Pradipa Institute: Akurasi Data Bansos Kunci Tepat Sasaran, Reformasi Digital Berbasis AI Mesti Dipercepat

AKURAT.CO Pradipa Institute mendorong pemerintah mempercepat reformasi digital dalam tata kelola data bantuan sosial (bansos) guna meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sekaligus menjaga kepercayaan publik.
Dorongan tersebut disampaikan menyusul masih ditemukannya persoalan salah sasaran, keterlambatan pembaruan data, hingga belum optimalnya integrasi sistem antarlembaga pemerintah yang dinilai mengurangi efektivitas program perlindungan sosial.
Deputi Direktur Pradipa Institute, Agus Surono, mengatakan, tantangan utama penyaluran bansos saat ini bukan terletak pada besarnya anggaran, melainkan kualitas data penerima manfaat.
"Keberhasilan program bantuan sosial sangat ditentukan oleh akurasi data. Ketika data tidak diperbarui secara berkala, risiko terjadinya salah sasaran akan semakin besar. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya memperoleh bantuan justru tidak terlayani, sementara mereka yang sudah tidak memenuhi kriteria masih tercatat sebagai penerima," kata Agus di Jakarta, Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah lambatnya pembaruan data di tingkat daerah sehingga basis data tidak lagi mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat terkini.
Selain itu, masih ditemukan inclusion error, yakni masyarakat yang tergolong mampu masih menerima bantuan, serta exclusion error, ketika warga miskin justru belum masuk dalam daftar penerima manfaat.
Agus juga menilai proses verifikasi yang masih didominasi mekanisme manual membuat birokrasi menjadi lebih panjang dan berpotensi menimbulkan kesalahan administrasi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pradipa Institute mengusulkan tiga langkah strategis.
Pertama, memperkuat integrasi data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan menghubungkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dengan berbagai basis data pemerintah, seperti data perpajakan, kepemilikan aset, dan kepesertaan BPJS.
Kedua, mempercepat digitalisasi pembaruan data melalui mekanisme bottom-up, dengan memberikan akses kepada masyarakat untuk melaporkan perubahan kondisi ekonomi melalui aplikasi digital, disertai pembaruan data secara berkala oleh pemerintah desa.
Baca Juga: Bea Cukai Gagalkan Peredaran 7,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Sulsel
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






