PGE Bidik Kapasitas Panas Bumi 1 GW pada 2028, Ini Daftar Proyeknya

AKURAT.CO Membangun pembangkit panas bumi bukan sekadar menambah unit pembangkit. Perusahaan juga harus memastikan kesiapan fasilitas produksi uap, keandalan operasional, dan pendanaan agar kapasitas baru dapat beroperasi sesuai rencana. Tantangan tersebut menjadi bagian penting dari strategi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) yang membidik kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028.
Untuk mendukung target tersebut, PGE mengembangkan sejumlah proyek, yakni Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8. Perseroan juga menargetkan kapasitas terpasang meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034 sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyatakan perusahaan akan mengoptimalkan aset yang sudah beroperasi sekaligus mengembangkan proyek strategis. Strategi ini menjadi penting karena pencapaian target kapasitas tidak hanya bergantung pada jumlah proyek yang direncanakan, tetapi juga pada besarnya kapasitas tambahan dan waktu setiap unit mulai beroperasi.
“Melalui pengelolaan aset yang optimal dan pengembangan proyek strategis, Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujar Ahmad Yani melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.
Baca Juga: Karpet Merah untuk Karyawan, PGEO Siapkan 127 Juta Saham di Program MESOP Agustus 2026
Baca Juga: Pendapatan PGEO Tumbuh 14,7 Persen Jadi USD235 Juta di Kuartal II-2026
PGE Bidik Kapasitas Panas Bumi 1 GW pada 2028
Kapasitas panas bumi PGE ditargetkan mencapai 1 GW pada 2028, kemudian meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Target tersebut menunjukkan arah pengembangan perusahaan untuk memperbesar kapasitas pembangkit melalui optimalisasi aset eksisting, ekspansi, dan pengembangan sumber pendapatan baru.
Untuk mengejar sasaran tersebut, PGE menyebut tiga kelompok proyek yang tengah dikembangkan, yaitu Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Daftar proyek tersebut menjadi bagian penting dari rencana ekspansi perusahaan. Namun, untuk mengetahui seberapa besar kontribusi setiap proyek terhadap target 1 GW, diperlukan informasi tambahan mengenai kapasitas masing-masing unit, status pengembangan, dan jadwal operasi komersialnya.
Target kapasitas 2028 juga perlu dibedakan dari realisasi operasional. Sasaran 1 GW merupakan target perusahaan, bukan pernyataan bahwa seluruh kapasitas tersebut sudah tersedia atau seluruh proyek telah selesai dibangun.
Bagi pembaca yang memantau industri energi dan emiten di Bursa Efek Indonesia, perkembangan proyek menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan bersama kinerja operasional dan keuangan PGE. Progres konstruksi, kesiapan fasilitas, dan realisasi investasi akan membantu memperlihatkan seberapa jauh rencana ekspansi bergerak menuju target.
Ini Daftar Proyek Panas Bumi PGE yang Dikembangkan
PGE mengembangkan proyek tambahan di beberapa wilayah kerja panas bumi untuk memperbesar kapasitas pembangkit. Tiga kelompok proyek yang tercantum dalam narasi perusahaan adalah Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Informasi mengenai kapasitas dan jadwal masing-masing proyek membantu pembaca memahami bahwa kontribusinya terhadap target ekspansi tidak selalu terjadi pada waktu yang sama. Berdasarkan laporan perusahaan dan dokumen proyek yang tersedia, berikut gambaran ketiga proyek tersebut.
1. Lumut Balai Unit 3 dan 4
Proyek Lumut Balai Unit 3 dan 4 merupakan bagian dari rencana pengembangan pembangkit panas bumi PGE di Sumatra Selatan. Kedua unit tersebut dirancang masing-masing berkapasitas 55 megawatt (MW), sehingga berpotensi menambah kapasitas terpasang sebesar 110 MW jika keduanya selesai dibangun dan beroperasi sesuai rencana.
Dalam siaran pers pada Januari 2026, PGE menyatakan proyek Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW telah memasuki tahap eksekusi. Namun, perusahaan menargetkan unit tersebut mulai beroperasi secara komersial pada 2030.
Sementara itu, dokumen pengembangan proyek PGE mencantumkan target operasi komersial Lumut Balai Unit 3 pada 2029 dan Unit 4 pada 2032. Perbedaan jadwal tersebut menunjukkan pentingnya memeriksa pembaruan terbaru sebelum menetapkan tahun operasi sebagai angka final dalam artikel.
Bagi strategi ekspansi PGE, proyek ini memperluas kapasitas di wilayah yang telah memiliki fasilitas panas bumi. Meski demikian, tambahan kapasitas 110 MW tidak dapat langsung dianggap tersedia sebelum kedua unit selesai dan mulai beroperasi.
2. Hululais Unit 1 dan 2
Proyek Hululais Unit 1 dan 2 memiliki rancangan kapasitas gabungan sebesar 110 MW, yang terdiri atas dua unit masing-masing 55 MW. Proyek ini menjadi salah satu bagian penting dalam rencana ekspansi PGE menuju kapasitas terpasang yang lebih besar.
Dokumen pengembangan PGE mencantumkan target operasi komersial Hululais Unit 1 dan 2 pada 2028. Laporan interim perusahaan per 30 Juni 2026 juga mencatat progres pengembangan proyek tersebut telah mencapai 87,90%.
Angka progres tersebut memberi gambaran yang lebih konkret mengenai perkembangan proyek dibandingkan sekadar pencantuman nama unit dalam daftar ekspansi. Namun, progres konstruksi tidak boleh disamakan dengan kapasitas yang sudah beroperasi secara komersial.
Hululais berpotensi menambah pasokan listrik panas bumi setelah kedua unit mulai beroperasi. Realisasi kontribusinya terhadap target PGE tetap bergantung pada penyelesaian pekerjaan, kesiapan fasilitas, dan pencapaian jadwal operasi.
3. Lahendong Unit 7 dan 8
Lahendong Unit 7 dan 8 merupakan bagian dari pengembangan aset panas bumi PGE di Sulawesi Utara. Selain memperluas kapasitas pembangkit, pengembangan di wilayah ini berkaitan dengan strategi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi panas bumi dari wilayah kerja yang telah dikelola.
Dalam materi resmi PGE mengenai proyek-proyek strategis yang masuk dalam Blue Book Bappenas 2025–2029, Lahendong Unit 7–8 dan Binary tercatat sebagai salah satu kelompok proyek pengembangan. Perusahaan menyebut proyek tersebut memiliki rencana investasi dan pengembangan untuk menambah kapasitas listrik rendah emisi.
Laporan interim per 30 Juni 2026 menyebut proyek Lahendong Unit 7 dan 8 masih berada dalam proses kesepakatan perjanjian jual beli listrik. Artinya, status proyek perlu dibaca berdasarkan tahap pengembangannya, bukan dianggap sebagai fasilitas yang sudah beroperasi.
Untuk mengetahui kontribusi proyek ini terhadap target 1 GW pada 2028, diperlukan informasi terbaru mengenai kapasitas setiap unit, penyelesaian perjanjian jual beli listrik, jadwal konstruksi, dan target operasi komersial. Data tersebut akan membantu membedakan rencana penambahan kapasitas dari realisasi yang benar-benar dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
Bagaimana Proyek-Proyek Ini Mendukung Target Kapasitas PGE?
Ketiga kelompok proyek tersebut memiliki potensi penambahan kapasitas yang berbeda, sementara jadwal penyelesaiannya tidak seragam. Karena itu, penilaian terhadap target 1 GW pada 2028 perlu memperhitungkan kapasitas pembangkit yang sudah beroperasi dan proyek yang dapat mulai beroperasi dalam periode tersebut.
Laporan interim PGE per 30 Juni 2026 mencatat kapasitas terpasang yang dikelola langsung perusahaan sebesar 727 MW. Dengan menggunakan angka tersebut sebagai titik awal, secara aritmetika PGE membutuhkan tambahan 273 MW untuk mencapai 1 GW.
Namun, selisih 273 MW itu bukan berarti seluruhnya dapat dipenuhi hanya oleh tiga kelompok proyek yang dibahas. Hululais Unit 1 dan 2 memiliki jadwal operasi komersial 2028 dalam dokumen proyek, sedangkan Lumut Balai Unit 3 dan 4 dijadwalkan menyusul setelah periode tersebut. Lahendong Unit 7 dan 8 juga masih membutuhkan perkembangan lebih lanjut sebelum kontribusinya dapat dipastikan.
PGE turut mengembangkan proyek lain di luar tiga kelompok tersebut, termasuk proyek pemanfaatan panas bumi melalui skema co-generation. Dalam skema ini, pengembangan dilakukan melalui pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung produksi listrik tambahan, termasuk melalui kolaborasi dengan mitra usaha.
Dengan demikian, daftar proyek ekspansi perlu dibaca sebagai bagian dari keseluruhan portofolio pengembangan PGE, bukan satu-satunya sumber tambahan kapasitas. Untuk menilai peluang pencapaian target 2028, data kapasitas setiap proyek dan jadwal operasi terbaru menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.
Mengapa Kapasitas 1 GW Berbeda dengan Produksi Listrik?
Dalam pemberitaan mengenai ekspansi PGE, istilah kapasitas terpasang dan produksi listrik sering muncul bersamaan. Keduanya berkaitan, tetapi mengukur hal yang berbeda.
Kapasitas terpasang dinyatakan dalam megawatt (MW) atau gigawatt (GW), yang menunjukkan kemampuan daya pembangkit. Sementara itu, produksi listrik dinyatakan dalam megawatt hour (MWh) atau gigawatt hour (GWh), yang menunjukkan jumlah energi yang dihasilkan selama periode tertentu.
Sebagai ilustrasi, pembangkit dengan kapasitas 100 MW yang beroperasi pada daya penuh selama 10 jam akan menghasilkan energi sebesar 1.000 MWh. Dalam praktiknya, produksi aktual dapat berbeda karena jadwal pemeliharaan, ketersediaan uap, kondisi fasilitas, dan tingkat operasi pembangkit.
Perbedaan ini penting untuk membaca target PGE. Kapasitas 1 GW pada 2028 tidak otomatis berarti perusahaan akan menghasilkan jumlah listrik tertentu setiap hari. Produksi aktual tetap dipengaruhi oleh kemampuan pembangkit beroperasi dan kondisi teknis masing-masing fasilitas.
Kinerja aset eksisting juga tetap relevan selama ekspansi berlangsung. Dalam narasi kinerja Januari–September 2026, PGE mencatat Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,51% dan Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) sebesar 0,21%. Kedua indikator tersebut memberikan gambaran mengenai keandalan pembangkit, meskipun tidak secara langsung menunjukkan keberhasilan penyelesaian proyek baru.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan perusahaan menjaga keandalan listrik panas bumi melalui pengelolaan reservoir, kesiapan pembangkit, dan pemeliharaan.
“Capaian ini merupakan wujud nyata komitmen kami menjaga keandalan listrik panas bumi. Hasil ini buah dari disiplin mengelola reservoir, kesiapan pembangkit, dan eksekusi pemeliharaan yang semakin efisien,” katanya.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan pentingnya menjaga operasi pembangkit yang telah tersedia sambil menyiapkan kapasitas tambahan. Ekspansi yang berhasil tidak hanya membutuhkan proyek baru, tetapi juga kemampuan mempertahankan produksi dari aset yang sudah beroperasi.
Pendanaan Jadi Faktor Penting dalam Ekspansi PGE
Pengembangan pembangkit panas bumi membutuhkan investasi untuk pekerjaan teknis, pengeboran, pembangunan fasilitas, dan infrastruktur pendukung. Oleh karena itu, strategi pendanaan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam rencana PGE mencapai kapasitas 1 GW pada 2028.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyatakan bahwa sejumlah proyek strategis perusahaan telah masuk Green Book Bappenas 2026. Menurutnya, status tersebut membuka peluang bagi PGE untuk mengakses pembiayaan konsesional dari lembaga pembiayaan internasional.
“Fundamental PGE tetap kuat. Produksi tumbuh di atas target, laba meningkat dua digit, dan neraca kami sehat. Ke depan, kami terus memperluas akses terhadap pembiayaan berbiaya kompetitif,” ujar Fransetya.
Ia juga menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekuitas dan utang serta mempertahankan profil kredit perusahaan.
Akses terhadap pembiayaan berbiaya kompetitif dapat membantu perusahaan mengelola kebutuhan investasi. Namun, masuknya suatu proyek dalam daftar perencanaan pendanaan tidak otomatis berarti dana telah disetujui atau dicairkan. Status pembiayaan dan realisasi investasi tetap perlu dipantau secara terpisah.
Bagi investor, perkembangan pendanaan dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai kesiapan proyek. Informasi mengenai nilai investasi, sumber pembiayaan, progres pembangunan, dan jadwal operasi akan memberikan gambaran lebih utuh daripada target kapasitas saja.
PGE Bidik Kapasitas 1,8 GW pada 2034
Selain target 1 GW pada 2028, PGE menetapkan sasaran peningkatan kapasitas jangka panjang menjadi 1,8 GW. Target tersebut menunjukkan bahwa strategi perusahaan tidak berhenti pada penyelesaian proyek dalam beberapa tahun mendatang, tetapi juga mencakup pengembangan portofolio panas bumi secara berkelanjutan.
Dalam sejumlah materi dan pemberitaan yang tersedia, target jangka panjang ini disebut dengan tahun pencapaian yang berbeda. Narasi utama yang menjadi dasar artikel menyebut 2034, sedangkan beberapa materi resmi PGE menyebut 2033. Karena itu, tahun target final perlu dikonfirmasi melalui dokumen perusahaan terbaru sebelum dipublikasikan sebagai angka definitif.
Untuk mencapai target jangka panjang tersebut, PGE perlu memastikan proyek yang sedang dikembangkan dapat diselesaikan sesuai jadwal, sekaligus mengidentifikasi peluang ekspansi berikutnya. Perusahaan juga perlu menjaga keseimbangan antara penambahan kapasitas, kesiapan pendanaan, dan keandalan pembangkit yang sudah beroperasi.
Pada akhirnya, target kapasitas 1 GW pada 2028 merupakan tolok ukur penting bagi strategi ekspansi PGE. Daftar proyek Lumut Balai, Hululais, dan Lahendong memperlihatkan arah pengembangan perusahaan, tetapi kemajuan aktualnya tetap perlu dinilai berdasarkan kapasitas tambahan, status proyek, dan jadwal operasi yang terverifikasi.
Perkembangan proyek-proyek tersebut akan menjadi salah satu indikator untuk melihat bagaimana PGE menerjemahkan rencana ekspansi menjadi kapasitas pembangkit yang benar-benar beroperasi. Pantau terus perkembangan proyek panas bumi PGE dan industri energi Indonesia untuk mengikuti realisasi target tersebut.
Baca Juga: Geo Dipa Usul PBB Tubuh Bumi Proyek Panas Bumi Dikaji Ulang
Baca Juga: PGEO Lakukan Pengeboran di 5 Sumur Selama 2026
FAQ
1. Berapa target kapasitas panas bumi PGE pada 2028?
PGE menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola langsung mencapai 1 GW pada 2028. Berdasarkan laporan interim per 30 Juni 2026, kapasitas yang dikelola langsung perusahaan tercatat sebesar 727 MW, sehingga secara aritmetika terdapat selisih 273 MW menuju target tersebut.
2. Apa saja proyek panas bumi yang dikembangkan PGE?
Tiga kelompok proyek yang disebut dalam narasi perusahaan adalah Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8. PGE juga mengembangkan proyek lain, termasuk pemanfaatan panas bumi melalui skema co-generation, sebagai bagian dari strategi penambahan kapasitas.
3. Berapa kapasitas Lumut Balai Unit 3 dan 4?
Lumut Balai Unit 3 dan 4 masing-masing dirancang berkapasitas 55 MW, sehingga total potensi kapasitas keduanya mencapai 110 MW. Namun, kedua unit tersebut belum dapat dianggap sebagai kapasitas yang telah beroperasi sebelum penyelesaian pembangunan dan operasi komersialnya terkonfirmasi.
4. Berapa kapasitas Hululais Unit 1 dan 2?
Hululais Unit 1 dan 2 memiliki kapasitas gabungan 110 MW, terdiri atas dua unit masing-masing 55 MW. Dokumen pengembangan PGE mencantumkan target operasi komersial pada 2028, sedangkan laporan interim per 30 Juni 2026 mencatat progres proyek sebesar 87,90%.
5. Apa peran Lahendong Unit 7 dan 8 dalam ekspansi PGE?
Lahendong Unit 7 dan 8 merupakan bagian dari rencana pengembangan kapasitas panas bumi PGE di Sulawesi Utara. Proyek ini tercantum dalam daftar pengembangan perusahaan, tetapi kapasitas dan jadwal operasinya perlu dibaca berdasarkan dokumen proyek terbaru agar kontribusinya terhadap target 2028 tidak diasumsikan secara berlebihan.
6. Apa perbedaan kapasitas terpasang dan produksi listrik panas bumi?
Kapasitas terpasang mengukur kemampuan daya pembangkit dalam MW atau GW, sedangkan produksi listrik mengukur jumlah energi yang dihasilkan selama periode tertentu dalam MWh atau GWh. Pembangkit berkapasitas besar tidak selalu menghasilkan energi pada tingkat maksimum setiap saat karena produksi dipengaruhi kondisi operasi dan ketersediaan fasilitas.
7. Berapa target kapasitas panas bumi PGE pada 2034?
Narasi sumber menyebut PGE menargetkan kapasitas 1,8 GW pada 2034. Namun, beberapa dokumen dan pemberitaan perusahaan menyebut 2033, sehingga tahun target jangka panjang perlu dikonfirmasi kembali melalui dokumen resmi terbaru sebelum digunakan sebagai angka definitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 4Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 6Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 720 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 8Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot






