Kenapa Matahari Terasa Lebih Terik Sekarang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

AKURAT.CO Banyak orang merasa cuaca belakangan ini jauh lebih panas dibandingkan beberapa tahun lalu. Matahari terasa lebih terik, kulit cepat panas, dan aktivitas di luar ruangan jadi tidak nyaman.
Pertanyaannya, kenapa matahari terasa lebih terik sekarang, padahal jaraknya dari Bumi tidak berubah?
Fenomena ini bukan sekadar perasaan. Ada beberapa faktor ilmiah dan lingkungan yang menyebabkan panas matahari terasa lebih menyengat.
Artikel ini akan membahas penyebabnya secara lengkap dan mudah dipahami.
Apakah Matahari Benar-benar Lebih Panas?
Secara ilmiah, energi Matahari relatif stabil dan tidak mengalami peningkatan drastis dalam waktu singkat, sehingga rasa terik yang dirasakan bukan karena Matahari bertambah panas.
Melainkan akibat perubahan kondisi Bumi seperti udara kering, minim awan, posisi Matahari yang lebih tegak terhadap permukaan, serta efek urbanisasi yang memerangkap panas di kota-kota besar.
Penyebab Matahari Terasa Lebih Terik Sekarang
Ada beberapa hal yang menyebabkan matahari terasa lebih terik sekarang, di antaranya:
1. Perubahan Iklim dan Pemanasan Global
Pemanasan global menjadi penyebab utama mengapa matahari terasa lebih terik sekarang. Meningkatnya gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) membuat panas matahari terperangkap lebih lama di atmosfer. Akibatnya, suhu udara meningkat, panas bertahan lebih lama, dan siang hari terasa jauh lebih menyengat.
2. Menipisnya Lapisan Ozon
Lapisan ozon melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet (UV), dan penipisannya menyebabkan radiasi UV mencapai permukaan lebih banyak. Dampaknya, kulit terasa perih lebih cepat, risiko sunburn meningkat, serta panas matahari terasa lebih tajam.
3. Perubahan Pola Musim
Perubahan iklim memengaruhi pola musim, membuat musim kemarau lebih panjang, kering, dan panas dari biasanya. Saat curah hujan berkurang, awan minim sehingga radiasi matahari langsung mengenai permukaan Bumi tanpa penghalang.
4. Efek Urban Heat Island di Perkotaan
Di wilayah perkotaan, efek urban heat island memperkuat panas karena bangunan beton, aspal, dan minim pepohonan menyerap panas siang hari lalu melepaskannya di sore hingga malam. Inilah mengapa suhu kota sering lebih panas daripada pedesaan.
5. Kelembapan Udara yang Tinggi
Kelembapan tinggi menghambat penguapan keringat, membuat tubuh sulit mendingin meski suhu tak terlalu ekstrem. Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan memperburuk sensasi terik di kulit.
Dampak Matahari Terik bagi Kesehatan
Paparan panas matahari berlebihan dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan serius yang perlu diwaspadai.
1. Dehidrasi: Tubuh kehilangan cairan cepat karena keringat berlebih, menyebabkan mulut kering, pusing, dan kelelahan.
2. Heat Exhaustion: Gejala meliputi mual, pingsan, dan denyut nadi cepat akibat kelelahan panas.
3. Heat Stroke: Kondisi darurat dengan suhu tubuh di atas 40°C, kebingungan, dan risiko kematian jika tak ditangani.
4. Iritasi Kulit: Terbakar sinar matahari menyebabkan kemerahan, gatal, dan lecet pada kulit.
5. Peningkatan Risiko Kanker Kulit: Paparan UV berlebih merusak DNA sel kulit, meningkatkan kemungkinan melanoma jangka panjang.
Cara Mengurangi Dampak Terik Matahari
● Hindari aktivitas luar ruangan pada pukul 10.00–16.00
● Gunakan pelindung diri seperti topi, payung, kacamata, dan sunscreen
● Kenakan pakaian berwarna cerah dan longgar
● Minum air putih 2-3 liter per hari untuk mencegah dehidrasi
● Istirahat secara berkala di tempat teduh
● Dukung peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mengurangi panas di perkotaan
Kesimpulan
Matahari terasa lebih terik sekarang bukan karena mataharinya berubah, melainkan akibat perubahan lingkungan di Bumi.
Pemanasan global, menipisnya lapisan ozon, perubahan musim, dan kondisi perkotaan membuat panas matahari terasa lebih intens.
Memahami penyebab ini penting agar kita lebih waspada, menjaga kesehatan, dan ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan.
Laporan: Vidhia Ramadhanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







