Ketidakpastian Global Meningkat, The Fed Jadi Lebih Hati-hati
Hefriday | 19 November 2025, 16:37 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menilai ketidakpastian di pasar keuangan global kembali meningkat seiring munculnya sejumlah tekanan eksternal, mulai dari penghentian sementara aktivitas pemerintahan Amerika Serikat (AS) hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral negara itu.
Hal tersebut disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Perry menjelaskan, perlambatan ekonomi AS masih berlanjut, dipengaruhi efek tarif dagang yang belum mereda serta dampak government shutdown terlama dalam sejarah negara itu.
Kondisi tersebut turut menekan kinerja pasar tenaga kerja AS yang dinilai masih lemah. “Pertumbuhan ekonomi AS tetap melambat akibat berlanjutnya tekanan tarif dan terhentinya aktivitas pemerintah yang cukup panjang, yang kemudian menahan perbaikan sektor ketenagakerjaan,” ujarnya.
Selain AS, sejumlah negara besar di Asia juga mencatat pelemahan ekonomi. Menurut Perry, Jepang, China, dan India menghadapi terbatasnya permintaan domestik sehingga pertumbuhan belum dapat kembali menguat.
Dari sisi lain, Eropa mencatat kinerja lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Pemulihan konsumsi rumah tangga serta peningkatan investasi pada kuartal III 2025 didorong oleh sikap moneter yang lebih longgar.
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 diperkirakan tetap di kisaran 3,1 persen, lebih rendah dibanding realisasi 2024,” kata Perry.
Dari sisi pasar keuangan, BI mencatat ketidakpastian kian meningkat akibat sikap Bank Sentral AS (The Fed) yang dinilai pasar lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Penurunan inflasi AS yang tertahan oleh kebijakan tarif serta lemahnya pasar tenaga kerja menjadi faktor yang membuat The Fed diperkirakan menunda penurunan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) hingga akhir 2025.
Situasi tersebut memicu arus modal global kembali mengalir ke instrumen safe haven seperti emas dan aset keuangan AS.
Permintaan yang meningkat mendorong kenaikan harga emas serta memperkuat indeks dolar AS (DXY). Sementara itu, arus modal ke negara berkembang (emerging market) relatif terbatas dan lebih banyak mengarah ke pasar saham.
Menghadapi dinamika global tersebut, BI menegaskan perlunya peningkatan kewaspadaan dan penajaman arah kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.
“Perkembangan ini memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak rambatan global, menjaga ketahanan eksternal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri dengan tetap menjaga stabilitas,” ujar Perry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








