkasan Suku Bunga
Ia menekankan bahwa pasar tenaga kerja, meskipun masih kuat, mulai memperlihatkan keretakan struktural, terutama di sektor manufaktur dan logistik.
Kekhawatiran ini juga tercermin dari meningkatnya imbal hasil obligasi jangka pendek dan volatilitas di pasar saham dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaku pasar memperkirakan bahwa bila data ekonomi terus menunjukkan tren melemah, The Fed dapat dipaksa untuk mengubah arah kebijakan lebih cepat dari yang direncanakan.
Dengan sinyal pelonggaran pasar kerja, meningkatnya kekhawatiran PHK, dan pelemahan investasi swasta, para ekonom menyerukan pendekatan yang lebih akomodatif dan berbasis data.
"Kesalahan terbesar saat ini adalah bertindak berdasarkan asumsi, bukan data keras," tegas Swonk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









