Jelajah Kemolekan Sorong Selatan, Ruang Hidup yang Layak Dikenal dengan Hormat

AKURAT.CO Bagi masyarakat di Kepala Burung Papua, papeda adalah makanan sehari-hari. Namun hari ini, papeda menjadi pintu masuk bagi warga Jakarta untuk mengenal sebuah wilayah yang selama ini jarang terdengar.
Momen itu menjadi bagian dari pembukaan 'Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua', sebuah program yang lahir dari kolaborasi antara Konservasi Indonesia (KI), National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.
Program ini mengangkat tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, yaitu Klaogin, Konda, dan Bariat, yang tengah merintis ekowisata berbasis masyarakat.
Baca Juga: Pariwisata Jabar Menggeliat, Wisatawan Nusantara Mencapai 149 Juta Perjalanan
Pembukaan acara ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan berupa pameran foto, dialog bersama narasumber dari pemerintah, lembaga konservasi, dan kepala kampung, pertunjukan tari, hingga demonstrasi masak pangan lokal.
Sorong Selatan menyimpan bentang hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat beragam flora dan fauna. Namun bagi masyarakatnya, hutan itu lebih dari sekadar kawasan ekologis. Di sanalah mereka mencari pangan, belajar membaca musim, dan mewariskan cerita dari generasi ke generasi.
'KI bangga dan haru berdiri di tanah Sorong Selatan yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, menyimpan hutan rawa gambut tropis yang menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa. Namun bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas, di sanalah mereka menggantungkan pangan, membaca tanda-tanda musim, serta merawat cerita leluhur," ujar Senior Vice President and Executive Chair, Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, Jumat (2/10/2026).
"Berperan penting sebagai paru-paru ekologis, dari sinilah ekowisata yang kami dorong bermula. Masyarakat adat bukan sekadar pelengkap wisata, melainkan pemangku kearifan lokal sekaligus penjaga utama benteng hijau mereka. Program ini sengaja dirancang agar tidak berhenti pada keindahan lanskap," tambahnya.
Baca Juga: Artotel Ungkap Strategi Bisnis Hotel di Tengah Tren Wisata Baru
Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, mengatakan cara sebuah tempat diceritakan ikut menentukan bagaimana tempat itu kelak diperlakukan. Karena itu, dia ingin mengajak orang datang sebagai pejalan yang mau memahami, bukan sekadar melihat.
"Sekarang ini, sebuah tempat bisa viral dalam hitungan hari, dan itu tidak selalu kabar baik bagi tempat tersebut. Kekaguman itu awal yang baik, tapi tidak cukup. Yang kami harapkan, orang mengenal Sorong Selatan sebagai rumah bagi masyarakatnya, bukan hanya sebagai pemandangan yang indah," kata Didi.
Semangat tersebut turut diwujudkan melalui pameran foto yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran, sebagai upaya membawa cerita Sorong Selatan lebih dekat kepada audiens yang lebih luas di Jakarta dan Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








