Akurat Logo

Anak Krakatau Kembali Erupsi, CCTV Rusak Diterjang Material Vulkanik

Saeful Anwar | 5 September 2026, 15:02 WIB
Anak Krakatau Kembali Erupsi, CCTV Rusak Diterjang Material Vulkanik
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. (Tangkap layar Instagram)

AKURAT.CO Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi.

Erupsi bahkan membuat kamera pemantau di sekitar gunung api tersebut mengalami kerusakan setelah terkena lontaran material vulkanik.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati mengatakan, erupsi masih terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Menurutnya, petugas juga masih mendapati indikasi visual berupa cahaya merah menyala dari arah kawah. Namun, tinggi kolom erupsi belum dapat diamati secara langsung.

"Erupsi menerus ini terjadi dalam durasi beberapa jam. Untuk Anak Krakatau, erupsi menerus dengan semburan lava merupakan fenomena yang umum," kata Rita dalam konferensi pers daring, Sabtu (5/9/2026).

Kondisi tersebut membuat pemantauan aktivitas gunung untuk sementara mengandalkan pengamatan langsung dari sejumlah pos pantau.

Berdasarkan laporan Magma Indonesia, CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan mati karena terkena lontaran material erupsi.

"CCTV pengamatan di lapangan OFF terkena lontaran," demikian laporan pengamatan yang diunggah ke Magma Indonesia pada Sabtu.

Selain kerusakan kamera, suara dentuman dan gemuruh dari arah Anak Krakatau juga masih terdengar hingga Pos PGA Pasauran.

Catatan pengamatan kegempaan menunjukkan adanya satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi mencapai 21.600 detik.

Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif tipe A.

Aktivitasnya telah berulang kali tercatat mengalami erupsi, termasuk rangkaian aktivitas yang berkaitan dengan bencana besar Krakatau pada 1883.

Untuk aktivitas terkini, erupsi terakhir sebelum kejadian terbaru tercatat pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, PVMBG menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga dan status tersebut masih berlaku hingga kini.

PVMBG menyebut potensi bahaya yang perlu diwaspadai saat ini terutama berasal dari aliran lava serta kemungkinan lontaran batu pijar.

Meski aktivitas erupsi meningkat dan memunculkan kekhawatiran di masyarakat, PVMBG memastikan kondisi Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan potensi tsunami.

Rita menjelaskan, tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah erupsi dan tsunami pada Desember 2018 masih tergolong kecil.

Karena itu, belum terdapat indikasi keruntuhan tubuh gunung dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

"Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujarnya.

Baca Juga: Harris Turino: Kejahatan Perbankan Juga Harus Masuk RUU Perampasan Aset

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.