Mengapa Ada Orang yang Lebih Suka Memendam Perasaan? Ternyata Ini Jawabannya!

AKURAT.CO Tidak semua orang nyaman mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Ada yang memilih diam saat sedih, menahan marah sendirian, atau terlihat baik-baik saja meski hatinya sedang berantakan.
Dalam psikologi, kebiasaan memendam perasaan ini bukan sekadar soal kepribadian, tetapi juga berkaitan dengan pengalaman hidup, pola asuh, dan mekanisme bertahan diri.
Banyak orang mengira sikap diam berarti kuat. Padahal, diam bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang berusaha melindungi dirinya dari luka emosional yang lebih dalam.
Baca Juga: Psikologi di Balik Perselingkuhan: Mengapa Orang Bisa Tergoda?
Mengapa Seseorang Memilih Memendam Perasaan?
Salah satu alasan paling umum adalah takut menjadi beban orang lain. Mereka merasa perasaannya terlalu berat untuk dibagikan, sehingga memilih menyimpannya sendiri. Ada pula yang tumbuh di lingkungan yang tidak terbiasa membicarakan emosi, membuat mereka sulit mengekspresikan apa yang dirasakan.
Selain itu, pengalaman buruk di masa lalu seperti tidak didengarkan, diremehkan, atau disalahkan bisa membuat seseorang belajar bahwa diam terasa lebih aman daripada bicara.
Diam sebagai Mekanisme Pertahanan
Dalam psikologi, memendam perasaan sering menjadi bentuk coping mechanism atau cara bertahan. Diam memberi ilusi kendali dan ketenangan, seolah-olah masalah akan selesai jika tidak dibicarakan. Namun, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Ia hanya tersimpan dan bisa muncul dalam bentuk lain, seperti kelelahan emosional, mudah marah, atau bahkan gangguan fisik.
Menariknya, orang yang memendam perasaan sering terlihat kuat dari luar, padahal di dalamnya sedang berjuang sendirian.
Dampak Memendam Emosi Terlalu Lama
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa berdampak negatif. Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
- Stres berkepanjangan
- Sulit mempercayai orang lain
- Hubungan sosial terasa hambar
- Ledakan emosi yang datang tiba-tiba
Psikologi menekankan bahwa emosi perlu diakui, bukan disangkal. Menyimpan semuanya sendiri justru dapat membuat beban mental semakin berat.
Belajar Mengekspresikan Perasaan dengan Sehat
Mengekspresikan emosi tidak selalu berarti bercerita ke semua orang. Cukup memilih satu orang yang dipercaya, menulis jurnal, atau menyalurkan emosi lewat aktivitas kreatif sudah menjadi langkah awal yang sehat.
Belajar berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja” bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran pada diri sendiri.
Dalam psikologi, diam bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Justru sering kali, orang yang paling pendiam menyimpan emosi paling dalam. Memahami hal ini membuat kita lebih empatik baik pada orang lain maupun pada diri sendiri.
Karena pada akhirnya, kesehatan mental dimulai dari keberanian untuk mengakui apa yang kita rasakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









