BKPM Sebut Swiss, Norwegia dan Kanada Minat BErinvestasi di RI
Hefriday | 7 Oktober 2025, 18:24 WIB

AKURAT.CO Kementerian Investasi/BKPM mengonfirmasi adanya peningkatan minat investasi dari negara-negara Eropa dan Kanada ke Indonesia pasca perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa (IEU-CEPA) dan Indonesia–Canada CEPA.
Sektor yang menjadi fokus utama investor antara lain energi terbarukan, makanan dan minuman (food and beverage), serta pertambangan strategis.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal (BKPM), Nurul Ichwan mengatakan, beberapa negara anggota Uni Eropa telah melakukan penjajakan langsung dengan Indonesia setelah pengumuman kemitraan ekonomi tersebut.
“Sudah ada negara-negara yang mendekati kami, bahkan bukan hanya dari Uni Eropa, tapi juga dari Swiss yang ingin memanfaatkan kerja sama ini untuk meningkatkan investasi di Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Menurut Nurul, sektor yang paling diminati investor Eropa adalah food and beverage serta energi terbarukan (renewable energy). “Biasanya sektor yang mereka sasar itu makanan dan minuman, kemudian energi baru terbarukan yang kini menjadi fokus global,” jelasnya.
Sementara itu, investor Kanada menunjukkan ketertarikan kuat di sektor pertambangan dan industri dirgantara. “Saya melihat potensi besar dari Kanada itu ada di tambang dan industri dirgantara, sektor yang sangat strategis,” kata Nurul.
Dirinya menjelaskan, bagi negara seperti Kanada, keputusan investasi sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber daya dan potensi pasar.
“Negara-negara jauh seperti Kanada cenderung melihat efisiensi logistik dan kedekatan pasar. Tapi untuk komoditas langka seperti nikel, mereka harus datang ke Indonesia karena hanya di sini pasokannya melimpah,” ungkapnya.
Nurul menambahkan, pendekatan kerja sama dengan Eropa bersifat multilateral dan bilateral sekaligus.
Dalam beberapa kasus, perjanjian disepakati melalui Uni Eropa sebagai blok ekonomi, namun ada juga yang bersifat langsung antarnegara (G2G). “Jadi, sebagian disepakati secara komunal lewat EU, sebagian lagi bilateral, misalnya untuk pelindungan investasi,” ujarnya.
Selain Eropa dan Kanada, BKPM juga membuka peluang bagi investor dari luar blok tersebut yang ingin memanfaatkan hasil perjanjian perdagangan bebas. Negara-negara seperti Swiss dan Norwegia disebut mulai melakukan pendekatan awal.
Meski demikian, Nurul menekankan pentingnya ekosistem regulasi dan insentif yang menarik agar minat tersebut berujung pada realisasi. “Kita terus memfasilitasi agar regulasi investasi, termasuk perizinan OSS dan perlindungan investasi, benar-benar mendukung,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









