Polemik Tuduhan Plagiarisme Lagu 'Baby Shark', Ini Alasan Komposer AS Kalah di Pengadilan

AKURAT.CO Lagu "Baby Shark" yang viral terdengar lucu dan imut-imut, telah banyak mewarnai keceriaan anak-anak di seluruh dunia. Tetapi bagi Jonathan Wright, popularitas lagu Baby Shark justru membuatnya tidak tidur nyenyak. Ia merasa 'Baby Shark' versi perusahaan rintisan Korea Selatan, Pinkfong, telah menjiplak karyanya. Polemik lagu "Baby Shark" terkait isu plagiarisme pun terangkat ke publik.
Sayangnya Wright harus gigit jari. Ia kalah di meja hijau. Dalam perkembangan terbaru, Pengadilan telah menolak gugatan hak cipta oleh yang ia ajukan. Lagu 'Baby Shark' yang ia persoalkan, tidak terbukti sebagai karya plagiat.
Komposer yang berbasis di New York itu mulanya menuntut ganti rugi sebesar 30 juta won (sekitar Rp 349 juta), dengan klaim bahwa versi 'Baby Shark' tahun 2015 Pinkfong, yang sebelumnya dikenal sebagai SmartStudy, merupakan plagiarisme dari lagu yang dirilisnya pada tahun 2011.
Namun, pengadilan menguatkan putusan dari tahun 2021 dan 2023 yang menyatakan bahwa versi lagu Wright – yang telah beredar di AS selama beberapa dekade sebagai nyanyian api unggun atau nyanyian anak-anak – tidak cukup orisinal untuk menjamin perlindungan hak cipta.
"Dalam kasus lagu baru yang didasarkan pada lagu yang sudah ada sebelumnya, seseorang perlu menambahkan revisi yang memadai agar lagu tersebut diterima secara sosial sebagai karya baru, agar dapat dilindungi sebagai materi berhak cipta," kata pengadilan, menurut The Korea Herald.
"Perubahan kecil yang ditambahkan pada materi asli tidak dapat dianggap sebagai karya kreatif asli, dan dengan demikian tidak dapat dilindungi oleh undang-undang hak cipta."
Sejarah Lagu Baby Shark: Lagu Tradisional yang Sudah Jadi Domain Publik
Keputusan tersebut berpusat pada prinsip bahwa lagu-lagu daerah yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai tradisi lisan adalah milik publik, dan hanya versi yang menunjukkan modifikasi kreatif substansial yang dapat memenuhi syarat untuk perlindungan hak cipta sebagai karya turunan.
Dalam sebuah pernyataan kepada Associated Press, Pinkfong mengatakan keputusan tersebut menegaskan kembali bahwa versi "Baby Shark" mereka didasarkan pada "nyanyian bersama tradisional" yang sudah ada di ranah publik dan bahwa mereka telah menata ulangnya dengan aransemen baru, memberinya "ritme yang ceria dan melodi yang menarik, menjadikannya ikon budaya pop seperti sekarang ini".
Pengacara Wright dari Korea Selatan, Chong Kyong Sok, menggambarkan hasil tersebut sebagai "sedikit mengecewakan", tetapi mengakui bahwa masalah tersebut kini telah terselesaikan.
"Pokoknya, masalahnya sudah selesai," ujarnya kepada para wartawan. "Usaha kamilah yang keluar lebih dulu, jadi kami bisa mengurus perizinannya sendiri, dan saya rasa kami akan melanjutkannya sendiri-sendiri."
Versi Pinkfong dari "Baby Shark" telah menikmati popularitas yang luar biasa. Video pertama mereka di tahun 2016 telah ditonton lebih dari 16 miliar kali di YouTube dan menduduki peringkat ke-32 di Billboard Hot100.
Versi Pinkfong menampilkan vokal penyanyi Korea-Amerika berusia 10 tahun, Hope Segoine, dan dibintangi dua aktor cilik, Park Geon Roung dari Korea Selatan dan Elaine Kim Johnston dari Selandia Baru, yang gerakan tariannya turut mendorong video tersebut menjadi viral.
Sejak itu, video ini telah berkembang menjadi waralaba yang menampilkan karakter BabyShark bersama Mama, Papa, Nenek, dan Kakek, menggabungkan acara TV, film, aplikasi seluler, tur musikal, dan pemasaran yang luas. Semua ini telah berkontribusi pada pendapatan Pinkfong sekitar 45,1 miliar won (sekitar Rp 522–524 triliun) pada paruh pertama tahun 2025 saja.
Lagu ini juga mendorong terciptanya #BabySharkChallenge, yang menghasilkan lebih dari 700.000 video cover di seluruh dunia.
Dalam sebuah wawancara tahun 2019 dengan lembaga penyiaran publik Kanada, CBC, Wright mengatakan bahwa ia sengaja menulis ulang nyanyian 'Baby Shark' agar lebih cocok untuk anak-anak, dengan menghilangkan referensi mengerikan tentang serangan hiu dalam versi-versi yang populer di perkemahan musim panas dan forum daring. Ia mengklaim sebagai orang pertama yang mengambil pendekatan ini dan mengatakan versi Pinkfong mengikuti struktur yang serupa. "Pada dasarnya, versi Pinkfong melakukan hal yang sama," ujarnya kepada CBC.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








