Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen

AKURAT.CO Partai Gelora Indonesia merespons usulan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar lima persen yang tengah bergulir dalam wacana Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilu.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, menilai, wacana tersebut merupakan kompromi politik demi menyelamatkan posisi partai-partai besar di Senayan saat ini. Bukan untuk kepentingan rakyat dalam Pemilu 2029.
"Bahwa angka threshold yang ada di kisaran empat persen hingga tujuh persen, termasuk lima persen saat ini hanyalah kompromi politik demi menyelamatkan posisi partai-partai besar. Bukan untuk kepentingan rakyat," jelasnya, kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).
Fahri mengatakan, terdapat dua mazhab utama dalam penentuan ambang batas pemilu, yakni Mazhab Kedaulatan Rakyat (pro murni nol persen) dan Mazhab Penguatan Presidensialisme (skenario 20 persen).
Menurutnya, pilar utama demokrasi adalah memurnikan kedaulatan suara rakyat (vox populi, vox dei).
Baca Juga: Punya Jokowi dan Kaesang, PSI Siap Hadapi Ambang Batas Parlemen 5 Persen
Dalam mazhab ini, berapa pun suara yang diraih oleh sebuah parpol atau calon, maka aspirasi mereka wajib diakomodasi di parlemen, tanpa terganjal syarat pembatasan (parliamentary threshold).
"Seberapa pun partai politik berhasil mengirim satu orang ke DPR RI, biarkan dia menjadi anggota dewan karena dia dipilih oleh rakyatnya. Biarkan dia bersuara. Jangan-jangan satu anggota dewan itu bisa lebih jago dan berani menyuarakan aspirasi rakyat dibanding yang lain," jelas Fahri.
Ia menyebut Partai Gelora secara tegas berada pada posisi mendorong ambang batas parlemen nol persen, serta menolak usulan parliamentary threshold empat hingga tujuh persen.
Sementara di sisi lain, bagi kelompok yang beralasan ingin menguatkan sistem presidensialisme dan menyederhanakan jumlah parpol di parlemen, merujuk pemikiran ilmuwan politik Scott Mainwaring, Fahri menantang DPR untuk sekalian menetapkan ambang batas yang tinggi.
"Kalau memang mau menyederhanakan partai politik untuk menguatkan presidensialisme, bikin saja threshold-nya sekalian 20 persen. Berani tidak? Supaya yang lolos hanya satu atau dua partai seperti di Amerika Serikat," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








