Akurat Logo

Harga Minyak Melonjak ke USD107,51 Usai Gangguan Pasokan Pipeline Milik Saudi

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 14 September 2026, 08:44 WIB
Harga Minyak Melonjak ke USD107,51 Usai Gangguan Pasokan Pipeline Milik Saudi
Ilustrasi harga minyak dunia naik

AKURAT.CO Harga minyak dunia kembali melonjak, terdorong meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah serangkaian serangan di kawasan Timur Tengah, termasuk terhadap fasilitas dan jalur distribusi minyak Arab Saudi.

Dikutip dari Reuters, Senin (14/9/2026) kontrak berjangka minyak mentah Brent naik USD2,90 atau 2,77% menjadi USD107,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD2,27 atau 2,27% menjadi USD102,32 per barel.

Kenaikan harga minyak bahkan sempat menembus lebih dari 3% pada awal perdagangan. Penguatan harga terjadi setelah serangan baru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak global.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus USD100, Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tak Naik

Media pemerintah Arab Saudi pada Minggu merilis rekaman kerusakan rumah dan sebuah masjid di Provinsi Jazan, wilayah selatan negara tersebut, yang disebut terdampak serangan Houthi. Kelompok Houthi juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer Saudi di provinsi lain yang berdekatan.

Di kawasan Selat Hormuz, sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil hingga terbakar dan memaksa awak kapal melakukan evakuasi. Informasi tersebut disampaikan UKMTO, badan keamanan maritim Inggris.

Iran juga melaporkan satu orang tewas dan empat awak terluka setelah kapal komersial Iran diserang di lepas pantai negara tersebut.

Pipa Saudi Ditutup

Risiko terhadap pasokan minyak semakin meningkat setelah jalur pipa minyak Timur-Barat atau East-West Pipeline milik Arab Saudi ditutup pada Jumat akibat serangan drone yang berasal dari Irak.

Jalur tersebut memiliki peran strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak agar tidak melalui Selat Hormuz. Gangguan pada infrastruktur ini diperkirakan berpotensi memengaruhi pasokan yang setara dengan sekitar 4% konsumsi minyak global.

Situasi tersebut menjadi perhatian pasar karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia.

Di sisi lain, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan berafiliasi dengan Iran dilaporkan mencapai Pulau Perim pada Jumat. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperketat kendali terhadap Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.