Akurat Logo

PTPN IV Uji Tanam Kedelai di 1.000 Ha Lahan Replanting Sawit

Esha Tri Wahyuni | 1 September 2026, 19:54 WIB
PTPN IV Uji Tanam Kedelai di 1.000 Ha Lahan Replanting Sawit
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa - Dok. PTPN IV

AKURAT.CO PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mulai menguji pemanfaatan lahan peremajaan atau replanting sawit untuk budidaya kedelai.

Proyek percontohan ini mencakup lahan seluas 1.000 hektare (ha) yang tersebar di 20 titik wilayah kerja perusahaan di enam provinsi.

Penanaman perdana dipusatkan di Kebun Adolina Regional 2, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Jumat pekan lalu.

Kegiatan tersebut juga terhubung secara daring dengan sejumlah wilayah kerja PTPN IV PalmCo yang menjalankan proyek serupa.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa mengatakan, pemanfaatan lahan replanting sawit menjadi salah satu strategi perusahaan untuk mendukung peningkatan produksi kedelai nasional.

"Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai. Ini merupakan tindak lanjut kita atas arahan Bapak Presiden melalui Bapak Menteri Pertanian untuk meningkatkan produksi nasional dan menekan impor kedelai," kata Jatmiko dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: 35 Tahun Mengabdi, Karyawan PTPN IV PalmCo Dapat Penghargaan

Jatmiko menjelaskan lahan yang digunakan untuk proyek tersebut merupakan kawasan yang sedang menjalani peremajaan atau konversi sawit.

Area itu kemudian dimanfaatkan untuk menanam kedelai sebelum kembali digunakan untuk penanaman sawit.

"Kita optimalisasikan areal peremajaan ataupun konversi sawit. Sehingga kurang lebih selama enam bulan sebelum sawit kembali ditanam, kita akan menanam kedelai terlebih dahulu," jelasnya.

Menurut Jatmiko, pemanfaatan lahan tersebut menjadi bagian dari tahap awal pengujian sebelum perusahaan memutuskan apakah budidaya kedelai dapat dikembangkan dalam skala yang lebih besar.

Pasalnya, PTPN IV PalmCo belum memiliki pengalaman sebelumnya dalam budidaya kedelai.

Karena itu, perusahaan memilih menjalankan proyek percontohan terlebih dahulu untuk menguji berbagai aspek sebelum melakukan ekspansi.

"Karena kita belum pernah tanam kedelai sebelumnya, kita siapkan pilot project 1.000 ha dulu," ujarnya.

Jatmiko mengatakan keberlanjutan proyek akan ditentukan berdasarkan hasil pengujian di lapangan serta kelayakan dari berbagai aspek.

Hal tersebut juga sejalan dengan arahan Danantara agar investasi yang dilakukan perusahaan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

"Dan sesuai arahan Danantara, jika ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif," kata Jatmiko.

Dengan demikian, lahan yang menjadi bagian dari siklus peremajaan sawit tidak hanya dibiarkan menunggu masa tanam berikutnya.

PTPN IV PalmCo mencoba memanfaatkannya untuk menghasilkan komoditas pangan dalam periode tersebut.

Pengembangan kedelai menjadi perhatian karena produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia disebut mengalami defisit kedelai rata-rata sekitar 2,5 juta ton per tahun.

Ketergantungan tersebut tercermin dari porsi impor yang disebut mencapai sekitar 97% dari kebutuhan kedelai nasional.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Bagi PTPN IV PalmCo, proyek percontohan seluas 1.000 ha tersebut menjadi tahap awal untuk melihat potensi pengembangan komoditas di kawasan perkebunan.

Jatmiko menegaskan perusahaan tidak ingin terburu-buru memperluas areal sebelum mengetahui tingkat keberhasilan dan kelayakan proyek.

"Pilot project ini menjadi sangat berarti agar pengembangan komoditas kedelai dapat terus diperluas ke depannya dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian investasi sebagaimana diamanatkan Danantara," tuturnya.

Jatmiko berharap hasil dari proyek tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kelayakan budidaya kedelai di lahan replanting sawit sekaligus mendukung target pemerintah meningkatkan produksi nasional.

"Harapan pemerintah untuk meningkatkan produksi dan menekan impor kedelai tadi dapat diwujudkan," sambung Jatmiko.

Perwakilan Direktur Jenderal Pangan Kementerian Pertanian, Arief Muliawan, mengapresiasi langkah PTPN IV PalmCo menjalankan proyek percontohan kedelai.

Menurutnya, keterlibatan perusahaan perkebunan dalam pengembangan komoditas pangan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk ikut mendukung program swasembada pangan.

Baca Juga: PTPN IV PalmCo Salurkan 1.500 Bibit Nanas ke Warga Jambi

"Kami memberikan apresiasi kepada PTPN yang terus menunjukkan komitmennya dalam menjalankan berbagai program swasembada pangan nasional," kata Arief.

Dirinya berharap proyek tersebut dapat berjalan sesuai target dan memberikan hasil yang dapat menjadi dasar pengembangan program serupa.

"Semoga proyek ini berhasil dan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang ada di Indonesia," imbuhnya.

Selain produksi, keberhasilan pengembangan kedelai juga akan bergantung pada terbentuknya ekosistem usaha dari hulu hingga hilir.

Kepastian pasar menjadi salah satu faktor yang dinilai penting apabila proyek percontohan tersebut akan diperluas.

Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero) Rizal H. Damanik mengatakan pengembangan kedelai dalam skala besar membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perusahaan, kelompok tani hingga mitra strategis.

"Jika ingin skalanya lebih besar dan persentase keberhasilannya tinggi, kerja sama banyak pihak mulai dari pemerintah, perusahaan, kelompok tani dan mitra strategis lainnya pasti akan sangat dibutuhkan," kata Rizal.

Menurutnya, kepastian penyerapan hasil produksi juga perlu disiapkan sejak awal agar pengembangan kedelai tidak berhenti pada tahap budidaya.

"Termasuk kepastian serapan dari offtaker. Semoga proyek pilot kedelai PTPN IV PalmCo dapat berhasil dan berdampak maksimal," ujarnya.

Dalam proyek percontohan tersebut, PTPN IV PalmCo menggunakan varietas kedelai Grobogan. Varietas tersebut disebut memiliki potensi produksi hingga 2 ton per ha dengan siklus tanam sekitar 85-90 hari.

Penggunaan lahan replanting sawit menjadi salah satu aspek utama yang diuji dalam proyek ini. Perusahaan akan melihat hasil budidaya serta kelayakan dari berbagai sisi sebelum menentukan pengembangan dalam skala yang lebih besar.

Tahap awal seluas 1.000 ha tersebut dengan demikian menjadi pijakan untuk mengukur potensi kedelai sebagai tanaman yang dapat dibudidayakan pada lahan yang berada dalam masa peremajaan sawit.

Jika hasil proyek menunjukkan tingkat kelayakan yang sesuai, PTPN IV PalmCo membuka peluang memperluas penanaman kedelai.

Namun, keputusan tersebut tetap akan mempertimbangkan hasil proyek percontohan, aspek investasi, dukungan ekosistem, serta kepastian pasar.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan lahan perkebunan secara lebih optimal sekaligus mendukung agenda pemerintah meningkatkan produksi kedelai dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.