Strategi Baru Memadukan Tanaman Kehutanan dan Pertanian Tanpa Merusak Lingkungan

PERKEMBANGAN dunia pertanian dan perkebunan seringkali terbentur dengan kekurangan lahan dan perlu adanya kebijakan baru terkait lahan tanpa merusak lingkungan. Sementara itu kebutuhan masyarakat akan hasil bumi seperti kopi, karet, kakao, dan rempah terus meningkat.
Untuk menjawab hal itu, buku berjudul "Agroforestri Intensif, Pembentukan Agroekosistem Baru" memperkenalkan cara memadukan tanaman kehutanan dan pertanian secara terarah untuk membentuk tatanan agroekosistem baru yang adaptif.
Buku ini adalah hasil kolaborasi yang menarik, dua orang penulis berpengalaman yaitu Heru Santoso dari Kehutanan dan Antropologi UGM dan Edi Purwanto, kelahiran Kediri, Sarjana dari Kehutanan IPB yang melanjutkan S2 dan S3 di Belanda. Saat ini keduanya aktif di Tropenbos Indonesia, suatu institusi yang banyak melakukan kajian tentang Agroforestri Intensif di Indonesia.
Dari Sejarah Agroforestri Hingga Tujuan
Buku ini sangat menarik bagi para pengamat dunia pertanian dan kehutanan untuk mengetahui apa sebenarnya Agroforestri Intensif, sejarahnya bagaimana, dan tujuan utama dikembangkan untuk apa? Dikemas secara ringan, buku ini tipis dengan tebal 170 halaman namun isinya sangat bernas dan lengkap.
Terdiri dari enam bab, bab pertama Menengok Kembali Agroforestri, bab kedua Menuju Agroforestri Intensif, bab ketiga Mewujudkan Agroforestri Intensif, bab empat Memulai dari Sentra Produksi, Bab kelima Dukungan Kebijakan dan Kelembagaan dan bab enam Inisiatif Tropenbos Indonesia Indonesia melakukan Agroforestri Karet.
Agroforestri adalah sistem pemanfaatan lahan yang memadukan pepohonan, tanaman pangan dan ternak dengan cara menciptakan sinergi sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati. Sistem ini telah dipraktikkan di Indonesia selama berabad-abad dan merupakan komponen penting dari ekonomi pedesaan selama ini. Praktik agroforestri sangat bervariasi tergantung pada keragaman wilayah, bentang alam dan kondisi ekologi.
Di beberapa wilayah agroforestri bisa berupa campuran tanaman semusim dengan pepohonan secara tumpangsari atau larikan berselang seling, sementara di wilayah lain bisa berupa sistem terpadu dan kompleks mencakup banyak komponen dan ekosistem.
Sistem agroforestri umumnya dikembangkan secara lokal, ditopang oleh petani lokal, memanfaatkan peluang pasar lokal untuk mengatasi kendala lokal.
Kebun Campur yang dibangun kalangan masyarakat subkultur sejak seabad ini lebih dikodifikasi oleh John Bene pada 1970-an, lantas dirayakan oleh kalangan akademik, juga birokrat sampai hari ini.
Agroforestri pun dijadikan instrumen pembangunan, terutama sektor kehutanan untuk rehabilitasi hutan dan lahan sekaligus pemenuhan masyarakat subsistensi.
Alih-alih meningkatkan kualitas kebu-kebun campur, kodifikasi dan adopsi pada akhirnya cenderung menjadikan praktik agroforestri mengalami involusi. Sebagai sebuah moda produksi, agroforestri tidak banyak berkembang secara signifikan. Pada titik inilah agroforestry intensif diperlukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK




