Jurnalisme Bencana melalui Radio: Ketika Informasi Menjadi Teknologi Pendidikan

KETIKA asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti permukiman, yang hilang bukan hanya jarak pandang, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
Sekolah mungkin ditutup, anak-anak belajar dari rumah, orang tua mencari informasi kualitas udara, guru mencari cara melanjutkan pembelajaran, sementara pemerintah menyampaikan berbagai imbauan.
Dalam situasi tersebut, media memiliki tugas penting: memastikan masyarakat mengetahui apa yang terjadi, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana melindungi diri. Di sinilah jurnalisme bencana menjadi penting.
Di tengah dominasi media sosial, streaming, portal berita, dan kecerdasan buatan, radio mungkin terlihat sebagai medium lama. Namun dalam situasi bencana, karakter radio justru menjadi kekuatan.
Radio bukan sekadar alat menyampaikan berita, tetapi dapat menjadi infrastruktur informasi, ruang pendidikan publik, sekaligus teknologi pendidikan yang tangguh.
Ketika Bencana Menjadi Krisis Informasi
Bencana selalu meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap informasi.
Mereka ingin mengetahui wilayah terdampak, sekolah yang ditutup, kualitas udara, lokasi pengungsian, kondisi layanan publik, serta langkah perlindungan bagi anak-anak.
Persoalannya, kebutuhan informasi meningkat ketika infrastruktur komunikasi justru dapat terganggu. Internet bisa lambat, listrik padam, dan jaringan seluler mengalami gangguan.
Media sosial tetap ramai, tetapi kebenaran informasi yang beredar belum tentu dapat dipastikan.
Karena itu, persoalan dalam bencana bukan hanya kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa verifikasi.
Jurnalisme bencana tidak cukup hanya memberitakan luas lahan yang terbakar atau menampilkan kepulan asap.
Media harus mengubah informasi teknis menjadi pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat.
Berapa jarak aman dari asap? Apa arti indeks kualitas udara? Apakah anak-anak boleh beraktivitas di luar? Kapan sekolah perlu diliburkan? Apa yang harus dilakukan orang tua? Bagaimana membedakan informasi resmi dengan kabar yang belum terverifikasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan pertanyaan pendidikan. Jurnalisme bencana dan pendidikan memiliki titik temu: keduanya membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.
Baca Juga: Teknologi Keselamatan Jadi Andalan Industri Hadapi Risiko Kebakaran dan Asap
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









