Eskalasi Kekerasan dan Konflik Papua Makin Marak, DPD RI Minta Prabowo Beri Langkah Konkret

AKURAT.CO Presiden RI, Prabowo Subianto, diminta memberiksan solusi konkret untuk menyelesaikan kasus dan konflik yang telah terjadi di Papua. Sebab, eskalasi kekerasan di Papua terus merambah ke kawasan perkotaan, dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), hingga polemik Proyek Strategis Nasional (PSN).
"Sekarang sampai sekarang ini, sudah Presiden ke- VIII Belum ada satu kepastian dari pemerintah, apa sih visinya penyelesaian Papua, belum ada," kata Ketua Panitia Khusus (Pansus) Papua DPD RI, Yorrys Raweyai, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, fokus Pansus tidak hanya pada isu HAM dan keterlibatan TNI, namun juga pada pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menimbulkan gejolak sosial, seperti di Papua Selatan dan Kabupaten Biak.
Baca Juga: Pansus DPD dan Komnas HAM Kolaborasi Usut Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua
Khusus di Biak, Yorrys menyoroti kesepakatan peluncuran satelit antara pemerintah Indonesia dan badan antariksa Rusia, Roscosmos, yang minim sosialisasi kepada masyarakat setempat.
"Ini masalah yang membuat masyarakat itu tidak memahami apa tujuannya karena sosialisasi tidak berjalan dengan baik sehingga tiba-tiba sudah ada orang asing yang begitu banyak, peralatan masuk, dan lain-lain. Ini menjadi persoalan tersendiri," jelasnya.
Selain itu, Pansus DPD juga menyoroti dampak pemekaran wilayah Papua yang sebelumnya diharapkan dapat meredam konflik. Namun, gerakan kekerasan dan konflik dinilai semakin merambah luas.
"Setelah dimekarkan menjadi 6 provinsi dengan harapan bahwa seluruh suku-suku itu dia akan kembali, ternyata ini malah makin mekar dan gerakan-gerakan itu sudah bukan hanya di hutan, tetapi dia sudah merambah ke perkotaan. Itu persoalannya," ucapnya.
Karena itu, Yorrys menekankan bahwa hasil rekomendasi Pansus Papua DPD RI akan langsung diserahkan kepada Presiden dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, dia menegaskan pentingnya sikap dan kepastian dari Kepala Negara.
Baca Juga: Status Tanggap Darurat Puncak Papua Tengah Ditetapkan 14 Hari, Ini Dampak Kebakaran dan Hujan Es
"Karena memang kita presiden ke-8 ini kan belum pernah memberikan statement apa pun mengenai masalah Papua. Sekarang sampai sekarang ini, sudah presiden ke-8 belum ada satu kepastian dari pemerintah,” keluhnya.
Pansus Papua DPD RI bukanlah eksekutor, dalam hal ini hanya dapat memberikan rekomendasi. Untuk itu, pihaknya akan menggandeng Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
Karena itu, dia mengajak semua pihak untuk bahu membahu menyelesaikan persoalan secara bersama-sama. "Dengan awal yang baik ini, niat kita yang sama, dengan semangat idealisme yang sama, mari kita selesaikan Papua dalam konteks NKRI," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







