Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.790

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (2/9/2026), dengan rentang Rp17.740-Rp17.790.
Pelaku pasar akan mencermati penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven.
Pengamat Pata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah berpeluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Ia memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.740-Rp17.790 per USD.
Baca Juga: Destry Jadi Gubernur BI, Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Prioritas
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.740-Rp17.790," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (2/9/2026).
Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), rupiah ditutup melemah 22 poin ke level Rp17.744 per USD, setelah sebelumnya sempat menguat 5 poin.
Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.722 per USD. Salah satu sentimen utama yang menjadi perhatian pasar adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pidatonya di Simposium Jackson Hole memberikan sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka ruang untuk menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum menunjukkan perbaikan yang cukup.
Dalam pidatonya, Warsh menegaskan pentingnya memastikan inflasi kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut mendorong pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Data CME FedWatch yang dikutip dalam laporan pasar menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga meningkat hingga sekitar 66%.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi sentimen penting bagi rupiah karena kenaikan suku bunga AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.
Kondisi itu dapat mendorong aliran dana menuju pasar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole bernada hawkish dan memicu kembali ekspektasi bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September," ujar Ibrahim.
Ekspektasi tersebut juga tercermin pada pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury AS meningkat setelah pernyataan Warsh, sementara pelaku pasar kini menunggu data ekonomi AS berikutnya untuk menentukan arah kebijakan The Fed.
Selain kebijakan The Fed, pergerakan rupiah masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah. Ibrahim mengatakan ketegangan kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melakukan serangan lanjutan terhadap Iran.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Upaya mediasi yang dilakukan sejumlah negara, termasuk Qatar dan Oman, untuk membuka kembali Selat Hormuz sejauh ini belum menghasilkan perkembangan yang berarti.
Risiko terhadap pelayaran juga masih menjadi perhatian. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil saat keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada korban jiwa maupun laporan dampak lingkungan dalam insiden tersebut.
Bagi pasar keuangan, eskalasi geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Jika kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi, tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar.
"Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Hal ini meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi," kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, terdapat sejumlah indikator yang dapat menjadi penyangga rupiah. Salah satunya adalah neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus USD120 juta setelah pada Juni mengalami defisit USD450 juta. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Juli 2026 masih mencatat surplus USD3,70 miliar.
Ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar, naik 6,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara impor mencapai USD26,09 miliar. Secara kumulatif, ekspor Januari-Juli mencapai USD167,03 miliar, sedangkan impor mencapai USD163,33 miliar.
Surplus perdagangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga ketahanan eksternal Indonesia. Namun, kekuatan tersebut belum cukup untuk menghilangkan tekanan dari faktor eksternal yang sedang dominan di pasar valuta asing.
Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan ekonomi domestik setelah inflasi kembali meningkat pada Agustus.
BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,19%, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,86%. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Inflasi inti pada Agustus tercatat 2,92% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga masih menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam membaca ruang kebijakan ekonomi domestik.
Sementara itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan. S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia turun dari 50,2 pada Juli menjadi 49,8 pada Agustus 2026. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada dalam zona kontraksi.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kembali melemahnya output dan penyerapan tenaga kerja. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur tercatat mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Kondisi ini menjadi perhatian karena pelemahan aktivitas manufaktur dapat memberikan gambaran mengenai masih terbatasnya permintaan di sektor riil.
Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada data ekonomi AS yang keluar dalam beberapa hari mendatang.
Pelaku pasar akan mencermati data PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings. Namun, perhatian terbesar tertuju pada data ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.
Data tenaga kerja menjadi penting karena dapat memengaruhi penilaian pasar terhadap keputusan The Fed pada pertemuan September.
Jika data ekonomi AS menunjukkan perekonomian masih kuat dan tekanan inflasi belum cukup mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin menguat. Kondisi tersebut berpotensi menjaga dolar AS tetap kuat dan membuat rupiah berada di bawah tekanan.
Sebaliknya, jika data ekonomi AS menunjukkan perlambatan yang lebih tajam, pasar dapat kembali mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.
Dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (2/9/2026) masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah.
"Rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.740 sampai Rp17.790 per USD," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









