Akurat Logo

Ratusan Perusahaan Pemegang HGU Diminta Perkuat Penanganan Karhutla di Tengah Puncak El Nino

Ayu Rachmaningtyas | 7 September 2026, 21:19 WIB
Ratusan Perusahaan Pemegang HGU Diminta Perkuat Penanganan Karhutla di Tengah Puncak El Nino
Rakor penanganan karhutla. - Akurat.co/Ayu Rachmaningtyas

AKURAT.CO Pemerintah menggelar rapat koordinasi dengan Perusahaan Pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dan Perizinan Usaha Pemanfaatan Hutan, dalam penanggulangan dan penanganan puncak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam rapat tersebut, pemerintah mengingatkan 358 perusahaan pemegang HGU yang hadir untuk tidak lengah menghadapi potensi peningkatan karhutla. Terlebih lagi, fenomena El Nino belum mencapai puncaknya, sehingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih sangat tinggi terjadi di Indonesia.

Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengatakan El Nino berpotensi meningkatkan kekeringan dan risiko kebakaran. Kondisi tersebut masih akan bergelombang dan dapat meningkat apabila tidak ditangani dengan tepat.

Baca Juga: Karhutla Meningkat, 138 Orang Jadi Tersangka dan 8 Korporasi Masih Diproses

Meski kawasan hutan dan lahan yang terbakar mulai menunjukkan peningkatan, namun angkanya masih relatif rendah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Yang melatarbelakangi kita berhadapan dengan para pengusaha ini, kita belum sampai ke puncaknya El Nino. Kawasan hutan dan lahan yang terbakar pun sudah mulai agak meningkat. Tentunya kita masih berada pada posisi yang relatif, saya tidak berani mengatakan normal ya, tapi posisinya masih agak rendah," kata Djamari dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Dia menekankan, penanganan harus terus diupayakan sekalipun ditemukan kebakaran yang disebabkan oleh kesengajaan maupun kelalaian. Karena itu, penegakan hukum terhadap pelanggaran akan terus dilakukan.

"Kami juga berusaha untuk menegakkan aturan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Karena kami temukan di lapangan, ada tindakan-tindakan yang menyebabkan kebakaran ini diakibatkan karena kesengajaan maupun kelalaian," ucapnya.

Djamari juga menyinggung praktik pembakaran sebagai bagian dari 'kearifan lokal'. Pembakaran tersebut dimaksudkan untuk kepentingan lokal, dengan luas maksimal 2 hektar yang saat ini diminta untuk dihentikan dengan berkoordinasi dengan Pemda.

"Hentikan ketentuan itu di seluruh Pemda. Kita hentikan, semua berhenti, dan kami akan coba perbaiki semuanya itu. Kelak mungkin kita atur kembali masalah-masalah itu, tapi hari ini berhenti," jelasnya.

Baca Juga: Prabowo Geram Lahan Karhutla Jadi Perkebunan: Selidiki, Saya Ingin Tahu itu Korporasi Milik Siapa

Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Tri Handoko Seto, mengatakan pengaruh El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. Namun, persoalan kekeringan dan karhutla diperkirakan mulai mereda setelah memasuki musim hujan.

"Sampai dengan awal tahun 2027. Tetapi El Nino itu pengaruh keringnya lebih kuat karena berbarengan dengan musim kemarau," kata dia.

Diperkirakan periode paling berat terjadi hingga akhir September. Memasuki Oktober, kondisi akan berangsur membaik dikarenakan sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki periode dengan curah hujan lebih tinggi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.