Rekomendasi NU soal Dana Pendidikan Tak Dipakai untuk MBG Bukan Serangan ke Prabowo

AKURAT.CO Rekomendasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) agar pemerintah tidak menggunakan anggaran pendidikan untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai 2027 dinilai sebagai masukan konstruktif, bukan bentuk pertentangan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, mengatakan, posisi NU sebagai salah satu organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia membuat setiap rekomendasi yang dihasilkan dalam forum Muktamar memiliki arti penting dalam perumusan kebijakan publik.
Menurut Iwan, rekomendasi tersebut seharusnya tidak langsung dibaca sebagai kritik politik terhadap pemerintah. Sebaliknya, masukan NU dapat menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program pemerintah semakin tepat sasaran.
“Saya melihat rekomendasi NU ini bukan serangan kepada pemerintah. Justru ini bentuk masukan konstruktif dari organisasi keagamaan yang memiliki perhatian besar terhadap masa depan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” kata Iwan dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
Iwan menilai, MBG dan pendidikan sama-sama memiliki posisi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
MBG dirancang untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, sementara pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk kualitas generasi mendatang.
Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu memastikan pembiayaan kedua sektor tersebut tidak saling mengorbankan.
“Yang perlu dibangun bukan pertentangan antara MBG versus pendidikan, tetapi bagaimana pemerintah memastikan kedua agenda tersebut dapat berjalan secara optimal tanpa saling mengorbankan,” ujarnya.
Ia menilai rekomendasi NU justru dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi skema pendanaan MBG sebelum program tersebut diperluas pada 2027.
Evaluasi, kata Iwan, tidak cukup hanya melihat besaran anggaran. Pemerintah juga perlu mengkaji efektivitas penggunaan dana, ketepatan sasaran penerima manfaat, kualitas makanan, tata kelola program, serta dampaknya terhadap pembiayaan pendidikan.
“Kalau ada masukan dari NU, jangan langsung dipersepsikan sebagai kritik politik. Justru pemerintah bisa menjadikan ini sebagai early warning system untuk memperbaiki desain kebijakan. Ini kesempatan untuk melakukan fine tuning sebelum program berjalan lebih besar,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










