DPD RI Soroti Konflik Papua, Desak Solusi Komprehensif dan Perlindungan Masyarakat

AKURAT.CO DPD RI memberikan sorotan tajam terhadap dinamika situasi di Papua yang kian fluktuatif dalam sebulan terakhir.
Berdasarkan hasil serap aspirasi selama masa reses, DPD RI menekankan bahwa rentetan peristiwa yang terjadi pada 14 April lalu telah meninggalkan luka mendalam dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa oleh Pemerintah.
Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai memaparkan perubahan peta konflik pasca-pemekaran wilayah Papua. Saat Papua masih terdiri dari dua provinsi, titik konflik mayoritas terkonsentrasi di wilayah pegunungan yang mencakup delapan kabupaten, sementara wilayah seperti Papua Tengah relatif aman.
“Realita saat ini menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan. Harapan awal bahwa pemekaran dapat memecah simpul kelompok-kelompok tertentu justru berbanding terbalik, kekuatan mereka malah mengkristal. Khususnya di Papua Tengah yang dulu aman, kini justru marak terjadi konflik," ucap Yorrys saat Konferensi Pers di Nusantara III Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (21/4/26).
Menilik sejarah integrasi Papua yang telah melewati masa kepemimpinan delapan Presiden, DPD RI menilai penyelesaian masalah Papua memerlukan formula yang tepat dan konsisten. Selain isu keamanan, Yorrys juga menyoroti implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke.
"Kami menerima banyak laporan terkait rencana pemanfaatan lahan seluas 2 juta hektare di Merauke. Masyarakat mempertanyakan status lahan tersebut yang awalnya adalah hutan, bukan tanah datar siap tanam. Jika hutan ditebang, dampaknya harus diperhitungkan secara matang, karena ini menyangkut ekosistem dan masyarakat adat," tegas Yorrys.
Senada dengan Yorrys Raweyai, Anggota DPD RI asal Provinsi Papua Barat Filep Wamafma membeberkan konflik bersenjata antara KKB dan aparat TNI/Polri di Kabupaten Puncak yang kembali menelan korban jiwa pada 14 April 2026. Kejadian tragis tersebut dilaporkan mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia, termasuk seorang anak di bawah lima tahun, serta tujuh orang lainnya mengalami luka berat.
“Dampak dari konflik ini juga memaksa ratusan warga untuk mengungsi ke berbagai wilayah sekitar,” terang Filep.
Filep menegaskan bahwa fenomena kekerasan yang terus berulang ini merupakan akumulasi dari persoalan struktural yang hingga kini belum terselesaikan secara menyeluruh. Selain terjadi di beberapa provinsi di Tanah Papua, wilayah Provinsi Papua Pegunungan dan Papua Tengah menjadi daerah dengan dampak yang sangat memprihatinkan.
“Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, akses pendidikan, serta layanan kesehatan. Tidak sedikit dari mereka hidup dalam kondisi yang jauh dari standar kemanusiaan yang layak. Sebagian besar pengungsi belum mendapatkan perhatian optimal, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah," ujar Filep.
Selain faktor keamanan, Filep juga menyoroti fakta kemiskinan di Tanah Papua yang masih menjadi persoalan serius. Berdasarkan data nasional, Tanah Papua secara konsisten berada dalam kategori provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia.
“Hal ini menjadi indikator adanya ketimpangan pembangunan yang belum teratasi secara efektif, meskipun berbagai kebijakan afirmatif telah digulirkan oleh pemerintah,” lontarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penyelesaian kasus pelanggaran HAM selama beberapa dekade terakhir yang belum tuntas secara adil dan transparan turut memperkeruh situasi.
“Ketidakjelasan dalam penanganan kasus-kasus tersebut dinilai memperdalam rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dan memperpanjang siklus konflik yang terus terjadi hingga saat ini,” kata Filep.**
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






