Modus Baru Beras Oplosan Terbongkar, Label SPHP Jadi Tameng Penipuan

AKURAT.CO Peredaran beras oplosan kembali terungkap. Kali ini, aparat kepolisian di Riau menemukan beras kualitas rendah yang dikemas dalam karung bermerek SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) milik Perum Bulog.
Temuan ini memicu reaksi keras dari Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Daniel Johan.
Daniel mengecam keras praktik pengoplosan tersebut, yang menurutnya tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga mencederai program pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
"Ini tindakan sangat meresahkan. Masyarakat berhak mendapatkan beras layak konsumsi, bukan produk gagal atau reject yang disulap dan diklaim sebagai beras berkualitas," tegas Daniel, Selasa (29/7/2025).
Ia mendesak Bulog memperketat pengawasan distribusi, khususnya terhadap penggunaan karung SPHP, agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
"Bulog harus memastikan tidak ada kebocoran dalam rantai distribusi, termasuk pemanfaatan karung SPHP secara ilegal. Ini menyangkut kredibilitas program pangan pemerintah," ujarnya.
Selain itu, Daniel juga meminta Satgas Pangan untuk segera turun tangan dan menindak tegas pelaku yang mempermainkan kualitas dan label pangan nasional.
Baca Juga: 160 Guru Mundur dari Sekolah Rakyat, Persoalan Infrastruktur Dasar Jadi Sorotan!
"Satgas Pangan harus bertindak tegas. Jangan beri ruang bagi mafia beras yang hanya mencari untung tanpa peduli pada hak konsumen dan ketahanan pangan nasional," tandas Ketua DPP PKB itu.
Ia menegaskan bahwa Komisi IV DPR RI akan terus mengawal persoalan ini agar tidak terulang di masa depan.
Sebelumnya, Polda Riau membongkar kasus peredaran beras oplosan di Jalan Sail, Kecamatan Rejosari, Pekanbaru, yang melibatkan seorang distributor berinisial R (34).
Barang bukti menunjukkan beras oplosan dikemas menggunakan karung SPHP milik Perum Bulog.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa beras oplosan tersebut bukan berasal dari gudang Bulog.
Pelaku membeli karung SPHP bekas, lalu mengisinya dengan beras murah seharga Rp8.000 per kilogram dari Kabupaten Pelalawan, dicampur dengan beras rusak (reject), dan menjualnya kembali dengan harga hingga Rp13.000 per kilogram di pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






