Pentingnya Kesiapan Mental Gen Z untuk Karier Global

AKURAT.CO Peluang kerja di luar negeri semakin terbuka bagi generasi muda Indonesia.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) sebelumnya juga mendorong mahasiswa dan lulusan muda untuk memanfaatkan peluang karier global, sebagai salah satu upaya memperluas kesempatan kerja bagi tenaga terdidik Indonesia.
Di tengah peluang tersebut, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) menghadapi tantangan baru.
Masuknya Gen Z ke pasar kerja internasional turut membawa perubahan dalam cara generasi muda memandang pekerjaan dan kontrak kerja di luar negeri.
Bagi sebagian pekerja muda, bekerja di luar negeri tidak lagi hanya dilihat sebagai kesempatan memperoleh penghasilan yang lebih tinggi.
Pengalaman kerja juga semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari pengembangan diri, peningkatan keterampilan, serta investasi untuk membangun karier dalam jangka panjang.
Menurut Owner TRUSTINDO Consultant, Wina Novita Dewi, cara pandang Gen Z terhadap pekerjaan kini semakin berkembang.
Bagi generasi muda, pekerjaan bukan lagi semata-mata tentang besaran gaji. Tetapi juga tentang kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan diri, memperoleh pengalaman, membangun keterampilan, serta memiliki prospek karier yang berkelanjutan.
"Mereka mulai melihat pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan untuk membangun kapasitas dan masa depan, bukan hanya sebagai sumber penghasilan. Perubahan ekspektasi ini membuat proses persiapan calon pekerja menjadi semakin penting. Selain kemampuan bahasa, keterampilan teknis, dan kesiapan fisik, aspek psikologis seperti motivasi, stabilitas emosi, daya juang, serta kemampuan beradaptasi juga perlu menjadi perhatian sejak proses seleksi," jelasnya, melalui keterangan yang diterima, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Terbuka Turun per Mei 2026, Serapan Tenaga Kerja Naik 522 Ribu Orang
Ketika Ekspektasi Tidak Sesuai Realitas
Generasi muda saat ini memiliki akses informasi yang semakin luas mengenai pekerjaan, lingkungan kerja, hingga peluang pengembangan karier.
Kondisi tersebut membuat calon pekerja datang dengan ekspektasi yang lebih beragam terhadap pekerjaan yang akan mereka jalani.
Di satu sisi, hal ini dapat menjadi hal positif karena pekerja semakin sadar terhadap arah karier dan pengembangan dirinya. Namun di sisi lain, ketidaksesuaian antara ekspektasi awal dengan kondisi pekerjaan di negara tujuan dapat menimbulkan tantangan dalam proses adaptasi.
Perbedaan budaya kerja, ritme pekerjaan, kedisiplinan, pola komunikasi, hingga kondisi kehidupan sehari-hari dapat memicu culture shock apabila calon pekerja belum memiliki kesiapan mental yang memadai.
Karena itu, kemampuan bertahan dalam tekanan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru menjadi bagian penting dari keberhasilan penempatan kerja.
Metode seleksi yang hanya mengandalkan kemampuan bahasa dan kondisi fisik belum tentu cukup untuk mengetahui kesiapan seseorang dalam menjalani kontrak kerja secara jangka panjang.
Ketidaksesuaian ekspektasi dan motivasi dapat meningkatkan risiko hilangnya motivasi hingga keinginan mengakhiri kontrak lebih awal.
Baca Juga: Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, LNG Abadi Masela Siap Dongkrak Ekonomi Indonesia Timur
Asesmen Psikologis Jadi Bagian Persiapan Kerja
Untuk menjawab tantangan tersebut, proses seleksi calon pekerja perlu berkembang dari sekadar mengukur kompetensi teknis menjadi pemetaan yang lebih menyeluruh terhadap kesiapan individu.
TRUSTINDO Consultant melihat asesmen psikologis dapat digunakan untuk membantu LPK dan P3MI memahami karakter calon pekerja sejak awal, termasuk dari sisi motivasi kerja, kepribadian, ketelitian, daya juang, hingga stabilitas emosi.
Proses tersebut dapat dilengkapi dengan Behavioral Event Interview (BEI), yaitu wawancara yang menggali pengalaman nyata kandidat dalam menghadapi konflik, tekanan, maupun situasi sulit. Pendekatan ini membantu melihat bagaimana calon pekerja mengambil keputusan dan merespons tantangan berdasarkan pengalaman sebelumnya.
"Asesmen psikologis bukanlah proses untuk menghakimi atau menentukan apakah seorang kandidat baik atau tidak baik. Asesmen justru menjadi alat bagi LPK atau P3MI untuk memahami kesiapan mental, karakter, motivasi, serta kemampuan adaptasi kandidat secara lebih menyeluruh. Dengan pemahaman tersebut, proses penempatan dapat dilakukan secara lebih tepat, sehingga kandidat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tempat kerja, sekaligus menekan risiko dropout," jelas Wina.
Pendampingan terhadap calon pekerja juga tidak berhenti pada masa pembekalan sebelum keberangkatan. TRUSTINDO Consultant tetap memberikan perhatian kepada peserta setelah mereka mulai bekerja di negara penempatan. Terutama ketika menghadapi persoalan pribadi, tekanan pekerjaan, maupun tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya baru.
Melalui TRUSTINDO Mobile, pekerja tetap memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dengan psikolog TRUSTINDO selama menggunakan aplikasi tersebut.
Dukungan ini memungkinkan pendampingan psikologis dilakukan secara berkelanjutan, sehingga pekerja tidak hanya dipersiapkan sebelum berangkat, tetapi juga memiliki akses terhadap dukungan profesional ketika menghadapi tantangan selama menjalani kontrak kerja di luar negeri.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Wajib Serap Tenaga Kerja dari Desa Setempat
Dari Kontrak Kerja Menjadi Investasi Karier
Perubahan cara generasi muda memandang pekerjaan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tantangan bagi industri penempatan.
Kondisi ini juga membuka peluang bagi LPK dan P3MI untuk mempersiapkan tenaga kerja Indonesia yang semakin adaptif, profesional, dan memiliki orientasi karier yang lebih matang.
Dengan proses seleksi yang mampu melihat kemampuan teknis sekaligus kesiapan psikologis, calon pekerja dapat memiliki gambaran yang lebih realistis mengenai pekerjaan yang akan dijalani.
Di saat yang sama, LPK dan P3MI dapat lebih memahami apakah kandidat memiliki motivasi dan ketahanan yang sesuai untuk menyelesaikan masa kontraknya.
Sejak 2017, TRUSTINDO Consultant telah mendampingi LPK dan P3MI dalam proses penyeleksian, serta pemetaan psikologis calon pekerja dan pemagang luar negeri.
Ke depan, kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing di pasar global tidak hanya akan ditentukan oleh keterampilan teknis.
Kemampuan beradaptasi, menjaga stabilitas emosi, dan melihat pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan karier juga akan semakin penting dalam menciptakan penempatan kerja yang berkelanjutan.
Baca Juga: Penyerapan Tenaga Kerja di Jakarta Naik pada Triwulan Pertama 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK



