Kritik terhadap Dialog Antaragama Model Apologetik-Konfrontatif

DALAM era digital yang kian bising oleh debat antar keyakinan, kita menyaksikan munculnya model dialog antar agama yang cenderung apologetik-konfrontatif.
Model ini bertujuan mempertahankan kebenaran iman masing-masing, tetapi kerap melakukannya dengan cara yang menyerang.
Polanya repetitif: comot ayat kitab suci agama lain, benturkan dengan ayat Qur’an, lalu simpulkan kemenangan Islam atas "kesalahan" agama lain.
Sorak sorai pun meledak, seolah kebenaran telah ditaklukkan di panggung debat. Tapi benarkah ini kemenangan iman, atau hanya ekspansi ego?
Model ini sejatinya bukan hanya muncul dari sebagian Muslim, tapi juga dari penganut agama lain. Ayat-ayat Qur’an dipenggal dari konteksnya, dijauhkan dari tafsir, lalu dijadikan bukti "kesalahan" Islam. Ujungnya adalah debat penuh tensi, bukan percakapan yang mencerahkan.
Baca Juga: Mewujudkan Mimpi Gus Dur: Sinta Nuriyah dan Pramono Bahas Pusat Kajian Islam Asia Tenggara
Inilah wajah dari skripturalisme literal yang kering dari nuansa. Kitab suci dijadikan bahan bakar argumen, bukan sumber cahaya hati.
Tafsir yang kaya, sejarah yang panjang, serta kebijaksanaan para ulama dan pemuka agama diabaikan demi satu tujuan sempit: membuktikan bahwa "kami paling benar."
Padahal, justru dalam pendekatan ini, kita kehilangan esensi terdalam dari beragama: kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama.
Jika kita kembali menengok sejarah Islam, model seperti itu justru bertolak belakang dari dakwah Rasulullah.
Saat utusan Kristen Najran datang ke Madinah, Nabi Muhammad menyambut mereka di masjidnya—bukan dengan penghakiman, tetapi dengan sambutan hangat.
Bahkan ketika mereka ingin beribadah menurut agama mereka, beliau mempersilakan mereka di tempat yang sama.
Di sinilah kita melihat Islam bukan hanya mengajarkan kebenaran, tapi juga cara menyampaikan kebenaran dengan penuh adab.
Al-Qur’an sendiri memerintahkan:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (QS. Al-An’am: 108)
Ayat ini mengajarkan etika beragama yang tinggi: jangan karena merasa benar, lalu merasa berhak mencela. Sebab agama bukan ajang kontestasi debat, melainkan jalan menuju kedamaian spiritual dan sosial.
Pertanyaannya: mengapa model apologetik-konfrontatif begitu populer hari ini? Jawabannya bisa ditelusuri dari ekosistem media sosial yang menyukai konten viral, dramatis, dan memicu emosi.
Dialog penuh empati dan nuansa sering dianggap membosankan. Kita lebih tertarik pada “knock-out” dalam debat daripada proses memahami keyakinan orang lain.
Namun, kita perlu bertanya lebih dalam: benarkah kemenangan dalam debat menjamin kemenangan dalam dakwah? Ataukah justru membuat tembok semakin tinggi, dan telinga semakin tertutup?
Islam tidak hanya bicara soal mana yang benar, tapi juga bagaimana menyampaikan yang benar. Dalam konteks pluralisme masyarakat modern, model dakwah dan dialog harus kembali pada hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), dan mujadalah bil-lati hiya ahsan (perdebatan dengan cara terbaik), seperti termaktub dalam QS. An-Nahl ayat 125.
Baca Juga: Geger Video Viral Terbaru Andini Permata, Ini Hukum Menyebarluaskannya dalam Islam
Alih-alih apologetik-konfrontatif, kita membutuhkan model dialog yang inklusif-reflektif. Model yang tidak memaksakan pemahaman, tapi mengundang untuk memahami.
Yang tidak hanya membela kebenaran, tapi juga mengedepankan cinta dan akhlak. Karena kebenaran yang tak dibarengi adab, justru akan menciptakan luka, bukan hidayah.
Akhirnya, kritik terhadap model apologetik-konfrontatif bukan berarti menolak pembelaan terhadap iman.
Tapi ini adalah ajakan untuk melakukan pembelaan itu dengan cara yang lebih luhur: dengan akal yang jernih, hati yang lembut, dan tutur yang menyejukkan.
Disadur dari tulisan Nadirsyah Hosen, Guru Besar Fakultas Hukum, Universitas Melbourne.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









