Kepala Bakom yang Agresif Malah Berpotensi Jadi Beban Politik Pemerintah

AKURAT.CO Gaya komunikasi publik Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, semestinya lebih bijak agar menjadi jembatan yang baik antara pemerintah dengan masyarakat.
Pakar politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menilai gaya komunikasi Qodari yang dinilai agresif justru berpotensi memunculkan resistensi publik dan menjadi beban politik bagi pemerintah.
Posisi Kepala Bakom memiliki fungsi strategis sebagai penyampai informasi dan kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Karena itu, gaya komunikasi yang dibangun harus mampu meredam polemik, bukan sebaliknya.
Baca Juga: Gaya Komunikasi Qodari Berisiko Turunkan Kepercayaan Publik ke Pemerintah
"Ya mestinya sebagai Kepala Bakom itu berkomunikasi lebih wise, lebih bijak, menjadi penyambung lidah pemerintah ke publik, ke masyarakat. Jadi gaya komunikasinya harus lentur, harus bijaksana, harus baik, harus ramah, harus sopan, dan tentu juga objektif dalam menjelaskan program-program pemerintah maupun dalam merespons kritik-kritik dari publik," kata Ujang saat dihubungi Akurat.co, Minggu (19/7/2026).
Meski demikian, dia menyerahkan penilaian mengenai efektivitas komunikasi Bakom kepada masyarakat sebagai pihak yang menerima langsung pesan-pesan pemerintah.
"Kalau bicara efektif belum efektif, biar publik yang menilai. Publik yang melihat gaya komunikasi Kepala Bakom itu bagus atau tidak. Karena bagaimanapun publik yang berhak mengkritisi terkait jalannya komunikasi pemerintah yang di-handle oleh Bakom," ujarnya.
Ujang juga menilai gaya komunikasi yang dianggap terlalu agresif dapat memperbesar sentimen negatif terhadap Bakom, baik terhadap figur pimpinan maupun lembaganya.
Baca Juga: Gaya Komunikasi Qodari Belum Mampu Jembatani Pemerintah dengan Publik, Bisa Jadi Bumerang
"Ya bisa terjadi seperti itu. Karena dengan gaya komunikasi yang misalkan dianggap agresif, dianggap kurang pas, dianggap kurang baik, maka akan memunculkan sentimen negatif kepada Kepala Bakom itu sendiri, khususnya kepada Bakom secara kelembagaan," katanya.
Karena itu, dia mendorong agar pola komunikasi pemerintah dievaluasi apabila memang dinilai publik terlalu konfrontatif.
"Dan itu harus diperbaiki gaya komunikasi seperti itu kalau memang publik menganggap komunikasinya dianggap agresif," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









