Hadapi Kemarau Panjang, Puan Minta Pemerintah Perkuat Infrastruktur Ketahanan Air

AKURAT.CO Ketua DPR RI, Puan Maharani, meminta pemerintah memperkuat penanggulangan krisis air bersih di tengah meluasnya kekeringan akibat kemarau panjang di sejumlah daerah.
Pemerintah perlu menyiapkan langkah penanganan, sejak suatu wilayah mulai menunjukkan penurunan ketersediaan air. Pemerintah tidak boleh baru bergerak ketika masyarakat sudah berada dalam kondisi darurat.
"Ketahanan air di Indonesia tengah diuji dengan banyaknya daerah yang mengalami krisis air dan kekeringan akibat kemarau panjang. Pemerintah perlu melakukan intervensi penanggulangan untuk membantu masyarakat terdampak," kata Puan dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Diperkirakan Meningkat, Musim Kemarau hingga Karhutla Jadi Penyebabnya
Dia meminta pemerintah segera menyiapkan distribusi air, memeriksa sumber air alternatif, serta memastikan ketersediaan fasilitas penyimpanan air di daerah yang mulai mengalami penurunan pasokan.
Menurutnya, langkah tersebut penting mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyediakan informasi mengenai peringatan dini kondisi cuaca dan iklim. Penanganan krisis air tidak seharusnya terus berulang dengan pola yang sama setiap musim kemarau.
Masyarakat tidak boleh terus berada dalam kondisi menunggu hujan, mengalami kekurangan air, mencari sumber alternatif, kemudian menerima bantuan tangki air sebelum kembali menghadapi persoalan serupa pada musim kemarau berikutnya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah menjalankan dua langkah secara bersamaan. Pertama, memastikan kebutuhan air masyarakat terdampak terpenuhi selama krisis. Kedua, membangun sistem dan infrastruktur yang membuat masyarakat lebih siap menghadapi kekeringan berikutnya.
Baca Juga: Kementerian PU Tangani Kekeringan di 3.288 Wilayah, Fokus di Area Persawahan hingga Lokasi Karhutla
Dia menekankan pembangunan infrastruktur ketahanan air berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kekeringan. Apalagi, BMKG telah memprediksi kondisi iklim Indonesia bergerak menuju periode kering yang lebih panjang. Di mana, Juli 2026 tercatat sebagai bulan dengan curah hujan terendah di Indonesia sejak 1991.
Menurut Puan, keberhasilan pemerintah dalam menangani kekeringan tidak cukup diukur dari kemampuan mengirimkan bantuan air setelah krisis terjadi. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat memiliki akses terhadap air yang cukup, aman, dan berkelanjutan sebelum kondisi mencapai titik darurat.
"Infrastruktur harus semakin ditingkatkan," ucapnya.
Dia mencontohkan krisis air yang terjadi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Krisis air di wilayah tersebut telah berlangsung sekitar tiga pekan, sehingga warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







