Akurat Logo

Ekonomi Global Melambat, Data Center Berpotensi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia

Idham Nur Indrajaya | 9 September 2026, 14:17 WIB
Ekonomi Global Melambat, Data Center Berpotensi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia
Data center Indonesia berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru di tengah ekonomi global yang melambat pada 2026. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Ketika ekonomi dunia mulai kehilangan momentum, Indonesia justru membutuhkan sumber pertumbuhan yang tidak sepenuhnya bergantung pada siklus komoditas dan permintaan global. Di tengah situasi tersebut, data center Indonesia mulai mendapat perhatian sebagai sektor yang berpotensi membuka sumber pertumbuhan baru, seiring derasnya investasi pada ekonomi digital.

Perekonomian global diperkirakan melambat dari pertumbuhan 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada akhir 2026. Namun, Indonesia masih diproyeksikan mampu tumbuh sekitar 5,2% pada tahun ini. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi domestik dan investasi akan semakin penting ketika kondisi eksternal memburuk.

Ringkasan

Perlambatan ekonomi global pada 2026 tidak terjadi dalam ruang hampa. Tingginya harga energi akibat ketegangan geopolitik telah meningkatkan tekanan inflasi sekaligus membuat kondisi keuangan di berbagai negara menjadi lebih ketat.

Suku bunga global yang bertahan tinggi juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi. Biaya pembiayaan yang mahal membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, sementara konsumen dapat mengurangi belanja ketika biaya hidup meningkat.

Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun dari 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada akhir 2026. Harga minyak yang sempat melonjak signifikan juga diperkirakan berangsur turun seiring penyesuaian pasokan global.

Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi dunia berarti lingkungan eksternal menjadi lebih menantang. Permintaan dari sejumlah mitra dagang dapat melemah, sementara gejolak pasar keuangan global dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.

Situasi ini membuat pertanyaan mengenai dari mana sumber pertumbuhan Indonesia berikutnya menjadi semakin relevan.

Baca Juga: Energi Hijau dan Data Center Jadi Bidikan Baru Pemerintah

Baca Juga: Airlangga: AI dan Data Center Siap Jadi Mesin Baru Ekonomi RI

Mengapa Indonesia masih diproyeksikan tumbuh 5,2%?

Di tengah perlambatan global, Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah bantalan pertumbuhan. Investasi, belanja pemerintah, serta aktivitas ekonomi domestik yang relatif solid menjadi faktor penting untuk menjaga momentum.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, menjelaskan bahwa investasi masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. Arus investasi asing langsung atau FDI juga tetap menunjukkan tren positif, terutama pada sektor-sektor strategis.

"Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Irman melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Rabu, 9 September 2026.

Pernyataan tersebut menarik karena menempatkan data center dalam kelompok yang sama dengan hilirisasi dan industri strategis lainnya sebagai calon sumber pertumbuhan baru.

Artinya, perkembangan pusat data tidak lagi semata-mata dapat dilihat sebagai isu teknologi. Di tingkat ekonomi makro, pembangunan data center mulai berkaitan dengan investasi, infrastruktur, energi, tenaga kerja, hingga daya saing Indonesia.

Mengapa data center Indonesia mulai menjadi sumber pertumbuhan baru?

Data center Indonesia berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru karena menggabungkan investasi infrastruktur fisik dengan meningkatnya kebutuhan ekonomi digital. Pembangunannya membutuhkan modal, listrik, konektivitas, konstruksi, sistem pendingin, keamanan, tenaga teknis, serta berbagai layanan pendukung.

Hal tersebut membuat efek ekonomi data center berbeda dari sekadar aktivitas bisnis digital yang berlangsung secara virtual.

Sebuah perusahaan teknologi mungkin menawarkan layanan berbasis aplikasi, tetapi layanan tersebut tetap membutuhkan infrastruktur fisik untuk menyimpan dan memproses data. Ketika penggunaan cloud, kecerdasan buatan atau AI, fintech, e-commerce, dan berbagai layanan digital meningkat, kebutuhan terhadap kapasitas komputasi juga ikut berkembang.

Di sinilah data center menjadi menarik.

Data center pada dasarnya merupakan infrastruktur ekonomi digital. Ia memang berisi server dan perangkat teknologi, tetapi pembangunan dan pengoperasiannya membutuhkan ekosistem ekonomi yang jauh lebih luas.

Bagaimana investasi data center menciptakan efek ekonomi berantai?

Bayangkan sebuah perusahaan global memutuskan membangun fasilitas data center di Indonesia.

Investasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan gedung. Proyek membutuhkan kontraktor, pemasok peralatan, jaringan telekomunikasi, pasokan listrik, sistem pendingin, keamanan, teknisi, hingga jasa pemeliharaan.

Artinya, satu proyek dapat menciptakan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor sekaligus.

Secara sederhana, rantainya dapat digambarkan sebagai:

investasi data center → pembangunan infrastruktur → kebutuhan listrik dan jaringan → permintaan barang dan jasa → tenaga kerja → aktivitas ekonomi turunan.

Simulasi tersebut bukan angka aktual suatu proyek, tetapi menunjukkan mengapa data center dapat memiliki dampak ekonomi yang lebih luas daripada sekadar nilai investasi awal.

Di sinilah letak perbedaan penting antara data center sebagai produk teknologi dan data center sebagai infrastruktur ekonomi.

Bagi Indonesia, efek tersebut menjadi semakin relevan ketika pemerintah berusaha menarik investasi asing langsung sekaligus memperkuat ekonomi digital.

Apakah data center bisa menggantikan hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan?

Jawabannya belum tentu. Bahkan, lebih tepat jika data center dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti mesin pertumbuhan Indonesia yang sudah ada.

Hilirisasi memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Sektor tersebut berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas dan sumber daya alam di dalam negeri. Data center berada di sisi lain, yakni membangun kapasitas untuk mendukung ekonomi berbasis data dan teknologi.

Keduanya dapat berjalan bersamaan.

Indonesia membutuhkan manufaktur, hilirisasi, konsumsi domestik, ekspor, dan investasi. Pada saat yang sama, ekonomi digital membutuhkan infrastruktur yang mampu menopang pertumbuhannya.

Perspektif ini penting agar pembicaraan mengenai data center tidak terjebak pada anggapan bahwa pembangunan pusat data secara otomatis akan menjadi pengganti seluruh sektor ekonomi tradisional.

Nilai strategis data center justru terletak pada kemampuannya menambah lapisan baru dalam struktur ekonomi Indonesia.

Ada paradoks di balik pertumbuhan data center

Perkembangan ekonomi digital sering kali terlihat seperti aktivitas yang tidak membutuhkan banyak infrastruktur fisik. Konsumen cukup menggunakan ponsel untuk melakukan transaksi, menyimpan foto di cloud, menggunakan layanan keuangan digital, atau berinteraksi dengan AI.

Di balik layar, semuanya membutuhkan pusat data.

Semakin digital aktivitas ekonomi, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur fisik yang menopangnya.

Ini menciptakan sebuah paradoks: ekonomi yang semakin virtual justru membutuhkan fondasi fisik yang semakin kuat.

Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar, konektivitas yang andal, sistem pendinginan, keamanan, serta infrastruktur jaringan. Karena itu, daya tarik investasi pusat data tidak hanya ditentukan oleh lokasi atau besarnya pasar digital Indonesia.

Ketersediaan energi dan kualitas infrastruktur juga menjadi bagian dari daya saing.

Dengan kata lain, investasi data center dapat sekaligus menjadi peluang dan ujian bagi kesiapan infrastruktur Indonesia.

Apa risiko yang perlu diperhatikan Indonesia?

Peluang tersebut datang bersama sejumlah risiko.

Kebutuhan energi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Ketika kapasitas data center meningkat, kebutuhan listrik dan infrastruktur pendukung juga bertambah.

Indonesia perlu memastikan ekspansi tersebut berjalan seiring dengan ketersediaan energi dan jaringan yang memadai.

Risiko lainnya datang dari kondisi eksternal. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya ekonomi sekaligus mendorong kenaikan impor energi. Dalam skenario tersebut, defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Volatilitas pasar keuangan global juga perlu diperhatikan. Perubahan arah kebijakan moneter negara maju dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.

Artinya, membangun data center saja tidak cukup. Indonesia juga membutuhkan stabilitas ekonomi dan keuangan untuk menciptakan lingkungan yang menarik bagi investasi jangka panjang.

Mengapa stabilitas rupiah penting bagi investasi data center?

Hubungan antara data center dan rupiah mungkin tidak langsung terlihat. Namun, investasi skala besar beroperasi dalam lingkungan keuangan yang membutuhkan kepastian.

Ketika pasar valuta asing bergejolak, biaya transaksi dan risiko nilai tukar dapat meningkat. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan bagi investor yang melakukan investasi jangka panjang.

Karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat pendalaman pasar valuta asing domestik melalui berbagai instrumen, termasuk pengembangan transaksi mata uang lokal, penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valas, serta implementasi VASTRA.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan pasar keuangan nasional.

"Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global," ujar Yansen.

VASTRA sendiri dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar valas sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

Dalam konteks yang lebih luas, stabilitas pasar keuangan menjadi bagian dari ekosistem yang diperlukan agar investasi jangka panjang, termasuk infrastruktur digital, dapat berkembang.

Apa dampaknya bagi dunia kerja dan bisnis?

Pertumbuhan data center tidak hanya relevan bagi perusahaan teknologi.

Pembangunan dan pengoperasian fasilitas tersebut membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang beragam, mulai dari teknologi informasi dan jaringan hingga kelistrikan, engineering, keamanan, dan pemeliharaan.

Bagi dunia bisnis, perkembangan data center juga dapat menjadi indikator bahwa ekonomi digital Indonesia semakin membutuhkan infrastruktur domestik.

Perusahaan fintech, e-commerce, layanan cloud, perusahaan berbasis AI, hingga berbagai bisnis digital lainnya membutuhkan kapasitas komputasi. Infrastruktur yang lebih kuat pada akhirnya dapat mendukung perkembangan ekosistem tersebut.

Bagi generasi muda, perubahan ini juga menunjukkan bahwa peluang ekonomi digital tidak selalu berada di balik layar aplikasi. Ada kebutuhan terhadap pekerjaan yang menggabungkan kemampuan digital dengan keahlian teknis dan operasional.

Simpulan

Data center belum dapat dianggap sebagai pengganti seluruh mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, sektor ini mulai layak diperhitungkan sebagai lapisan pertumbuhan baru di tengah perubahan struktur ekonomi global.

Ketika pertumbuhan dunia diproyeksikan melambat menjadi 3,0%, Indonesia membutuhkan investasi yang tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun kapasitas ekonomi masa depan.

Hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya. Data center dapat memperkuat infrastruktur ekonomi digital. Keduanya menunjukkan arah yang sama: Indonesia berusaha membangun sumber pertumbuhan yang lebih beragam.

Tantangannya adalah memastikan investasi tersebut menghasilkan efek ekonomi yang luas, bukan hanya pembangunan fasilitas fisik.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak data center yang dibangun di Indonesia, tetapi seberapa besar pembangunan tersebut mampu meningkatkan kapasitas ekonomi nasional.

Jika Indonesia mampu menyediakan energi, konektivitas, tenaga kerja, stabilitas makroekonomi, dan pasar keuangan yang kuat, data center berpotensi menjadi salah satu bagian penting dari fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga: Infrastruktur Energi dan Data Center Makin Besar, Industri Butuh Sistem Kelistrikan Lebih Adaptif

Baca Juga: Indonesia dan India Perkuat Kolaborasi Industri, Bidik Semikonduktor hingga Data Center

FAQ

Mengapa ekonomi global diproyeksikan melambat pada 2026?

Ekonomi global diproyeksikan melambat karena kombinasi tingginya harga energi akibat ketegangan geopolitik, tekanan inflasi, suku bunga global yang masih tinggi, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun dari 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada akhir 2026.

Berapa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026?

Ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,2% pada 2026. Investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik, serta kebijakan yang mendorong kegiatan ekonomi menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi global.

Mengapa data center disebut sebagai sumber pertumbuhan baru Indonesia?

Data center disebut sebagai sumber pertumbuhan baru karena pembangunannya membutuhkan investasi sekaligus menciptakan permintaan terhadap listrik, jaringan telekomunikasi, konstruksi, tenaga kerja, keamanan, teknologi, dan jasa pemeliharaan. Infrastruktur ini juga mendukung berbagai aktivitas ekonomi digital seperti cloud, fintech, e-commerce, dan AI.

Bagaimana data center dapat menarik investasi asing?

Data center dapat menarik investasi asing karena perkembangan ekonomi digital meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data. Indonesia memiliki pasar digital yang besar sehingga pembangunan infrastruktur pusat data dapat menjadi bagian dari strategi investor untuk memenuhi kebutuhan layanan digital sekaligus membangun kapasitas bisnis jangka panjang.

Apakah data center bisa menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Data center lebih tepat dipandang sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru, bukan pengganti konsumsi domestik, manufaktur, hilirisasi, atau sektor lainnya. Nilai strategisnya terletak pada kemampuannya menambah kapasitas ekonomi digital sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi di sektor pendukung seperti energi, konstruksi, jaringan, dan tenaga teknis.

Apa saja tantangan pembangunan data center di Indonesia?

Tantangan pembangunan data center mencakup kebutuhan listrik, konektivitas, lahan, modal besar, tenaga kerja berkeahlian khusus, serta keandalan infrastruktur. Stabilitas ekonomi dan pasar keuangan juga penting karena investasi infrastruktur digital umumnya membutuhkan modal besar dan berorientasi jangka panjang.

Mengapa stabilitas rupiah penting bagi investasi data center?

Stabilitas rupiah membantu menciptakan lingkungan yang lebih dapat diprediksi bagi investor yang menghadapi risiko nilai tukar. Karena itu, pendalaman pasar valuta asing menjadi penting. Bank Indonesia mengembangkan sejumlah kebijakan, termasuk VASTRA, untuk memperluas akses lindung nilai, meningkatkan likuiditas pasar valas, dan memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.