PTBA Kembangkan Produk Kalium Humat, Kapasitas Ditargetkan 10.000 Ton

AKURAT.CO PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) mengembangkan produk kalium humat berbasis hasil pengolahan batu bara sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan berpotensi mendukung sektor pertanian.
Kalium humat merupakan senyawa berbentuk garam kalium yang berasal dari asam humat dan banyak dimanfaatkan sebagai pembenah tanah maupun bahan tambahan pupuk organik.
Senyawa ini umumnya diperoleh melalui proses ekstraksi menggunakan larutan alkali dari material seperti leonardit dan batu bara muda (lignit).
Baca Juga: PTBA Targetkan Proyek Batu Bara Jadi DME Masuk Konstruksi 2027
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari mengatakan, perseroan saat ini telah memiliki pilot plant kalium humat dengan kapasitas sekitar 171 ton per tahun.
“Saat ini pilot plant untuk kalium humat yang memiliki kapasitas sekitar 171 ton per tahun dengan target pengembangan hingga 10.000 ton per tahun,” kata Una dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026) petang.
Una menuturkan, pengembangan kalium humat menjadi salah satu bagian dari upaya PTBA memperluas pemanfaatan batu bara menjadi produk bernilai tambah di luar bisnis batu bara konvensional.
Menurutnya, hilirisasi menjadi salah satu fokus perseroan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya yang dimiliki PTBA.
“Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki oleh PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah termasuk DME, metanol dan kalium humat,” ujarnya.
Proyek Coal to DME Ditarget Konstruksi 2027
Sementara itu, PTBA menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto mengatakan proyek coal to DME tersebut saat ini tengah masuk dalam proses finalisasi studi kelayakan bersama sejumlah pihak terkait.
Menurutnya, proyek DME merupakan salah satu proyek hilirisasi batu bara PTBA yang tengah diorkestrasi oleh Danantara Indonesia. Selain DME, PTBA juga mengembangkan proyek coal to synthetic natural gas (SNG).
“Ya, saya akan jawab beberapa proyek hilirisasi batubara khususnya DME. Saat ini yang proyek yang sedang dan sudah hampir berjalan adalah DME dan SNG. Dua-duanya partner kita, off takernya adalah Pertamina Group,” tutur Turino.
Turino menuturkan, proyek coal to DME diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG). Sementara proyek coal to SNG ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gas, khususnya bagi sektor industri.
Dia menambahkan, kedua proyek tersebut menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah dalam mendorong hilirisasi batu bara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
PTBA, kata Turino menargetkan proses konstruksi proyek coal to DME dapat dimulai pada tahun depan. “Insya Allah dalam waktu tidak lama lagi targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








