Tidak Dikelola Umum, Bahlil: Logam Tanah Jarang Bakal Dikelola Pemerintah

AKURAT.CO Pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya mineral logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) akan sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah
Adapun, dalam pidato pengantar Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 di Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (15/8/2025), Presiden Prabowo Subianto mengucap rasa syukur karena Indonesia memiliki mineral Logam Tanah Jarang yang bisa digunakan untuk memperkuat Alutsista nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan ke depan kebijakan pengelolaan komoditas startegis ini akan diatur ketat dari hulu.
Baca Juga: ESDM Tegaskan Penindakan Tambang Ilegal Sesuai Instruksi Presiden
Pengelolaannya, kata Bahlil tidak lagi bisa dilakukan secara umum, melainkan akan menjadi kewenangan penuh negara melalui tata kelola khusus.
“Seperti misalnya logam tanah jarang kita kan sekarang harganya cukup tinggi. Ke depan kebijakan kami nanti dari hulunya, dari bahan bakunya adalah untuk logam tanah jarang tidak kami izinkan dikelola oleh umum,” kata Bahlil di Istana Negara dikutip, Selasa (26/8/2025).
Bahlil menambahkan, pemerintah akan sepenuhnya mengelola logam tanah jarang dan akan membuat tata kelolanya.
“(Logam Tanah Jarang) akan dikelola oleh negara dan ini akan ada tata kelola sendiri, kita tunggu saja aturannya,” tambah Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengungkapkan sedang melalukan penelitian di beberapa wilayah untuk menghitung kandungan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, ada tiga wilayah yang berpotensi memiliki kandungan LTJ tinggi. Tiga daerah tersebut berada satu di Sumatera dan dua lainnya di Sulawesi.
Baca Juga: Pasokan Gas Domestik Pulih, ESDM Pastikan Stabil untuk Industri
“Di beberapa by-product atau produk samping dari pengolahan mineral yang saat ini ada Seperti di Bangka Belitung, di Mamuju, kemudian masuk di Sulawesi itu cukup banyak (kandungan LTJ),” kata Brian dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026 dikutip, Sabtu (16/8/2025).
Brian menyampaikan, saat ini penelitian terus dilakukan guna mengitung berapa banyak kandungan LTJ tersebut. Selain itu, penelitian dilakukan guna memproses pemurnian logam tanah jarang.
“Namun memang proses pemurnian ini yang membutuhkan teknologi yang tinggi,” tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








