Teknologi Pertanian Modern AAS Kementan Dongkrak Produktivitas Padi 63 Persen, Tembus 10,34 Ton

AKURAT.CO Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman terus mendorong transformasi pertanian melalui penerapan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan Kementerian Pertanian (Kementan) adalah Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), yang kini mulai menunjukkan hasil di berbagai wilayah.
Amran mengatakan, peningkatan produktivitas menjadi langkah penting setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Menurutnya, teknologi harus diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pendapatan petani.
Baca Juga: Mentan Sebut Pertanian Modern AAS Tingkatkan Keuntungan Petani hingga 3 Kali Lipat
“Swasembada alhamdulillah sudah tercapai. Nah sekarang pendekatannya adalah kesejahteraan. Itulah pentingnya teknologi. Kami pelajari dua tahun. Kami gabungkan metode Amerika dengan metode Indonesia, jajar legowo. Kami cek bahkan ada produksi 12 ton. Jadi minimal 10 ton saja,” kata Amran dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).
Menurut Amran, PM-AAS merupakan hasil pengembangan dengan mengombinasikan berbagai teknologi budidaya modern dan praktik pertanian yang telah berkembang di Indonesia. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan populasi tanaman agar produktivitas dapat meningkat secara signifikan.
Untuk memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan secara tepat di tingkat petani, Kementan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) melakukan serangkaian pengujian di berbagai lokasi dan kondisi agroekosistem.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry menyebut, PM-AAS dirancang sebagai paket teknologi budidaya yang mengintegrasikan peningkatan populasi tanaman dengan pengelolaan tanaman secara terpadu.
Menurut Fadjry, penerapan PM-AAS mencakup penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi, sistem tanam rapat melalui jajar legowo, pengelolaan air dengan metode alternate wetting and drying (AWD), pengendalian gulma, hama dan penyakit secara terpadu, serta pengelolaan hara berdasarkan kebutuhan spesifik lokasi.
“PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun sistem budidaya yang lebih efisien dan adaptif. Pengelolaan hara spesifik lokasi dan teknologi hemat air menjadi bagian penting agar produktivitas lahan tetap terjaga dan mampu menghadapi perubahan iklim,” ujar Fadjry.
Pada musim tanam pertama 2026 (MK-1), BRMP melaksanakan uji PM-AAS pada total luasan sekitar 2.000 hektare di 15 provinsi, berupa demfarm sekurang-kurangnya 100 hektare di setiap provinsi.
Dari 18 kabupaten di 13 provinsi yang telah memasuki masa panen, hasil ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas rata-rata PM-AAS mencapai 10,34 ton GKP per hektare.
Angka tersebut meningkat dari rata-rata 6,32 ton GKP per hektare pada praktik non-PM-AAS, atau terjadi tambahan sekitar 4,02 ton per hektare. Dengan demikian, produktivitas meningkat 63,46 persen.
Bahkan, sebanyak 12 dari 18 lokasi atau 66,7 persen telah mencapai produktivitas minimal 10 ton GKP per hektare. Sementara di berbagai lokasi lainnya, produktivitas PM-AAS telah berada pada kisaran 9–11 ton GKP per hektare.
Pengembangan PM-AAS dilakukan BRMP secara intensif sejak awal 2025 melalui serangkaian uji terap di berbagai lokasi dan musim tanam. Sebelum diformulasikan sebagai satu paket teknologi dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 8–9 atau siap diterapkan, PM-AAS terlebih dahulu diuji pada berbagai kondisi lahan.
Dari pengujian pendahuluan, produktivitas 10 ton per hektare berhasil dicapai selama dua musim berturut-turut di Soppeng, Sulawesi Selatan. Pengujian selanjutnya diperluas ke berbagai ekosistem, termasuk lahan irigasi teknis, irigasi nonteknis dan lahan rawa.
Capaian tersebut menjadi penting karena produktivitas padi nasional selama sekitar 20 tahun relatif stagnan pada kisaran 5,3 ton GKG per hektare, atau setara sekitar 6,3 ton GKP per hektare.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








