APBN Tertekan Gejolak Global, Pemerintah Jaga Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen PDB

AKURAT.CO Pemerintah mengakui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menghadapi tekanan yang semakin besar seiring perubahan kondisi global, mulai dari ketegangan geopolitik, volatilitas harga komoditas hingga bencana alam.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, kondisi tersebut membuat pemerintah harus menjaga fleksibilitas APBN agar dapat merespons berbagai guncangan yang berpotensi berdampak terhadap perekonomian domestik.
“APBN itu harus dijalankan dengan cukup fleksibel, karena harus bisa beradaptasi dengan yang namanya kondisi dunia yang berubah,” kata Suahasil dalam acara Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Tak Bebani APBN, Bahlil: Kemenko Hilirisasi Pakai Anggaran Kementerian ESDM
Menurutnya, meskipun APBN ditetapkan melalui undang-undang, pelaksanaannya tetap dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi dan global. Namun, fleksibilitas tersebut tetap harus berada dalam koridor tata kelola dan aturan fiskal yang berlaku.
“Fleksibel, tapi dengan tata kelola yang baik. Tetap dengan aturan di dalam aturan-aturan yang ada,” ujarnya.
Suahasil menjelaskan tekanan terhadap APBN dapat muncul dari berbagai sumber yang sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik, misalnya, dapat memengaruhi harga energi dan komoditas sekaligus meningkatkan volatilitas pasar global.
“Lalu kondisi dunia berubah, ketegangan geopolitik muncul, tiba-tiba Amerika dengan Iran main perang, tiba-tiba bencana alam, tiba-tiba volatilitas harga komoditas,” katanya.
Berbagai perubahan tersebut pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap perekonomian dalam negeri. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah menempatkan APBN sebagai penyangga atau shock absorber untuk meredam dampak guncangan ekonomi.
“Dan itu semua berdampak kepada perekonomian domestik, dan kita memposisikan APBN itu yang menjadi shock absorber-nya,” ujar Suahasil.
Defisit APBN 2026 Melebar
Tekanan tersebut tercermin dari perubahan postur APBN 2026. Dalam target awal, pemerintah memproyeksikan pendapatan negara sebesar Rp3.154 triliun dengan belanja negara Rp3.843 triliun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










