Dipicu Pangan dan Emas, Inflasi Agustus 2026 Tembus 3,19 Persen Secara Tahunan

AKURAT.CO Secara tahunInflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 0,21% secara bulanan atau month to month (mtm). Secara tahunan, inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 3,19% atau year on year (yoy).
Data tersebut menunjukkan tekanan harga masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2,5% plus minus 1%. Namun, jika dilihat berdasarkan komponennya, tekanan inflasi pada Agustus 2026 berasal dari sejumlah komoditas pangan dan emas perhiasan.
Sementara itu, kelompok administered prices justru mengalami deflasi. Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tarif angkutan udara menjadi faktor yang menahan laju kenaikan harga konsumen pada Agustus.
Baca Juga: Sektor Konsumer Tertekan Inflasi dan Kenaikan Bahan Baku, Perbankan Lebih Menarik
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perkembangan inflasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan moneter serta koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi.
“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah,” kata Denny dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Salah satu sumber tekanan harga pada Agustus 2026 berasal dari inflasi inti. Komponen ini mencatat inflasi 0,21% secara bulanan, meningkat dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 0,14%. Secara tahunan, inflasi inti juga meningkat menjadi 2,92% pada Agustus 2026 dari 2,76% pada bulan sebelumnya.
Bank Indonesia menyebut emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberikan sumbangan terhadap inflasi inti. Kenaikan tersebut terjadi seiring dengan peningkatan harga emas global.
“Inflasi inti tersebut disumbang terutama oleh komoditas emas perhiasan seiring peningkatan harga komoditas emas global,” ujar Denny.
Kenaikan inflasi inti menjadi salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan karena komponen ini menggambarkan pergerakan harga yang cenderung lebih mencerminkan tekanan permintaan dan faktor fundamental dibandingkan komponen harga yang sangat bergejolak.
Meski demikian, inflasi inti masih berada di bawah batas atas sasaran inflasi nasional.
Tekanan inflasi yang lebih besar terlihat pada kelompok volatile food atau komponen harga pangan yang bergejolak.
Pada Agustus 2026, kelompok volatile food mengalami inflasi 0,88% secara bulanan. Angka tersebut berbalik dibandingkan Juli 2026 yang mencatat deflasi 1,68%.
Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai 4,06%. Angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan posisi Juli 2026 sebesar 2,52%.
Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama kenaikan tersebut. Bank Indonesia mencatat daging ayam ras, cabai rawit, dan beras sebagai komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa meskipun inflasi umum masih berada dalam sasaran, tekanan harga pangan tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Kenaikan harga pangan juga memiliki dampak langsung terhadap rumah tangga karena komoditas tersebut merupakan bagian dari kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Bank Indonesia memperkirakan inflasi volatile food tetap terkendali ke depan dengan dukungan koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
Berbeda dengan pangan dan emas, kelompok administered prices justru memberikan tekanan negatif terhadap inflasi pada Agustus 2026.
Kelompok administered prices mencatat deflasi 0,33% secara bulanan. Kondisi tersebut berbalik dari Juli 2026 ketika kelompok ini mengalami inflasi 0,25%.
Penurunan tersebut terutama berasal dari tarif angkutan udara dan harga bensin.
Bank Indonesia menyebut penurunan harga avtur turut memengaruhi tarif angkutan udara. Selain itu, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo juga mengalami penurunan.
“Deflasi terutama disumbang oleh komoditas tarif angkutan udara dan bensin,” kata Denny.
Secara tahunan, kelompok administered prices masih mengalami inflasi 3,32%. Namun angka tersebut turun dari 3,58% pada Juli 2026.
Dengan demikian, perkembangan harga BBM nonsubsidi dan angkutan udara menjadi salah satu faktor yang membantu menahan kenaikan IHK pada Agustus.
Secara keseluruhan, inflasi IHK Agustus 2026 sebesar 3,19% masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% plus minus 1%.
Bank Indonesia menilai pencapaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter dan sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta Bank Indonesia.
Koordinasi tersebut dilakukan melalui TPIP dan TPID, termasuk melalui berbagai program pengendalian inflasi pangan.
Bank Indonesia juga menyebut penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional sebagai salah satu faktor yang mendukung pengendalian inflasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








