Pradoks Dana SAL di Perbankan dan Pelambatan Kredit Dunia Usaha

AKURAT.CO Pada Hari Senin, 22 Desember 2025, Kepala Departemen Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro menyampaikan bahwa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp276 triliun di perbankan dinilai belum cukup kuat untuk mendorong penurunan signifkan suku bunga kredit.
Hal ini sejalan dengan survey Apindo yang menilai bahwa 43,05% pelaku usaha menyebut tingkat suku bunga kredit perbankan terlalu tinggi.
Pada dasarnya, ada 3 (tiga) tantangan dalam meningkatkan akses modal dan demand terhadap kredit. Pertama, adalah faktor high cost of capital. Suku bunga di Indonesia relatif kurang kompetitif dibandingkan dengan negara ASEAN, maupun Asia lainnya. Indonesia hanya sedikit lebih baik dibandingkan dengan Sri Lanka.
Dan secara kompetitif, masih kalah dibandingkan Vietnam, Malaysia, Thailand dan Kamboja. Pemerintah harus fokus mendorong daya saing dengan insentif moneter yang tepat sasaran dan tepat momentum.
Baca Juga: Uang Primer Oktober 2025 Melonjak, Gubernur BI: Dampak Penempatan SAL Pemerintah di Perbankan
Tantangan kedua, adalah pelemahan daya beli masyarakat. Sinyal daya beli sudah mulai membaik, tetapi belum sepenuhnya pulih. Indikator penurunan daya beli ini sesuai dengan data tabungan rumah tangga yang secara umum mengalami penurunan, kecuali untuk kelas atas.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga sudah membaik, tapi belum setinggi awal 2025 yang mencapai level 127. Bulan November 2025 sudah menyentuh level 124, rebound sejak Bulan September dan Oktober. Indikator IKK yang terus membaik menjadi sinyal positif tentang daya beli masyarakat.
Tantangan ketiga, adalah kualitas layanan keuangan. Daya saing dari efisiensi layanan keuangan di Indonesia masih menempati urutan terendah setelah Singapura, Vietnam dan Filipinan di regional ASEAN.
Menurut survey business ready oleh World Bank perbankan di Indonesia mempunyai nilai 60 dari skala 100. Digitalisasi dan deregulasi diyakini bisa mendorong efisiensi operasional layanan keuangan.
Untuk perbaikan ke depan, dunia usaha mendorong agar stimulus yang holistik harus didesain untuk menyelesaikan masalah struktural penurunan daya beli dan high cost of doing business. Stimulus dan insentif harus menjawab 2 (dua) hal, dari sisi demand dan sisi supply.
Dari sisi demand, struktur pengeluaran masyarakat perlu diefisienkan. Hal ini meliputi biaya transportasi, biaya hunian, konsumsi harian, cicilan, pendidikan, kesehatan dan skill. Dari sisi supply, tingginya biaya produksi dan berusaha harus ditekan. Hal ini meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja, biaya pinjaman, energi, logistik, barang modal dan teknologi.
Pemerintah harus secara komprehensif mendorong bauran kebijakan fiskal, moneter dan regulasi pendukung, agar bisa menjadi pendorong daya ungkit kredit yang sehat, affordable buat dunia usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih eskalatif. Harapan dunia usaha ke depan tidak terjadi paradoks, likuiditas dana perbankan bisa berbanding lurus dengan tingkat kucuran kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Ajib Hamdani
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







